Berita » Geliat Porang di Bumi Nggahi Rawi Pahu

Porang akan menjadi komoditas alternatif di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), selain jagung dan padi. Demikian ungkap Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), H. Muhammad Syafrudin, S.T., MM., yang akrab disapa HMS, dalam sambutannya sebelum menyerahkan bantuan bibit porang sebanyak 45.000 dan membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) peningkatan kapasitas bagi petani millenial dan petani di Kabupaten Dompu. Lebih lanjut HMS berharap bibit porang varietas Madiun 1 yang diperbantukan dapat meningkatkan taraf hidup dan memicu pengembangan porang di Provinsi NTB, khususnya di Kabupaten Dompu.

Pemateri bimtek dari Balitkabi

Pemateri bimtek dari Balitkabi

Bimtek dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2021 di Desa Hu’u, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Provinsi NTB dengan 50 peserta yang terdiri dari penyuluh pertanian, santri tani, dan petani millenial se-Kabupaten Dompu. Bimtek dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Wakil Bupati Dompu, H. Syahrul Parsan, S.T., MM., dalam sambutannya mengatakan “Kami masyarakat Dompu berterimakasih kepada HMS yang selalu memperhatikan Kabupaten Dompu, khususnya dalam mendukung program pemerintah Dompu di bidang pertanian yang dikenal dengan sebutan Jara Pasaka (Jagung, Porang, Padi, Sapi, Ikan) yang diyakini selain dapat meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, juga mampu mengembalikan fungsi hutan”. Lebih lanjut dikatakan, program pengembangan porang tentu mampu menjadi penopang dalam upaya melestarikan fungsi hutan di Kabupaten Dompu. Diinformasikan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Dompu mendorong penanaman porang di lahan lereng Gunung Tambora. Pada tahun 2021 ditargetkan pengembangan tanaman porang mencapai 500 ha, dan hingga 2023 diharapkan telah tertanam porang seluas 3.000 ha di Kabupaten Dompu.

“Potensi pengembangan porang di Kabupaten Dompu sebesar 5.855 ha, 1.400-an ha diantaranya telah ditanami porang” ujar Syahrul selaku Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu. Dua Balai Penyuluh Pertanian (BPP) telah melaksanakan demplot pengembangan porang, akan menyusul BPP lainnya. Syahrul meyakinkan masyarakat bahwa prospek tanaman ini sangat bagus kedepan. Empat tahun belakangan porang sudah ditanam di NTB, namun perkembangannya relatif lambat. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan porang di NTB adalah keterbatasan dan mahalnya bibit. “Kami mengambil bibit dari Sulawesi, dikarenakan belum banyak tersedia di NTB sendiri, sehingga belum banyak petani yang bisa menanamnya”, tuturnya. Harapannya, dengan bantuan bibit yang telah diberikan serta penyampaian materi Bimtek porang akan menarik minat petani lain dalam pengembangan porang di NTB.

Pemaparan materi oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Dompu

Pemaparan materi oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Dompu

Direktorat Akabi yang diwakili Arif Muliyawan, S.P., M.Ap. berharap bahwa bantuan yang disampaikan untuk pengembangan porang seluas 2 ha melalui HMS akan berkembang menjadi sumber benih. Semoga kedepan porang bisa berkembang dengan baik dan Kabupaten Dompu mampu menghasilkan dan menjadi sentra bibit porang di Pulau Sumbawa. Semoga kedepan Dompu mampu terus menghasilkan bibit yang berkualitas dan mampu melepas varietas lokal Dompu.

Penyerahan bantuan benih porang (kiri) dan peserta bimtek porang (kanan)

Penyerahan bantuan benih porang (kiri) dan peserta bimtek porang (kanan)

Pada kesempatan tersebut, Balitkabi menyampaikan materi Teknologi Budidaya Tanaman Porang (Amorphophallus muelleri Blume). Dalam paparannya, Amri Amanah, S.P., M.Sc. menyampaikan cara budidaya tanaman porang, dan syarat-syarat tumbuh porang, antara lain ketersediaan air selama fase pertumbuhan, pengolahan lahan agar porang tumbuh dengan optimal, pH netral (pH 6-7), intensitas matahari tidak terlalu tinggi, dan toleransi naungan 60-70%. Porang mampu beradaptasi luas pada ketinggian 0 hingga lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut, dan optimal di ketinggian 400-600 mdpl. Dipaparkan juga asal benih, pemupukan organik dan anorganik terkait waktu dan dosis, pembersihan gulma, hama dan penyakit yang sering muncul pada porang.

SM/AA