Berita » Good Agricultural Practices sebagai Perangkat Lunak Pertanian Modern

good

Seminar dengan tema “Good Agricultural Practices (GAP) Budidaya dan Produk Pertanian dan Perkebunan” dengan narasumber Prof. Dr. Sumarno telah diselenggarakan di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) pada 17 Oktober 2019. Balitkabi mengirimkan Ir. Nila Prasetiaswati, Intarti, S.P., Marida Santi YIB, M.Agr., Rina Artari, M. Biotech., dan Sri Ayu Dwi Lestari, S.P. untuk mengikuti undangan seminar tersebut.

Disampaikan oleh Dr. Sumarno, Good Agricultural Practices (GAP) atau Norma Budi daya Baik (NBB) adalah penerapan sistem sertifikasi proses produksi pertanian, menekankan adopsi teknologi maju ramah lingkungan, produk panen aman konsumsi, sistem produksi berkelanjutan, keanekaragaman hayati terjaga, kesejahteraan pekerja diperhatikan, usahatani menguntungkan, dan konsumen memperoleh jaminan mutu produk, serta produk bisa dilacak asal usulnya.

Menurut Sumarno alasan perlu dilakukannya GAP adalah : 1) untuk koreksi terhadap kelemahan teknologi Green Revolution dan pertanian modern yang dinilai bersifat eksploitatif terhadap hara tanah dan sumberdaya lahan pertanian; tidak menjamin keberlanjutan sistem produksi; kurang peduli terhadap penurunan mutu lingkungan dan keanekaragaman hayati; kontaminasi polusi dan residu kimia pada air, produk panen, pekerja lapang; menghilangkan mikroba berguna melalui penggunaan pestisida berlebihan; menggunakan sarana produksi kimiawi berlebihan; ketergantungan petani terhadap sarana asal luar usahatani; pekerja lapang terpapar pestisida; dan pemiskinan keanekaragaman hayati dan keragaman genetik tanaman, 2) mencegah kontaminasi bodi air dan lahan oleh pestisida herbisida, 3) pencemaran lingkungan, tanah, air, dan produk panen oleh logam berat, 4) kurang terkendalikannya efek gas rumah kaca (GRK) dari sistem usahatani, 5) diperlukan sertifikat GAP pada perdagangan internasional, 6) tumbuhnya kesadaran konsumen akan produk aman konsumsi, 7) tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap mutu lingkungan, keberlanjutan produksi dan eco produk, 8) tuntutan terhadap hak dasar pekerja pertanian, keselamatan, dan kesejahteraanya, serta 9) kebutuhan dalam sistem produksi barang modern, seperti ISO, GMP, GIP, dan sebagainya.

Lebih lanjut dikemukakan Sumarno, sepuluh (10) komponen GAP yaitu: (1) sistem sertifikasi proses produksi (jaminan mutu, dapat dirunut asal-usul), (2) adopsi teknologi maju, (3) budidaya ramah lingkungan,(4) produk aman konsumsi, (5) sistem produksi berkelanjutan, (6) keanekaragaman hayati terjaga, (7) kesejahteraan pekerja diperhatikan, (8) usahatani menguntungkan, (9) jaminan mutu produk, dan (10) usahatani bermanfaat bagi masyarakat. Penerapan GAP pada usaha pertanian harus berlandaskan modal kebajikan, tanggung jawab, dan partisipasi aktif antara produsen – pedagang – konsumen dengan menerapkan konsep usahatani yang berprinsip win-win solution.

Dijelaskan Sumarno, GAP pada tanaman pangan/hortikultura/perkebunan merupakan perangkat lunak sistem produksi pertanian modern, persyaratan non-tarif barrier (NTB) pada pasar global, persyaratan untuk ekspor/impor produk pertanian, jaminan secara legal keamanan konsumsi dan mutu pangan (food safety and quality assurance), jembatan (bridging the gap) antara agrikulturis (pembina pertanian) dengan environmentalis (pemerhati lingkungan) secara win-win solution, pelaksanaan (enforcement) teknik pertanian berwawasan ekologis dan produk aman konsumsi, kerjasama antara produsen, pedagang/pengolah, dan konsumen, serta partisipasi konsumen dalam memproduksi pangan yang aman dan ramah lingkungan.

Suasana seminar GAP Budidaya dan Produk Pertanian dan Perkebunan di Balittas, 17 Oktober 2019

Suasana seminar GAP Budidaya dan Produk Pertanian dan Perkebunan di Balittas, 17 Oktober 2019

Peserta dari Balitkabi berfoto bersama Prof. Dr.Sumarno dan Kepala Balittas Dr. Titik Sundari

Peserta dari Balitkabi berfoto bersama Prof. Dr.Sumarno dan Kepala Balittas Dr. Titik Sundari

Tahap penyusunan GAP komoditas dijelaskan oleh Sumarno yaitu: (1) identifikasi teknologi maju adaptif lingkungan, (2) inventarisasi faktor produksi, lahan, tanah, air, sarana, proses, tenaga kerja, (3) inventarisasi kemungkinan terjadinya masalah terkait lingkungan, mutu SDLP, mutu/konsumsi produk, tenaga kerja, keberlanjutan, (4) menyusun ketentuan yang harus dipenuhi pada setiap faktor produksi yang disebut titik kendali, (5) membedakan kepatuhan adopsi setiap titik kendali menjadi 1) wajib (major must), 2) dianjurkan (minor must), dan 3) disarankan (recommended).

Di akhir paparannya Sumarno menyampaikan GAP dan sertifikasi GAP menjadi salah satu syarat perdagangan internasional, sebagi jaminan mutu, eco labelling, keberlanjutan, dan kesejahteraan pekerja. Petani produsen, pengolah, pedagang, dan konsumen diminta ikut bertanggung jawab atas tujuan mulia tersebut. Dihimbau oleh FAO untuk merintis GAP diterapkan pada negara produsen. Thailand dan Vietnam telah mulai menerapkan GAP sejak tahun 2008/2010 pada tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan. Penerapan GAP suka atau tidak suka adalah ketentuan dalam perdagangan internasional. Saat ini dan ke depan GAP merupakan perangkat lunak pertanian modern. Sistem sertifikasi produksi diberi nama berbeda-beda tetapi cara dan tujuannya sama seperti : Better Management Practice, Better Crop Inisiative, dan lainnya.
NP, I, MSYIB, RA, SADL