Berita ยป Hamparan Kacang Hijau di Sumenep

artaPulau Madura dikenal sebagai salah satu pusat produksi kacang hijau (bahasa Madura = Arta) di Indonesia. Jika melihat fakta sejarah, pada tahun 1954 dilepas varietas kacang hijau kedua di Indonesia yaitu Varietas Arta Ijo, yang merupakan hasil seleksi varietas lokal Sumenep.

Saat ini pada lahan kering di Kecamatan Pragaan, Bluto, dan Saronggi di Kabupaten Sumenep, petani sedang membudidayakan kacang hijau. Umur tanaman beragam dari sekitar 15 hari hingga siap untuk dipanen. Pada beberapa daerah, pada awal musim penghujan ditanami jagung dan dilanjutkan dengan penanaman kacang hijau. Pada lahan yang pada awal musim penghujan ditanami kacang hijau, saat ini berada pada fase siap dipanen.

Sebagian besar petani masih menggunakan varietas kacang hijau lokal yaitu Moro Pote (warna kulit biji kuning) dan Moro Celeng (warna kulit biji hitam). Menurut Ibu Rodi (Sendang, Pragaan), untuk luasan sekitar 1/10 ha menghabiskan benih 3 kg, agar populasi tanaman cukup padat. Harga benih adalah Rp18.000/kg yang diperoleh dari pasar. Panen dilakukan tiga kali dengan hasil panen pertama 40 kg, kedua 30 kg dan panen terakhir 30 kg, atau setara dengan 1 t/ha.

Hamparan kacang hijau di Sumenep, 31 Maret 2018.

Hamparan kacang hijau di Sumenep, 31 Maret 2018.

Varietas Moro Pote memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan Varietas Moro Celeng, dan jika bijinya dimasak, lebih cepat lunak dibanding dengan biji dari kacang hijau Moro Celeng. Kelemahan Moro Pote, jika polong tidak cepat dipanen dan terjadi hujan, maka biji mudah untuk tumbuh. Moro Celeng lebih tahan terhadap penundaan panen jika terjadi hujan.

Mengingat Pulau Madura memiliki potensi pengembangan kacang hijau, saatnya diintroduksikan varietas unggul kacang hijau.

MMA