Berita ยป Harapan dari Ponorogo, tanah kelahiran Gepak Kuning dan Ijo

Hamparan pertanaman Gepak kuning di Jetis Ponorogo, 2020

Hamparan pertanaman Gepak kuning di Jetis Ponorogo, 2020

Tidak dipungkiri, Indonesia yang berada di lintasan khatulistiwa, memiliki beragam sumberdaya genetik, termasuk kedelai. Varietas kedelai Gepak Kuning dan Gepak Ijo, lahir dari kota Ponorogo Jawa Timur. Keduanya diseleksi dari varietas lokal yang sudah ditanam petani sejak puluhan tahun yang lalu. Pada tahun 2008, kedua varietas lokal tersebut dilepas oleh Kementerian Pertanian, melalui tim pemulia Balitkabi yang berperan dalam proses pelepasan varietas tersebut.

Karakteristik agronomis dari kedua varietas tersebut adalah ukuran biji kecil sekitar 8 g/100 bijinya dan umurnya tergolong genjah hanya sekitar 75 hari. Keunggulannya adalah sesuai untuk bahan baku tahu dan juga sesuai untuk bahan baku taoge. Konon, rendemen tahunya bisa mencapai 400 %, artinya 1 kg kedelai Gepak mampu menghasilkan tahu basah seberat 4 kg. Tidak heran hingga saat ini, Gepak Kuning dan Gepak Ijo masih menjadi idola petani di Ponorogo.

Sejalan dengan program double track yang digaungkan Dr. Haris Syahbuddin, DEA (Sesba Balitbangtan) bahwa inovasi dan teknologi hasil Balitbangtan diharapkan selalu berorientasi pada publik domain dan industri domain. Di Ponorogo sejak dahulu telah ada industri tahu tempe, dan di sana pula asal kedua varietas kedelai Gepak kuning dan Gepak Ijo diseleksi, dimurnikan hingga kemudian dilepas sebagai varietas unggul kedelai. Pengembangan Gepak kuning dan Gepak ijo di Ponorogo diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sana.

Bapak M. Suhut misalnya, seorang petani di Jetis Ponorogo hingga saat ini masih tetap menanam varietas Gepak Kuning. Hal yang sama juga dilakukan oleh petani-petani di kawasan Jetis Ponorogo. Dengan luas garapan 400 boto (1 ha = 700 boto), penuturan Pak Suhut menghabiskan benih tidak sampai 1 Dangan (1 Dangan sekitar 9-10 kg) atau 1 ha membutuhkan benih sekitar 60 kg. Benih kedelai disimpan dari tanaman sebelumnya. Sedangkan tambahan pupuknya mengandalkan pupuk cair.

Kunci sukses bertanam kedelai di wilayahnya menurut Suhut adalah pada pengairan. Saat ini (awal Agustus 2020) kedelai berumur sekitar 3 minggu. Untuk menghasilkan biji kedelai sebanyak 360 kg per 100 boto (setara 2,50 t/ha), diperlukan paling tidak 6 kali pengairan. Alasan Pak Suhut, dengan pengairan yang demikian maka polong menjadi mentes (bernas). Harga jual pada saat panen raya kedelai sekitar Rp. 8.800/kg. Menutup obrolan di lapang, Pak Suhut menambahkan petani di sini sudah terbiasa bertanam kedelai dengan larikan, tidak disebar.

Semoga berhasil Pak Suhut, juga petani kedelai di tempat lain di pelosok Indonesia. Semoga VUB Kedelai kian berkembang di dalam negeri dan mampu menyokong kebutuhan kedelai nasional.

M. Suhut, petani Gepak Kuning di Jetis Ponorogo

M. Suhut, petani Gepak Kuning di Jetis Ponorogo

Hamparan  Gepak Kuning di Jetis Ponorogo

Hamparan Gepak Kuning di Jetis Ponorogo

MMA