Berita ยป Hasil Working Group Meeting Asia dan SADI Diseminarkan

1-aaanov

Para peneliti Balitkabi terus berusaha mengkomunikasikan kegiatan penelitian yang dilakukan. Seminar kedua di tahun 2013 ini, diselenggarakan Senin, 7 Januari 2013, di ruang seminar utama dan dihadiri oleh para peneliti. Kegiatan yang dikomunikasikan adalah hasil working group meeting tingkat Asia untuk penyakit layu bakteri dan busuk batang pada kacang tanah yang disampaikan oleh Dr. Novita Nugrahaeni dan kegiatan small agribusiness development initiative (SADI) yang disampaikan oleh Dr. A.A. Rahmianna.

Dalam paparannya, Dr. Novita menyampaikan bahwa working group meeting ini merupakan pertemuan yang dilaksanakan di Bangkok Thailand, 11 dan 12 Desember 2012 yang terselenggara atas inisitaif pemerintah China dan dikoordinasi ICRISAT, India. Peserta pertemuan adalah peneliti kacang tanah (pemulia dan penyakit tanaman) lima negara, yaitu China (2 orang), India (6 orang), Indonesia (2 orang), Thailand (2 orang), dan Vietnam (2 orang). Pertemuan dibuka oleh Direktur FRI (Food Crop and Renewable Energy Institute), Thailand. Pada hari pertama, masing-masing negara menyampaikan review status dan kemajuan penelitian penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busuk batang (Sclerotium rolfsii), dan penyakit tular tanah penting lainnya pada kacang tanah. Pada hari kedua dilakukan diskusi area kerjasama penelitian yang akan dilakukan oleh masing-masing negara peserta, dan presentasi rencana kegiatan.


Dr. Rahmianna memaparkan bahwa dalam SADI, terdapat tiga program utama yaitu micro financing (merupakan program pertama), research (program kedua), dan capacity building (program ketiga). Dalam proyek ini, Balitkabi terlibat terutama pada program kedua dengan kacang tanah dan kacang hijau sebagai proyek utamanya. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan produktivitas dan keuntungan dari budidaya kacang-kacangan tropis di Indonesia dan Australia. Penekanan peningkatan produksi dan keuntungan adalah dengan penggunaan varietas unggul baru dan manajemen budidaya yang cost-effective. Tujuan lain adalah peningkatan strategi sistem perbenihan yang berlanjut dan efisien termasuk evaluasi kualitas benih dan teknologi perlakuan benih yang baru di Indonesia dan Australia. Tidak kalah pentingnya adalah membangun kerjasama antarinstitusi tingkat nasional dan provinsi (Balitkabi, BPTP, Dinas Pertanian, dan Universitas) serta industri di NTB dan NTT untuk mendukung keberlanjutan penelitian di lapang di Indonesia. Program ketiga (capacity building) mencakup training peneliti Indonesia ke Australia, kunjungan penangkar benih dari NTB ke Balitkabi, training produksi benih (kacang tanah dan kacang hijau) dan beasiswa pascasarjana ke Australia.

Eri/AW