Berita » Implikasi Praktis Rencana Perbaikan SNI 01-39222-1995 Kedelai

Sejalan dengan perkembangan perdagangan nasional maupun antarnegara, tuntutan persyaratan keamanan pangan dalam era perdagangan bebas, juga untuk melindungi konsumen sekaligus untuk memberikan panduan bagi produsen, maka beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI) perlu ditinjau ulang untuk perbaikan. Demikian juga untuk SNI 01-39222-1995 Kedelai, yang sudah berusia 20 tahun. Untuk itu, Balitkabi ikut serta memberikan masukan untuk bahan revisi SNI tersebut pada “Rapat persiapan pengambilan contoh dan pengujian kesesuaian mutu teh dan Kedelai” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil, di Jakarta tanggal 24 Januari 2015.
Pada bagian syarat umum dari SNI 01-39222-1995 butir 5.1c) persyaratan “Bebas dari bahan kimia seperti: insektisida dan fungisida” yang saat ini masih bersifat kualitatif. Butir ini akan merujuk pada SNI tentang batas aman cemaran bahan kimia (inseksida) yang diijinkan pada produk pertanian. Antisipasai dampak yang timbul dari rencana perbaikan SNI kedelai tersebut, bagi Balitkabi dan penghasil kedelai adalah perlunya data dukung bahwa semua paket teknologi produksi kedelai yang telah dan akan dihasilkan masih pada batas aman cemaran bahan kimia (insektisida).

Di samping berupaya untuk memberi jaminan mutu bahwa paket teknologi produksi kedelai yang telah dan akan dihasilkan masih pada batas aman dari cemaran bahan kimia (insektisida), Balitkabi mengusulkan kadar protein juga dimasukan sebagai komponen mutu kimia di samping tetap atau memperbaiki komponen mutu fisik kedelai jika persyaratan umum hingga mencapai empat kelas mutu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi nyata di lapangan. Demikian pula dengan ukuran biji, terutama biji besar (≥14 g/100 biji) sesuai untuk bahan baku tempe, sementara untuk tahu, susu kedelai dan kecap ukuran biji tidak menjadi masalah.

I K. Tastra/AW