Berita » Jagung PRG Toleran Glifosat: Atasi Gulma dan Tingkatkan Hasil

Dr Yusmani Prayogo memaparkan protocol trial jagung PRG toleran glifosat kepada audien (kiri) dan Dr Suharsono (Balitkabi) memaparkan saran dan masukan untuk pelaksanaan percobaan (kanan).Dr Yusmani Prayogo memaparkan protocol trial jagung PRG toleran glifosat kepada audien (kiri) dan Dr Suharsono (Balitkabi) memaparkan saran dan masukan untuk pelaksanaan percobaan (kanan).

Jagung PRG toleran glifosat merupakan salah satu hasil produk rekayasa genetik dari PT Branita Sandhini (MONSANTO) yang dikenalkan di Indonesia. PT Branita Sandhini kali ini mengada­kan kerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan (Balitkabi) untuk melakukan kajian dampak aplikasi glifosat pada lahan jagung terhadap kelimpahan mikroba tanah, mesofauna, arthropoda serta kelimpahan parasitoid telur hama penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis.

Kegiatan penelitian ini dipercayakan PT Branita Sandhini Ke Balitkabi yang kedua kalinya. Yang pertama adalah kegiatan riset kelimpahan arthropda di lahan uji terbatas produk jagung PRG toleran penggerek batang jagung O. furnacalis. Sosialisasi risiko komunikasi selalu dilakukan oleh pihak PT Branita Sandhini sebelum melakukan penelitian di lapangan. Hal ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi agar produk yang dihasilkan dapat direkomendasi oleh tim keamanan lingkungan TTKHKP. Tiga pemakalah yang mempresentasikan dalam sosialisasi komunikasi risiko jagung PRG toleran glifosat di Balitkabi; (1) Prof Dr Bambang Sugiharso dari Unej (Jember) yang memaparkan Biotecology: Basic concept, adoption and benefit, (2) Insect resistance & herbicide oleh Ir Redy Kurniawan dari perwakilan PT Branita Sandhini, dan (3) Dr Yusmani Prayogo dari Balitkabi memaparkan Protocol Trial yang akan dilakukan di KP Jambegede (Balitkabi).

Dr Yusmani Prayogo memaparkan protocol trial jagung PRG toleran glifosat kepada audien (kiri) dan  Dr Suharsono (Balitkabi) memaparkan saran dan masukan untuk pelaksanaan percobaan (kanan).Dr Yusmani Prayogo memaparkan protocol trial jagung PRG toleran glifosat kepada audien (kiri) dan  Dr Suharsono (Balitkabi) memaparkan saran dan masukan untuk pelaksanaan percobaan (kanan).

Saat diskusi, cukup banyak pertanyaan, namun karena keterbatasan waktu maka hanya diwakili tiga penanya. Pertanyaan sekaligus masukan yang disampaikan peserta riskom kepada pemakalah antara lain; (1) herbisida sulit terurai dan mengakibatkan porus, apabila masuk ke dalam tanah yang banyak mengandung bahan organik sehingga menjadi masalah, (2) pengujian jagung toleran glifosat harus mendapatkan sertifikat lingkungan, bagaimana apabila aplikasi herbisida sebelum ada gulma (mekanisme kerja di dalam tanah), (3) gulma yang sudah mati dan biomas sudah mengering akibat herbisida bagaimana, (4) herbisida adalah racun sehingga akan mencemari air tanah, (5) bagaimana program PT Branita Sandhini terhadap keanekaragaman plasma nutfah sehubungan dengan dilepasnya jagung toleran glifosat, (6) diprediksi produk jagung PRG NK603 toleran glifosat di tingkat petani sulit diadopsi karena kepemilikan lahan yang sempit, (7) berapa besar keragaman gulma yang ada di lahan apabila lahan tanpa olah tanah (TOT), (8) rancangan penelitian yang di proposal sebaiknya menggunakan split plot bukan RAK sehingga nanti akan memperoleh data yang lebih akurat.

Prof Dr Bambang Sugiharso dari Unej memaparkan Biotechnology: Basic Concept, Adoption and Benefit (kiri) dan Ir Redy Fajar Kurniawan dari PT Branita Sandhini menjelaskan produk jagung toleran glifosat (kanan).

Produk jagung PRG toleran glifosat ini di Amerika sudah dikomersialkan lebih dari 23 tahun yang lalu, namun di Indonesia masih harus melewati berbagai kajian untuk memperoleh sertifikat yang menyatakan aman sebagai pangan, pakan, dan juga aman terhadap lingkungan. Jagung PRG ini telah disisipi gen CP4 EPSPS yang berasal dari Agrobacterium spp. strain CP4. sehingga tanaman toleran terhadap senyawa herbisida glifosat karena pada jagung PRG ada kandungan enzim CP4 EPSPS. Sementara itu, pada tanaman konvensional, senyawa glifosat dari aplikasi herbisida menghambat aktivitas enzim EPSPS dan dapat menghentikan proses biosintesis asam amino aromatik sehingga tanaman berhenti tumbuh dan mati. Dengan produk ini masalah gulma di lahan jagung yang selama ini menjadi kendala dalam usaha penyiangan dapat teratasi dengan mudah. Selain itu, dengan keterbatasan tenaga kerja sekarang ini dan masa-masa yang akan datang, jagung PRG toleran glifosat memberikan terobosan baru sehingga efisien penggunaan tenaga kerja dan meningkatkan hasil karena kehilangan produksi akibat gulma tidak terjadi. Oleh karena itu, jagung PRG toleran glifosat memberikan kontribusi yang sangat besar sehubungan dengan swasembada jagung yang menjadi salah satu program empat sukses Kementan.

Yusmani P / AW