Berita » Jajagi Peluang Kerjasama Ubi Jalar, Pengusaha Malaysia Datangi Balitkabi

tamu

Direktur perusahaan Agrownas Sdn.Bhd. Mr. Mohd Fozi Kamaruddin beserta tim, perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, mitra dari Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) berkunjung ke Balitkabi pada Jumat tanggal 2 Agustus 2019. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengetahui kegiatan penelitian ubi jalar di Indonesia, mencari informasi mengenai varietas-varietas unggul ubi jalar, cara budi daya, dan peluangnya untuk dikembangkan di Malaysia.
Kunjungan tersebut diterima oleh Prof. Ir. Made Jana Mejaya, Ph.D. mewakili Bapak Kepala Balitkabi, Dr. Kartika Noerwijati, dan tim peneliti ubi jalar Dr. Febria Cahya Indriani, M.P. serta Joko Restuono, S.P. Acara berlangsung sekitar dua jam, diawali penjelasan profil Balitkabi oleh Dr. Kartika, presentasi kegiatan penelitian ubi jalar oleh tim peneliti ubi jalar dan dilanjutkan diskusi.

tamu

Mr. Fozi menjelaskan bahwa di Malaysia saat ini sangat kekurangan varietas ubi jalar. Varietas yang berkembang di masyarakat hanya sekitar lima varietas saja. Sementara minat masyarakat mengkonsumsi ubi jalar cukup tinggi terutama ubi jalar yang manis. Saat ini Mr. Fozi mengembangkan varietas Anggun 1 dan Anggun 2 yang memiliki produktivitas sekitar 30 t/ha namun rasanya kurang manis karena warna daging umbinya ungu. Ubi jalar ungu kurang diminati masyarakat untuk konsumsi langsung. “Sehingga tujuan kunjungan kami ke Balitkabi ini adalah untuk mengetahui lebih jauh varietas ubi jalar yang ada di Balitkabi,” kata Mr. Fauzi. Jika memungkinkan kami ingin mengembangkan varietas ubi jalar rasa manis dan potensi hasil tinggi, lanjut Mr. Fozi. Mr. Fozi. Konsumen Malaysia mempunyai minat cukup tinggi terhadap ubi jalar rasa manis. Ubi jalar manis harganya mahal bahkan di Malaysia bisa mencapai Rp. 25.000 – 35.000 per kg.
Balitkabi saat ini sedang melakukan kegiatan pemuliaan ubi jalar dengan kadar gula tinggi dan mempunyai daya adaptasi luas yang pada tahun 2020 direncanakan untuk uji adaptasi di beberapa wilayah di Indonesia. Mereka ingin mengembangkan ubi jalar manis yang bisa beradaptasi luas, selain itu mereka sangat tertarik dengan varietas ubi jalar ungu dan orange yang banyak mengandung antosianin dan betakaroten yang telah dirilis oleh Balitkabi dan produk produk olahan dari bahan baku ubi jalar.
Selama ini mereka biasanya mendatangkan varietas-varietas baru dari Jepang dan Australia. Mereka menyampaikan kendala utama pada budi daya ubi jalar di Malaysia adalah tenaga kerja, dengan jumlah penduduk sekitar 30 juta, semakin sulit untuk mencari tenaga kerja di bidang pertanian.
Acara kunjungan dilanjutkan dengan melihat koleksi plasma nutfah ubi jalar di Balitkabi, dan mereka sangat tertarik dengan keanekaragaman plasma nutfah ubi jalar. “Saya sangat berterima kasih atas penerimaan kunjungan yang sangat baik ini,” kata Mr. Fozi. Selain informasi dan pengetahuan mengenai ubi jalar di Indonesia, mereka sangat berharap bisa terjalin kerjasama dengan Balitbangtan di masa mendatang. Prof. Made menyampaikan bahwa Balitkabi terbuka jika ingin dilakukan kerjasama, mungkin melalui G to G melalui MARDI, karena perusahaan ini merupakan mitra MARDI dalam pengembangan varietas. Kerjasama dapat dilakukan sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan.
FCI/JR/KN