Berita » Jelajah Porang Berlanjut ke Krucil, Kabupaten Probolinggo

Tanaman porang semakin menjadi idola bagi petani di Indonesia, selain karena tanaman ini memiliki nilai ekonomi tinggi, tanaman ini relatif mudah dibudidayakan. Memperoleh benih atau bahan tanam komoditas ini juga cukup mudah karena Indonesia merupakan habitat asli tanaman porang sehingga bahan tanam dapat ditemui hampir di semua wilayah hutan Nusantara.  Memenuhi permintaan penangkar setempat untuk berdiskusi masalah benih dan pertanaman porang di wilayahnya, jelajah porang Balitkabi menuju Kabupaten Probolinggo. Peneliti Balitkabi, Dr Novita Nugrahaeni dan Sutrisno SP, bersama Kabid Tanaman Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo, dan Tim BPSB setempat pada tanggal 6 April 2021 berkunjung ke Kec. Krucil untuk mengamati pertanaman porang dan kegiatan perdagangan benih dan umbi.

Petani di kecamatan Krucil dan Tiris sudah mengenal porang sejak tahun 70an dengan nama LURKUNG namun belum dibudidayakan. Mereka hanya mengambil dari hutan dan menanam di pinggir lahan sebagai tanaman pembatas. Bibit tanaman porang berasal dari wilayah hutan milik Perhutani KPH Bermi.  Petani mulai membudidayakan porang untuk tujuan komersial atau dijual sejak sekitar tahun 2004/2005, pada periode tersebut porang sudah dikenal petani memiliki nilai jual cukup menarik. Sejak saat itu banyak petani mulai membudidayakan porang secara luas hingga saat ini. Daya tarik porang telah membawa Bayu menjadi petani milenial sukses dengan omzet penjualan mingguan benih katak dan umbi masing-masing 1 ton, serta umbi untuk bahan baku pabrik 50-100 t yang dikirim ke Madiun, Mojokerto, dan Sidoarjo. Selain katak dan umbi, Bayu juga menyediakan benih dalam bentuk biji.

Kondisi pertanaman porang di Krucil sudah mulai “meripah” atau menguning sebagai tanda umbi memasuki fase dorman. Berbeda dengan sistem panen di wilayah Madiun, petani porang di daerah ini memanen porang ketika tanaman sudah mulai menguning tapi batang belum putus dari umbinya. Petani langsung mencabutnya dengan batangnya kemudian memotong batangnya,  membersihkan tanah dan akar serabut pada umbi, dan langsung menjualnya.

Kendala yang saat ini dihadapi petani adalah maraknya pencurian. Kondisi ini menyebabkan petani tidak dapat menjaga kualitas hasil terutama bulbilnya, karena dipanen pada kondisi belum masak fisiologis secara sempurna yaitu dipetik dari tangkai daun. Bulbil berkualitas tinggi didapatkan apabila bulbil tersebut terlepas secara alamiah dari tangkainya. Bulbil hasil petik demikian memiliki nilai jual cukup rendah, yaitu sekitar 50% dari harga normal saat ini. Harga bibit porang dari bulbil di Madiun sekitar 250 ribu namun di Krucil hanya sekitar 120 ribu per kg. Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian agar bulbil yang dihasilkan sesuai standard mutu.

Hasil observasi pertanaman porang di lapang menunjukkan bahwa secara morfologis relatif homogen, frekuensi tipe yang diduga berbeda relatif rendah. Beberapa karakteristik morfologis mirip dengan pertanaman varietas Madiun 1. Namun untuk memastikan kemiripan tersebut apakah berarti kesamaan genetik diperlukan uji lebih lanjut.

Str, NN

krucil krucil1
Bulbil dan umbi siap jual
Bunga bahan perbanyakan biji dari pertanaman petani

Bunga bahan perbanyakan biji dari pertanaman petani

krucil3 krucil4
Kondisi pertanaman porang di Krucil
Diskusi dengan petani, pedagang pengepul, Dinas Pertanian, dan BPSB

Diskusi dengan petani, pedagang pengepul, Dinas Pertanian, dan BPSB

krucil6 krucil7
Daun muda dan daun tua porang di Krucil
krucil2 krucil8 krucil9
Bunga, bulbil, dan umbi pertanaman porang di Krucil
krucil4 krucil10 krucil11
Ragam motif batang tanaman porang di Krucil