Berita » Jika Petani Menilai Detap 1

Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Timur yang tepatnya berada di kecamatan Pandaan. Selama ini, varietas kedelai yang ditanam oleh petani adalah varietas Wilis. Pada musim tanam kedelai Juli – November 2020, melalui kegiatan produksi benih dari Balitkabi, mulai diperkenalkan varietas Detap 1 ke petani.

Varietas Detap 1 berkarakteristik utama tahan pecah polong, tentu selain hasilnya tinggi, ukuran bijinya besar dan umurnya genjah. Varietas Detap 1 merupakan hasil inovasi Balitbangtan yang dilepas pada tahun 2017.

Beragam respons petani Pandaan terhadap varietas Detap 1 yang baru dikenalnya. Pada fase vegetatif, beberapa petani menyampaikan serangan ulat grayaknya lebih rendah dibandingkan dengan jika menanam Wilis, sehingga pengendalian hamanya juga menjadi lebih sedikit. Umurnya yang lebih genjah dibandingkan dengan Wilis, berakibat terhadap intensitas pengairannya juga menjadi lebih sedikit.

Penuturan Pak Ridwan, salah satu penggiat kedelai di Pandaan Pasuruan, ternyata petani benar-benar memperhatikan keragaan Detap 1 di lapang hingga masa panen. Diceritakan lebih lanjut, ada petani yang membiarkan Detap 1 tidak dipanen hingga 7 hari setelah polong masak di lapang. Ternyata, polong tidak ada yang pecah, kata Pak Ridwan sambil tertawa. Berbeda dengan varietas Wilis yang mudah pecah polongnya.

Dengan menanam Detap 1, dituturkan oleh Pak Wagimin, hasilnya meningkat sekitar 22% dibandingkan dengan hasil Wilis yang biasa ditanam selama ini. Jika diamati lebih lanjut, biji-biji Detap 1 jarang ada yang krowok (terserang hama penggerek polong), sedangkan biji Wilis banyak yang krowok. Kondisi ini menyebabkan harga jual Detap 1 sekitar Rp. 6200 per kg, sedangkan Wilis yang terserang penggerek polong dengan harga Rp. 3500 per kg.

Cerita Pak Ridwan di rumahnya, tidak berhenti sampai di situ. Membandingkan juga proses pembijiannya. Jika digeblok, Detap 1 memang lebih ulet (sulit rontok) dibandingkan Wilis, tapi itu tidak masalah karena petani membijikan menggunakan jasa mesin perontok, kilahnya. Yang menarik, perontokan biji dengan mesin, ternyata Detap 1 menghasilkan biji dengan sangat sedikit kotorannya (daduk), berbeda dengan Wilis yang harus ditampi lagi. Menutup obrolan dengan pak Ridwan, petani masih ingin menanam lagi Detap 1 pada tahun depan.

Pak Ridwan bersama Detap 1 pada MK 2, (6/10/2020)

Pak Ridwan bersama Detap 1 pada MK 2, (6/10/2020)

detap1 detap2
Ngobrol Detap 1 di lapang (19/8/2020) dan di rumah pak Ridwan (4/11/2020)

MMA