Berita » Kabi Songsong HPS XXXII

1-bb1

Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXII akan berlangsung tanggal 18 – 21 Oktober 2012 di Temanggung Tilung Palangkaraya. Badan Litbang Pertanian tetap konsisten untuk mengambil peran penting dalam memperagakan inovasinya di lapang maupun in-door, berupa pameran.

Balitkabi siap menyongsong pelaksanaan HPS ke XXXII. Beragam varietas dan calon varietas aneka kacang dan ubi telah siap digelar. Keragaan varietas kedelai (Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Mutiara, Gema, Burangrang, Wilis, Tanggamus, Malabar/Snb 515-3 dan Sinabung/Agr 51), kacang tanah (Kelinci, Kancil, Hypoma 1, Hypoma 2, Talam 1 dan Singa), kacang hijau (Sampeong, Perkutut, Vima 1, Sriti, Murai, MMC 342-D-KP-3-3, MMC 331-D-KP-3-4 dan MMC 342-D-KP-3-4), serta ubijalar (Kidal, Sukuh, Beta 1, Beta 2 dan Beniazuma, MSU 0302-10, MSU 01022-2, RIS 03063-05) cukup baik. Selain digelar dilapang, juga dilakukan penaman dalam polybag. Tanaman di lapang berumur sekitar 30 hari, sedangkan yang dipolybag berumur 70 hari. Keragaan tanamannya tidak perlu diragukan, sangat optimal. Bahkan, pada acara puncak HPS tanggal 18 Oktober 2012 nanti, kunjungan lapang akan dimulai dari areal pertanaman kedelai. Menurut Abdullah Taufiq MP, peneliti Ekofisiologi Balitkabi yang sekaligus menjadi penjab Gelar Teknologi Balitkabi, lahan gambut yang digunakan untuk gelar kedelai ber-pH rendah, pH hanya 4,5, sehingga perlu pemberian dolomit hingga 3 ton/ha ditambah 2,5 t/ha, tentu ditambah dengan pemberian pupuk anorganik. Dengan pendekatan yang demikian, hasil biji kedelai di Gelar HPS XXXII tidak sulit untuk memperoleh hasil biji kedelai 2,5 t/ha. Ketika ditanya oleh Kepala Balitkabi, Dr. M. Muchlish Adie, apakah dengan input yang demikian masih memberikan keuntungan? Menurut Pak Taufik masih berpeluang menguntungkan karena keragaan tanaman kedelai sangat bagus. Pengalaman selama ini dengan kombinasi takaran dolomit + pupuk kandang tersebut bertahan hingga 2 tahun kedepan, artinya perlu diberikan lagi pada tahun keempat, demikian analisis Pak Taufik meyakinkan Kepala Balitkabi. Bahkan para teknisi yang berdedikasi tinggi menghitung jumlah polong kedelai yang ditanam di polybag, misalnya Anjasmoro memiliki 172 polong/tanaman, Wilis 194 polong/tanaman, dan Mutiara 87 polong/tanaman. Keragaan beberapa varietas dan calon varietas ubijalar juga cukup bagus. Walaupun saat ini belum berumbi, paling tidak memberikan harapan bahwa ubijalar juga layak dikembangkan di lahan gambut. Untuk memberikan arti ekonomi yang lebih dari ubijalar dan umbi-umbian lainnya, dilaksanakan pameran umbi dari beragam ubi-ubian beserta olahannya.Performa yang demikian meneguhkan bahwa aneka kabi beserta olahannya siap menyongsong acara Puncak HPS XXXII. Keberhasilan tersebut tidak terlepas kerja keras dan sinergisitas peneliti dan teknisi Balitkabi. Tiada duanya; jayalah Balitkabi.

Aneka kabi di HPS XXXII dengan performa yang meyakinkan