Berita » Kacang Hijau Vigna Malang (Vima) Pikat Pelaku Industri

Kepala Puslitbangtan Dr. Haris Syahbuddin dalam FGD Kacang Hijau di Jakarta 12 Nopember 2019

Kepala Puslitbangtan Dr. Haris Syahbuddin dalam FGD Kacang Hijau di Jakarta 12 Nopember 2019

Kebutuhan industri berbahan baku kacang hijau semakin meningkat dengan ramainya inovasi pangan. PT. East West Seed Indonesia (Ewindo) dan PRISMA, Australia-Indonesia Partnership for Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture Prisma sudah berada di depan untuk hilirkan dan menjamin kontinyuitas dan mutu kacang hijau. Untuk itu Prisma menginisiasi FGD Potret Kebutuhan dan Pasokan Kacang Hijau untuk Kebutuhan Industri Mendukung SDM Unggul, di Jakarta pada hari Selasa, 12 Nopember 2019.

Chief Executive Officer Prisma Goetz Ebbecke dan Afrizal Gindow, Sales and Marketing Director PT. Ewindo serta Firmansyah, Corporate Secretary PT. Ewindo melihat peluang kolaborasi dan kemitraan mengajak Balitkabi sebagai mitra dalam FGD tersebut. Pemangku kepentingan kacang hijau dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian (Balitbangtan dan Ditjen TP), Sektor swasta (GAPMMI, Kadin, Asosiasi Eksportir, Importir), Perguruan Tinggi (IPB, Unpad, Unej, UI), Asosiasi Petani (KTNA, MPPI, Asbenindo, Ukabi), Batan, LSSM, dan Balitkabi selaku pemilik varietas kacang hijau Vima-1 yang dilisensi non eksklusif oleh Ewindo dihadirkan dalam acara tersebut.

Puslitbangtan dan Balitkabi hadir selaku Institusi Litbang Kacang Hijau dan juga pemilik varietas Vima 1. Kepala Puslitbangtan Dr. Haris Syahbuddin, DEA hadir bersama Kabid KSPHP Dr. Agus Wahyana, Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi, Inventor Vima 1 Dr. Rudi Iswanto dan Kasi Jaslit Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom.

Maryam Piracha, Head of Portofolio PRISMA dalam sambutannya, mengatakan sengaja mengundang seluruh partners, agar diperoleh luaran terkait proyeksi kebutuhan dan kualitas kacang hijau yang selaras dengan tujuan Pemerintah Indonesia yaitu : meningkatkan SDM melalui nutrisi, selain kebutuhan ekspor kacang hijau ke China, Taiwan, Philippina, Vietnam dan India, juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani kacang hijau yang diprediksi menjadi “The next big ten”.

Sales and Marketing Director PT. Ewindo Afrizal Gindow menyampaikan tantangan di kacang hijau adalah belum imbangnya neraca ekspor-impor. Melalui FGD ini ada kemauan membalikkan fakta dalam tiga tahun ke depan agar kita tidak lagi impor kacang hijau dari Myanmar. Hal ini seperti yang disampaikan Prof. Dr. Muhammad Firdaus, Ph.D., Ekonom Pertanian. Akademisi IPB, terkait komoditas kacang hijau Indonesia, asal tanaman kacang hijau, bisa menjadi jadi asli Asia atau Indonesia maka akan terjadi tren peningkatan ekspor kacang hijau dengan eksportir terbesar kacang hijau adalah Myanmar.

Pada kesempatan ini Kepala Puslitbangtan Dr. Haris Syahbuddin mengapresiasi terselenggaranya FGD untuk akselerasi hilirisasi produk anak bangsa yang tidak seluruhnya dapat dibiayai lewat APBN. “ Inilah contoh implementasi “double-track” yang memasuki langsung ranah industri merubah mindset yang sebelumnya deras ke arah produktivitas berbasis kebutuhan rumah tangga, kata Haris. Melalui industri hilirisasi akan semakin cepat, kontinyuitas akan terjamin yang akan memberikan feedback bagi pengembangan riset kita ke depan, lanjut Haris.

Disampaikan Haris lebih lanjut bahwa kacang hijau belum menjadi prioritas utama, prioritas saat ini adalah Padi, Jagung dan Kedelai. Kapuslitbangtan itu mengingatkan pesan Mentan Dr. Syahrul Yasin Limpo (SYL) tentang berfikir sistem (Thingking system) dengan pola Think 3 M (Maju, Mandiri, Modern) dalam membangun dunia pertanian. Berpikir maju, bangsa kita harus mandiri dan dalam penyediaan pangan serta dalam penggunaan teknologi-teknologi modern. Para peneliti, pemulia harus bekerja lebih presisi lagi, mampu merespons dengan cepat apa yang dibutuhkan industri.

Lembaga Internasional World Vegetable Center dengan program IMIN (International Mungbean Improvment Networks) akan menggandeng ILETRI untuk menjadi anggota IMIN. Kita tidak bisa membatasi SDG kita untuk tidak diakses oleh negara lain yang masuk dalam anggota. Hal ini karena kita sudah meratifikasi ITPGRFA, di sana ada di Annex 1 yang masuk dalam kelompok Bean.

Foto Bersama Kepala Puslitbangtan dan Kepala Balitkabi bersama nara sumber pada FGD Kacang hijau

Foto Bersama Kepala Puslitbangtan dan Kepala Balitkabi bersama nara sumber pada FGD Kacang hijau

Penting untuk diinformasikan adalah daya pikat kacang hijau Vima. Varietas unggul baru ini memiliki produktivitas 2,0 – 2,4 ton/ha, selain melampaui rata-rata produktivitas di tingkat petani yang masih berkisar 0,9-1,2 ton/ha, umur panen (56 hari) lebih cepat dari varietas generasi sebelumnya (60-75 hari) serta dapat panen satu kali karena 85% polong masak serempak. Kelebihan lainnya adalah tahan/toleran/agak tahan penyakit embun tepung, bercak daun, tular tanah Phytopthora dan Sclerotium sp., dan hama Thrips. Generasi Vima memberikan pilihan kepada pelaku industri dengan biji besar-kecil, warna kulit kusam-mengkilap, sesuai/tidak untuk kecambah.

Benih Vima 1 produksi PT. Ewindo

Benih Vima 1 produksi PT. Ewindo

Semoga dari FGD, keluar pemikiran yang bermanfaat. Dicatat untuk ditindaklanjuti. Saatnya inovasi kita perkuat, varietas kacang hijau ke depan berikan manfaat petani dan ditampung oleh industri.
YB/BSK