Berita » Kacang Komak, Kacang Tahan Kering

Tanaman komak di Leces, Probolinggo

Tanaman komak di Leces, Probolinggo

Kacang komak (Lablab bean, Lablab purpureus), diperkirakan berasal dari kawasan India, Asia Tenggara, atau Afrika, dan sudah menyebar di berbagai wilayah di Indonesia, karenanya penamaan kacang komak juga beragam antar wilayah. Umumnya, kacang komak ditanam pada lahan kering dan memang dinilai tahan terhadap kondisi kering. Polong muda kacang komak digunakan untuk sayur, dan di Jawa Timur umumnya untuk sayur asem. Hijauan tanaman komak juga digunakan sebagai pakan dengan perlakuan tertentu. Pemanfaatan biji komak untuk berbagai produk seperti susu, tempe, nugget, telah diujicoba, namun belum dikomersialkan.

Umumnya, penanaman komak dilakukan di pematang sawah, di bawah tegakan pepohonan, seperti yang banyak terlihat di Lombok Tengah dan Madura. Di Kabupaten Probolinggo (Kecamatan Leces), komak dibudidayakan di lahan kering dan ditanam dalam larikan, bahkan telah ada yang ditumpangsarikan dengan jagung. Di Blitar beberapa saat yang lalu, komak dibudidayakan di lahan sawah yang dilakukan secara komersial, yakni dengan menggunakan rambatan dari bambu, dengan target penjualan utamanya dari hasil panenan polong muda.

Keragaman genetik tanaman komak cukup beragam. Penuturan petani di Leces (Probolinggo) yang menanam komak, terdapat dua variasi yang didasarkan pada bentuk dan warna polong. Khususnya di Lombok Tengah dan Madura, keragaman komak terlihat pada warna kulit polong, bentuk polong, dan yang cukup bervariasi adalah warna biji.

Warna kulit biji yang sangat beragam, dari putih hingga merah marun, disertai dengan keunggulannya tahan kering, komak menjadi bahan pangan yang menyimpan berbagai rahasia kemanfaatan. Salah satu artikel tentang komak menampilkannya sebagai  A Crop Lost for Africa?. Sumberdaya genetik yang perlu dimanfaatkan.

MMA

komak1 komak komak2
Komak ditanam dalam larikan, tampilan polong muda, dan polong tua