Berita » Kacang Tanah Berkembang Sangat Kompetitif di Lampung

lampung_1

Sepanjang perjalanan dari Tanjung Karang ke Kabupaten Lampung Tengah, tanaman ubikayu hijau menyejukkan mata para pelintas perjalanan darat. Hamparan pertanaman ubikayu pada berbagai fase pertumbuhan sangat mudah ditemukan di lahan petani dan dalam skala yang luas. Kabupaten Lampung Tengah memang dikenal sebagai salah satu sentra produksi ubikayu di Provinsi Lampung. Kini, di Lampung Tengah, khususnya di Kecamatan Rumbia, komoditas kacang tanah berkembang pesat, menyusul ubikayu.

Titik pacu perkembangan kacang tanah di Kabupaten Lampung Tengah diawali ketika Balitkabi melakukan berbagai penelitian mulai uji galur, uji pemupukan hingga penelitian pengembangan. Sekitar tahun 2007-2010, beberapa peneliti Balitkabi mencari lahan untuk penelitian kacang tanah sangat sulit. Petani enggan lahannya ditempati penelitian kacang tanah karena tidak laku atau sangat sulit menjual hasilnya. Mereka hanya mau menerima komoditas ubikayu. Salah satu petani yang mau menerima kacang tanah adalah Bapak Srikam (warga Desa Restu Baru Kec. Rumbia). Tahun 2010, Balitkabi mengadakan penelitian pengembangan kacang tanah, sekaligus temu lapang yang diikuti sekitar 100 petani. Petani peserta temu lapang itu diajak keliling ke pertanaman kacang tanah yang keragaannya sangat bagus sambil diberi penjelasan teknik budidayanya. Saat itu juga diadakan panen perdana oleh Kepala Diperta Lampung Tengah dan peneliti Balitkabi, disaksikan petani peserta temu lapang. Sejak saat itu, petani tampak tergugah ketertarikannya dan lalu mencoba menanam kacang tanah. Pak Srikam pun menjadi pionir pengembangan kacang tanah. Beliau pun lalu kebanjiran order benih kacang tanah dari para petani. Kepioniran Pak Srikam berbuah keuntungan. Benih kacang tanah varietas Jerapah hasil penennya laris manis hingga 1.100 kg polong kering.

Desember 2012, gairah menanam kacang tanah di Lampung Tengah menguat. Petani mulai menanam pada Oktober/November untuk benih kacang tanah pada musim tanam Februari. Menurut Pak Srikam, dibandingkan dengan ubikayu, kacang tanah jauh lebih menguntungkan. Kalkulasi beliau, dengan biaya produksi sekitar Rp 5 juta/ha, produksi 5-6 ton polong basah/ha, dan harga jualnya Rp 4.000-5.000/kg, petani menangguk untung minimal Rp 14 juta/ha. Hanya dalam waktu 3 (tiga) bulan. Yang lebih penting lagi, “… menjual kacang tanah kini sangat mudah”, tutur pak Srikam. Sementara untuk ubikayu dengan biaya usahatani 3-4 juta/ha, diperoleh umbi sekitar 15 t/ha, maksimal 20 t/ha; dengan harga rata-rata Rp 800/kg diperoleh pendapatan kotor 12-16 juta/ha. Itupun harus menunggu selama 6 bulan. Jadi kondisi saat ini, kacang tanah sangat kompetitif dengan ubikayu dan bahkan dengan jagung. Oleh karena itu, saat ini banyak petani menanam kacang tanah.

Kini, gairah berusahatani kacang tanah merembet ke Kabupaten Lampung Timur. Bapak Kadirin, ketua salah satu Kelompok Tani di Kabupaten Lampung Timur, mengakui bahwa kacang tanah saat ini lebih menguntungkan dibanding ubikayu. Sejak Balitkabi mengadakan penelitian pengembangan kacang tanah sistem tumpangsari kacang tanah dengan ubikayu baris ganda, pada 2011, petani Lampung Timur mulai tertarik menanam kacang tanah. Dengan berkembangnya kacang tanah di Lampung Tengah dan Lampung Timur, terbuka peluang dua kabupaten ini akan menjadi sentra produksi kacang tanah.

Hal yang perlu dicermati dalam budidaya kacang tanah di dua kabupaten ini adalah serangan hama polong pada pertanaman bulan Juni/Juli, yang dapat menyebabkan puso. Menurut petani, setelah ditanami kacang tanah, lahan menjadi kurang subur. Kondisi ini harus dijawab oleh peneliti Balitkabi. Jika permasalahan hama pada tanaman musim kemarau ini dapat diatasi, petani dapat menanam kacang tanah untuk benih musim hujan ke-1 (Oktober/November) dan kemudian dilanjutan pada musim tanam pada musim hujan ke-2 (Februari/Maret). Semoga solusi segera datang dan kacang tanah semakin berkembang dan bersinar di Bumi Lampung.

Pak Srikam telah membantu diseminasi hasil penelitian Badan Litbang Pertanian. Terima kasih Pak, semoga berbuah keuntungan dan pahala …. dan barokah!



Hamparan kacang tanah varietas Jerapah seluas 1 ha milik Bpk Srikam di Desa Restu Baru, Kec. Rumbia, Lampung Tengah.
Awal Desember 2012 lalu sudah fase pembentukan polong


Hamparan kacang tanah varietas Jerapah seluas 1 ha milik Bpk Hapsoro di Desa Restu Baru, Kec. Rumbia, Lampung Tengah.
Awal Desember 2012 lalu sudah fase pembentukan polong


Hamparan kacang tanah varietas Jerapah tumpangsari dengan jagung seluas 0,75 ha milik Bpk Hariyadi di Desa Restu
Baru, Kec. Rumbia, Lampung Tengah. Awal Desember 2012 lalu sudah fase pembentukan polong

Petani menanam kacang tanah dan ubikayu dalam satu hamparan, seperti di lahan milik Rukinem di Desa Restu
Baru, Kec. Rumbia, Lampung Tengah. Awal Desember 2012 lalu sudah fase pembentukan polong


Kacang tanah di sela karet muda, sedikit tapi nanti untuk persediaan benih musim tanam bulan Februari/Maret


Pak Kadirin menanam kacang tanah (Desember 2012) di lahan 0,3 ha di Sukadana Ilir, Kec. Sukada, Lampung Timur


Petani di Sukadana, Lampung Timur menanam kacang tanah sudah teratur dengan jarak tanam 35 cm x 15 cm.

Abdullah Taufiq/Win