Berita » Kampung Bengkuang di Ponorogo

Desa Tatung, ”Kampung bengkuang”.

Desa Tatung, ”Kampung bengkuang”.

Jawa Timur (Jatim) merupakan salah satu produsen bengkuang di Indonesia. Kabupaten Ponorogo merupakan salah satu sentra bengkuang di Jatim selain Gresik dan Jombang. Di Ponorogo, pusat produksi bengkuang berada di beberapa desa di Kecamatan Balong, diantaranya adalah Desa Tatung, yang disebut sebagai Kampung Bengkuang.

Desa Tatung memiliki lahan sawah dan lahan tegal yang berada di kawasan perbukitan. Tanaman bengkuang dibudi dayakan pada lahan tegal yang ada di perbukitan. Varietas yang digunakan adalah varietas lokal. Sumber benih diperoleh dengan menyimpan polong bengkuang yang sudah tua. Sebagian petani melakukan penanaman bengkuang di pematang lahan dan dibiarkan tumbuh sampai beberapa musim untuk diambil polongnya yang sudah matang untuk dijadikan sumber benih.

Tanaman bengkuang memang menjadi andalan pendapatan petani di lahan kering pada wilayah tersebut. Pemasaran bengkuang telah diatur cukup rapi. Koperasi menjadi pengatur pemasaran antara petani dengan industri. Setiap petani hanya diperbolehkan menjual umbi bengkuang 100 kg per hari kepada koperasi, untuk 100 petani per hari. Sedangkan penjualan di luar koperasi diserahkan kepada masing-masing petani. Dengan pengaturan yang demikian, maka kontinyuitas pasokan ke industri tetap terjamin disertai dengan harga jual yang memadai.

Penuturan petani dengan adanya koperasi, harga jual bengkuang lebih terjamin, berbeda dengan jika dijual secara bebas kepada pasar maupun tengkulak. Walaupun Desa Tatung telah dijadikan sebagai Kampung Bengkuang, jika dibandingkan dengan sentra bengkuang lainnya seperti di Gresik dan Kebumen, pada musim bengkuang banyak pedagang yang menjual umbi bengkuang di sepanjang jalan, namun hal tersebut tidak ditemukan disekitar Kecamatan Balong, Ponorogo.

Panen, penjualan, dan sumber benih bengkuang.

Panen, penjualan, dan sumber benih bengkuang.

AyK