Berita » Katrol Produksi Kedelai Amankan Pohon Jati

Wakil Bupati Ngawi, Onny Anwar Harsono, S.T., bersama Kepala Balitkabi, Wakil kepala KPH Perhutani Unit II Ngawi, Dinas Pertanian dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Panen perdana Kedelai di lahan Hutan Jati Ngawi (9/5/2011. Dengan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian hasil kedelai di lahan hutan jati bisa mencapai 2,3 ton per hektar (foto: win).Terobosan peningkatan produksi kedelai nasional dapat dilakukan dengan ektensifikasi tanpa membuka lahan baru. Dengan penerapan inovasi Badan Litbang Pertanian oleh petani anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), lahan Perhutani di sela tanaman jati yang berumur 2-3 tahun di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Unit II Kabupaten Ngawi mampu menghasilkan 2,0-2,3 ton kedelai per hektar, tanpa merusak tanaman jati sebagai tanaman pokok. Dengan rencana penanaman kedelai seluas 2.000 hektar maka potensi penambahan produksi kedelai dari hutan jati wilayah di KPH Ngawi mencapai 4.600 ton kedelai.

  Demikian informasi yang diperoleh dari Temu Lapang Budidaya Kedelai di Lahan Hutan Jati di Desa Jenggrik Kec Kedung Galar Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Badan Litbang Pertanian pada Senin (9/5). Wakil Bupati Ngawi, Onny Anwar Harsono, S.T., bersama Kepala Balitkabi, Wakil kepala KPH Perhutani Unit II Ngawi, Dinas Pertanian dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Panen perdana Kedelai di lahan Hutan Jati Ngawi (9/5/2011. Dengan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian hasil kedelai di lahan hutan jati bisa mencapai 2,3 ton per hektar (foto: win). Sinergi tingkatkan produksi kedelai Sinergi antarsatuan kerja (satker) tidak saja mampu meningkatkan hubungan kerja namun juga terbukti meningkatkan produksi kedelai di lahan hutan. “Bersama-sama tadi kita saksikan bukti di lapang bahwa di areal hutan yang ternaungi pohon jati, kedelai yang ditanam mampu menghasilkan sekitar 2,0 ton per ha”, tutur Wakil Bupati Ngawi Onny Anwar Harsono, S.T. usai panen kedelai bersama Kepala Balitkabi, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Prov Jatim, Wakil Kepala Perhutani Unit II Ngawi, Dinas Ketahanan Pangan, dan petani anggota LMDH, serta Balitkabi. Keberhasilan itu dapat dicapai berkat inovasi budi daya kedelai yang diperkenalkan oleh Balitkabi dan dipraktikkan petani LMDH, lanjut Wabup Ngawi. Oleh karena itu, beliau meminta sinergi antarsatuan kerja (satker) lebih ditingkatkan untuk memberikan masa depan yang lebih baik kepada petani di sekitar hutan, untuk mendukung ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan untuk masyarakat di desa sekitar hutan. Pertumbuhan tanaman kedelai di lahan hutan Jati di wilayah LMDH Wonodadi Lestari Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi pada MK 1 tahun 2011 pada stadia vegetatif hingga generatif Sementara itu Wakil Administratur KPH Perhutani Unit II Ngawi, Bayu Nugroho menyatakan sangat mendukung inovasi Badan Litbang Pertanian ini. Inovasi varietas toleran naungan ini menguntungkan petani LMDH dan tidak merugikan Perhutani” tuturnya. Oleh karena itu, pihaknya akan melihat lagi kelanjutan kontrak setelah tiga tahun nanti. ”Karena kontrak kita dengan LMDH hanya tiga tahun, maka kami akan melihat lagi kelanjutannya. Bisa tetap tanaman kedelai, atau jika tegakkannya sudah rimbun maka kemungkinan dianjurkan dengan tanaman porang atau iles-iles (Amarphopallus oncophilus) seperti yang diusahakan di KPH Saradan”, jelas pak Bayu. ”Kami juga mempertimbangkan budi daya empon-empon (simplisia)”, tutur Darwin, Petugas Pendamping Petani LMDH. Selanjutnya dinyatakan bahwa bersama Petani LMDH dan Perhutani dia akan bermusyawarah untuk menentukan mana yang terbaik dan menguntungkan dari segi teknis budi daya dan ekonominya. ”Karena selama ini intensifikasi empon-empon masih terkendala teknologi”, imbuhnya. Temu Lapang budidaya kedelai di lahan hutan Hibah Benih untuk Pengembangan Kepala Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Dr M Muclish Adie, mewakili Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan), menyatakan bahwa Badan Litbang Pertanian menghasilkan banyak varietas kedelai. Ada kelompok varietas yang berukuran besar, berukuran sedang, dan berukuran kecil. Di antara varietas tersebut sebagian tergolong toleran terhadap naungan. Menurut perhitungan Pak Muchlish, varietas biji besar yaitu Grobogan dan Argomulyo yang ditanam di hutan jati Desa Jenggrik KPH Ngawi mampu tumbuh baik di bawah naungan pohon jati, dan menghasilkan 2,0 ton per hektar, sementara untuk varietas Kaba dan Wilis (biji sedang) produksinya mencapai sekitar 2,3 ton per ha. Karena itu kepada petani LMDH dipersilakan untuk memilih varietas yang cocok dan disukai. Di samping empat varietas tersebut Balitkabi juga memiliki varietas yang lain dengan keunggulan tertentu yang bisa dipilih petani. ”Balitkabi siap bekerjasama untuk pengembangan kedelai”, tutur Pak Muchlish. Dan untuk itulah hasil percontohan budi daya kedelai ini yang diperkirakan mencapai 2,0 ton dihibahkan kepada Petani LMDH Wonodadi Lestari. Menanggapi pilihan varietas, Ketua Kelompok LMDH Wonodadi Lestari, Choiri Anwar menyatakan akan melihat dulu pasar yang ada seperti apa permintaannya. ”Di sini ada perusahaan tempe, atau pengusaha tahu yang biasanya sudah memiliki pilihan-pilihan varietas. Jadi kami akan memutuskan varietas mana yang dikembangkan berdasarkan permintaan pasar”, tutur pak Choiri yang anggota kelompoknya mencapai 200 orang dan tersebar di lima pedukuhan ini. Sumber Pertumbuhan Produksi Kedelai Pengusahaan kedelai di bawah tegakan hutan jati merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru produksi kedelai. Secara tradisional petani sudah berusahatani di hutan namun belum intensif. Sistem itu disebut magersari; petani (pesanggem) boleh mena
nam di sela tanaman pokoknya, dan sekaligus harus memelihara tanaman pokoknya. Namun intensifikasi dan pembinaaan belum tertangani. Oleh karena itu sistem yang dikembangkan Balitkabi ini ini perlu dikembangkan. “Luas lahan hutan yang disepakati untuk pengembangan kedelai di lahan hutan antara Perum Perhutani, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan mencapai 16.000 hektar. Saat ini 8.000 hektar siap ditanami” jelas Kepala Seksi Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Diperta Jatim, Ir. Suyoto. “Dan percontohan intensifikasi kedelai di sela-sela lahan hutan jati KPH Ngawi ini merupakan yang pertama” tutur Wabup Ngawi pada saat menyampaikan sambutannya. Meningkatkan nilai tambah kacang-kacangan dan umbi-umbian dengan mengolahnya menjadi aneka pangan olahan yang nilainya lebih tinggi ketimbang dijual langsung Dorong Nilai Tambah Di samping panen kedelai bersama, pada Temu Lapang ini Balitkabi juga menunjukkan varietas unggul aneka kacang dan umbi. Varietas unggul tersebut dipamerkan dalam bentuk poster dan benih dalam kemasan. Juga, disajikan teknik meningkatkan nilai tambah kedelai dengan mengolahnya menjadi susu dele. Umbi ubi jalar dan ubi kayu ditingkatkan nilai tambahnya dengan mengolahnya menjadi aneka pangan olahan yang nilainya lebih tinggi ketimbang dijual langsung dalam bentuk umbi segar. Bahkan jika pada saat panen harganya jatuh, ubi jalar dan ubi kayu dapat diproses menjadi tepung. Tepung ubi kayu dan ubi jalar dapat diproses menjadi aneka makanan yang lebih bernilai ekonomi. Tepung dapat disimpan lebih lama. (Laporan Achmad Winarto)