Berita » Kedelai sebagai Bahan Baku Industri dan Pariwisata

Kedelai memiliki peran penting pada kehidupan masyarakat di Kabupaten Trenggalek, selain sebagai bahan olahan pangan, ternyata kedelai juga menjadi sarana penunjang parawisata di Kabupaten Trenggalek melalui produk olahan tempe yang terkenal dengan ciri penyajian yang unik dan spesifik.

Kedelai diolah menjadi tempe kripik dengan ciri tempe tipis tanpa irisan. Di daerah lain, kripik tempe dibuat dengan mengiris-iris menjadi lempengan-lempengan. Kios-kios yang menjajakan produk olahan dari masyarakat Trenggalek disiapkan oleh Pemerintah Daerah di sepanjang poros jalan raya Tulungagung–Trenggalek tepatnya di antara Kecamatan Durenan–Bendopo.

Dibangunnya kios-kios tersebut bertujuan untuk menjaring wisatawan yang berkunjung ke Guwo Lowo dan Pantai Prigi dapat membeli oleh-oleh khas Kabupaten Trenggalek. Plh. Bupati Kabupaten Trenggalek menekankan agar produk olahan dari bahan baku kedelai dapat lebih bervariasi dan kedelainya dapat dipenuhi dari Kabupaten Trenggalek sendiri.

Hal tersebut disampaikan dalam Acara Panen Raya Kedelai dan Temu Wicara pada tanggal 12 Oktober 2015 di Desa Jati, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa perkembangan pertanaman kedelai selama 2 tahun terakhir menunjukkan peningkatan produksi kedelai yang cukup berbeda nyata yakni pada tahun 2013 menghasilkan 6.409 ton, dan pada tahun 2014 naik menjadi 8.637 ton, dan di harapkan pada tahun ini lebih meningkat.

Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi Dirjentan yang diwakili oleh ibu Ir. Rita Mezu, M.M., mengatakan bahwa Kabupaten Trenggalek pada tahun 2015 ini mendapat alokasi GP-PTT kedelai seluas 5.000 ha serta program PAT dan PIP 500 ha. Selanjutnya beliau berpesan untuk tahun depan 2016:

  1. areal tanam kedelai agar di pertahankan dan jika perlu memperluas melalui Perluasan Area Tanam di lahan PT Perhutani atau lahan kering di musim hujan,
  2. optimalkan penerapan inovasi teknologi spesifik lokasi melalui GP-PTT,
  3. intensifkan pendampingan GP-PTT kedelai oleh tim UPSUS Kabupaten (penyuluh, POPT, TNI dan Mahasiswa),
  4. membangun penangkaran benih kedelai.

Acara Panen Raya Kedelai dan Temu Wicara dihadiri sekitar 150 orang terdiri dari Petani, Penyuluh, Jajaran SKPD Pertanian Tanaman Pangan, para ketua Kelompok tani se kabupaten Trenggalek, TNI AD dan Polisi. Sebagai narasumber dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah: Dr. Didik Harnowo selaku kepala Balai dan Prof. Dr. Marwoto (peneliti kedelai).

Panen raya kedelai di areal GP-PTT Kabupaten Trenggalek dan Temu Wicara.

Panen raya kedelai di areal GP-PTT Kabupaten Trenggalek dan Temu Wicara.

Ketua Gapoktan melaporkan kegiatan pelaksanaan GP-PTT kedelai dan pertanyaan dari petani kepada narasumber temu wicara.

Ketua Gapoktan melaporkan kegiatan pelaksanaan GP-PTT kedelai dan pertanyaan dari petani kepada narasumber temu wicara.

Rekomendasi dari tim narasumber, untuk pengembangan kedelai di Kabupaten Trenggalek dapat dilakukan dengan cara:

  1. Peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi spesifik lokasi dan menggunakan varietas Anjasmoro, Grobogan, Argomulyo dan yang terbaru Dega yang mempunyai karakter Kedelai umur genjah biji besar, dan
  2. Perluasan areal dilakukan yaitu
    • Di lahan kering dengan teknologi spesifik lokasi menggunakan varietas Dering 1 yang mempunyai karakter tahan kering pada saat pertumbuhan generatif,
    • Pengembangan kedelai di lahan hutan dengan teknologi budidaya spesifik lokasi, menggunakan varietas Dena yang mempunyai karakter tahan naungan.

MWT