Berita » Kedelai Sulit Berkembang di Lahan Kering dan Pasang Surut Kalimantan Selatan

Untuk mendukung swasembada kedelai, Program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) kedelai di Indonesia pada tahun 2014 ini ditetapkan seluas 340.000 ha di 15 provinsi. Salah satu Provinsi untuk PATB adalah di Kalimantan Selatan yang sebagian besar di alokasikan di lahan kering. Persaingan pemanfaatan lahan kering untuk tanaman kedelai di Kalimantan Selatan sangat ketat dan akhirnya tanaman kedelai tak mampu bersaing, dengan indikasi ditunjukkan turunnya luas areal tanam. Catatan dari Kecamatan Batu Ampar dan Takisong Kabupaten Tanah Laut, Kecamatan Wana Raya di Barito Kuala merupakan contoh. Pada tahun 1980an Kec Batu Ampar dan Takisong merupakan sentra tanaman kedelai dan sekarang areal tanamnya menurun drastis. Pertanaman kedelai yang ada, luasnya sangat terbatas, dan hasil kedelai diarahkan untuk direbus karena masih mempunyai nilai ekonomi tinggi namun volume pasarnya terbatas. Penyebab utama turunnya areal tanam kedelai karena harga komoditas kedelai tidak mampu bersaing dengan komoditas lainnya. Walaupun pada tahun 2014 pemerintah mematok HPP kedelai sebesar Rp7.500 per kg namun ternyata kalah dengan komoditas jagung dan cabe. Tanaman jagung manis di Wana Raya harga jagung per tongkol dengan kualitas terendah laku Rp 600 per tongkol dan jika kualitas yang baik dengan tongkol besar bisa mencapai Rp1,000 – Rp 1.500 per tongkol. Berapa harga kedelai sebenarnya sehingga petani mau menanam kedelai? Jawaban Pak Sutrisno dari kelompok tani Sumber Makmur mengatakan Rp 15.000 per kg dan Pak Sukiran penyuluh di kecamatan Wana Raya Rp 17.500 per kg. Tentunya harga sebesar ini diperhitungkan dengan harga komoditas lainnya yang berlaku di daerah ini. Hal-hal seperti ini merupakan gambaran mengapa petani enggan menanam kedelai, di samping harga kedelai yang tidak mampu bersaing, tataniaga kedelai yang berlaku kurang menguntungkan petani. Bagi petani jaminan pasar merupakan hal yang penting. Petani menjual hasil kedelai ke pengrajin tahu/tempe tidak bisa langsung, karena pengrajin takut pasokan kedelai dari petani tidak bisa kontinyu. Pengrajin membeli kedelai dari pedagang pengumpul karena ada jaminan pasokan kedelainya kontinyu. Jika pengrajin membeli kedelai petani, pedagang pengumpul mengacam tidak akan memberi pasokan kedelai kepada pengrajin. Sisi lain yang terjadi adalah perubahan areal dari tanaman pangan menjadi tanaman perkebunan sawit dan karet. Pembukaan areal hutan pada mulanya diperuntukan untuk tanaman pangan. Dengan berjalannya waktu petani mulai menanam sawit atau karet di lahannya, sehingga dalam waktu 4–5 tahun kemudian areal tanam tanaman pangan semakin menyempit dan bahkan akhirnya tanaman pangan tidak bisa berkembang. Perkembangan tanaman sawit/karet berkembang pesat dengan ditunjukkan pembibitan sawit dan karet banyak dijumpai di setiap halaman rumah. Upaya untuk mengembangkan tanaman kedelai dapat dirancang dengan menaikkan harga jual, memperbaikki sistem tata niaga kedelai. Agar areal tanaman pangan masih bisa berkembang, maka penanaman sawit/karet dibuat jarak tanam yang lebih lebar untuk memberikan tempat untuk tanaman pangan saat tanaman karet/sawitnya masih muda.
Kedelai di lahan kering susut karena pertanaman karet dan sawit, pembibitan sawit dan karet berkembang pesat di Kalimantan Selatan dan
sudah mengancam areal tanaman kedelai


Areal tanaman kedelai di ladang petani yang tidak luas dan dijual menjadi kedelai rebus.

Prof. Marwoto/AW