Berita » Keresahan Petani Ubi Kayu

Hingga kini harga komoditas ubi kayu belum juga memadai meski sudah mulai merangkak naik. Jalannya masih harus terseok bersaing dengan komoditas lahan kering lain yang punya nilai jual lebih tinggi seperti jagung. Petani ubi kayu sedang mengalami ujian berat.

Sebenarnya, kalau boleh diibaratkan, ubi kayu adalah “Mother of Various Products”. Banyak sekali produk yang bisa dihasilkan dari ubi kayu, yang sangat bermanfaat dan sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, ubi kayu merupakan salah satu sumber bahan bakar nabati yang sangat menjanjikan. Bahkan Agrina menyebutkan ubi kayu sebagai “White Gold” untuk masa depan Indonesia. Gambaran betapa pentingnya peran ubi kayu.

Kondisi lesunya pasar ubi kayu, menyebabkan program pengembangan ubi kayu terhambat. Sebagian petani ubi kayu beralih menanam jagung atau komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun demikian, masih banyak petani yang tetap memilih menanam ubi kayu dengan alasan lebih mudah menanam ubi kayu, tidak banyak gangguan hama dan penyakit, serta kebiasaan turun temurun.

Seperti petani di Kab. Simalungun, masih memiliki minat yang cukup tinggi untuk menanam ubi kayu. Varietas yang biasa ditanam diantaranya adalah Adira 4, Malaysia, Cikaret, dan ubi Lampung. Varietas Malang 4 mulai dikenalkan ke daerah ini tahun 2015 dan ternyata minat petani cukup tinggi. Produktivitas Malang 4 dapat mengalahkan varietas yang telah dikembangkan sebelumnya.

galau

Akhir tahun 2017, tercatat 22 petani yang mengadopsi Varietas Malang 4 di Kab. Simalungun dan enam petani di Toba Samosir. Bahkan Malang 4 sudah disebarkan hingga Kabupaten Tapanuli Utara yaitu di daerah Siborong-borong seluas 2 hektar. Bibit yang dihasilkan akan disebarkan kembali pada kegiatan pengembangan tahun 2018.

Petani sangat mengharapkan kebijakan pemerintah untuk mengangkat kembali harga ubi kayu sehingga petani tidak dirugikan. Tetaplah berharap, akan tiba saatnya ubi kayu bersinar kembali…..

KN/RK/YW