Berita ยป Peneliti Balitkabi menjadi Pemeriksa BUSS Ubijalar di Univ Pajajaran

1-a1ub2

Masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan ubijalar. Karena tingginya variasi genetik, tidak mudah menentukan suatu varietas karena bentuk daun sama daging dan kulit umbi berbeda, kulit umbi sama daging umbi berbeda dan seterusnya.

Para pemulia banyak memanfaatkan biji hasil persilangan bebas alami untuk memperoleh varietas unggul yang sesuai peruntukannya. Hal ini dilakukan juga oleh pemulia dari Fakultas Pertanian Univ Padjadjaran (Dr Agung Kurniawan) dalam rangka memperoleh calon varietas unggul yang daging umbinya berwarna kuning hingga oranye yang sesuai untuk produk olahan berupa pasta. Untuk mendapatkan calon varietas yang diharapkan, Pak Agung melakukan eksplorasi di pertanaman rakyat di Sumedang, Kuningan, dan Bandung Barat dalam wilayah Jawa Barat. Diperoleh 41 tetua berpotensi yang selanjutnya ditanam di Kebun Jatinangor Unpad Bandung untuk program pemuliaan dengan cara persilangan terbuka secara alam.

Dari hasil persilangan terbuka dan seleksi secara sistematis sesuai prosedur yang berlaku diperoleh genotipe F1 yang daging umbinya berwarna kuning hingga oranye yang dianggap sesuai untuk pasta dan disukai petani, yaitu Awachy-1, Awachy-2, Awachy-3, Awachy-4, dan Awachy-5.Lima genotipe ini memiliki kesamaan dan perbedaankarakter.

Untuk menghindari pemindahan kepemilikan dari pemilik asli yaitu Pemulianya maka kelima genotipe tersebut diajukan sebagai genotipe yang dilindungi ke PPVTPP (Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian). Pengajuan kepemilikan asli suatu genotipe, harus dilakukan uji BUSS dengan pembanding yang memiliki kemiripan karakter yang diuji namun ada karakter pembeda spesifik yang jelas sehingga genotipe yang diajukan betul-betul baru, unik, seragam, stabil (BUSS).Dr M. Jusuf dan St.A. Rahayuningsih, MS, peneliti-pemulia ubijalar dariBalitkabi bertindak sebagai pemeriksa dalam uji BUSS tersebut.

Masalah yang sulit adalah dalam pengamatan genotipe ubijalar adalah warna baik daun maupun umbi. Pengamatan secara manual hanya dikenal warna-warna utama dengan intensitas tua atau muda atau ada warna sekunder. Tanpa menggunakan color chart akan kesulitan memperoleh hasil yang tepat karena intensitas ketajaman penglihatan setiap orang berbeda. Sayangnya tidak semua peneliti memiliki color chart dan tidak mudah mendapatkan color chart.

Terdapat gradasi warna pada karakter umbi.Secara kasat mata agak sulit dibedakan antara Awachy-1 dan Awachy-2, dan warnanya sangat dekat dengan tetua betina Ceret, namun berbeda dengan pembanding Beta-1 dan Kidal. Awachy-3 mirip dengan Kidal berbeda dengan pembanding Beniazuma dan Ceret. Sedang Awachy-4 dan Awachy-5 mirip dengan Kokei-14 namun berbeda jelas dengan pembanding Beniazuma dan Ceret.

St.A.Rahayuningsih, M. Jusuf, dan Nurdini Khadidjah/AW