Berita » Kerjasama Balitbangtan dengan FAO: Pemanfaatan Berkelanjutan Keragaman Tanaman Indonesia

Sambutan Perwakilan FAO, Richard Trenchard

Sambutan Perwakilan FAO, Richard Trenchard

Pada 17-18 Februari 2021, Kementerian Pertanian melalui Balitbangtan dan FAO menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) secara daring dalam rangka penyusunan “Project Preparation Grant (PPG)” Global Environment Facility (GEF) 7 dengan topik “Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia”. Komoditas yang menjadi fokus kegiatan ini adalah padi (Oryza spp.), ubi talas (Colocasia esculenta), ubi uwi (Dioscorea spp.), cengkeh (Syzigium aromaticum syn. Eugenia aromatic) dan pala (Myristica fragrans). Provinsi Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Maluku Utara merupakan lokasi yang dipilih untuk pelaksanaan kegiatan.

FGD dihadiri oleh pihak GEF (Operational Focal Point), FAO perwakilan Indonesia, Kementerian Pertanian (termasuk Balitkabi), Kementerian dan lembaga lain (KLHK, Kemenkumham, Kemendes, LIPI), Komnas dan Komda Sumber Daya Genetik (SDG), Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, serta perusahaan dan lembaga swasta. Wakil Balitkabi yang hadir dalam FGD adalah Kepala Balitkabi Dr. Ir. Titik Sundari, M.P., didampingi para peneliti (Dr. Ir. Yuliantoro Baliadi, MS., Ir. Suhartina, M.P., Ir. Trustinah, M.P., B.S. Koentjoro, M. Kom., Eriyanto Yusnawan, Ph.D., Dr. Kartika Noerwijati, Dr. Febria Cahya Indriani, dan Wiwit Rahajeng, S.P.

Acara dibuka oleh Kepala Balitbangtan, Dr. Ir Fadjry Djufry, M.Si., yang diwakili oleh Ir. Mastur, M.Si., Ph.D. (Kepala BB Biogen). Dalam sambutannya, Fadjry mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkuat kegiatan konservasi dan pemanfaatan keberlanjutan keanekaragaman tanaman asal Indonesia yang signifikan secara global, baik di alam maupun lahan pertanian melalui praktek berkelanjutan dan peningkatan kapasitas, penguatan lingkungan, dan pengembangan mekanisme insentif jangka panjang. Richard Trenchard, Ph.D. (Perwakilan FAO untuk Indonesia) mengatakan bahwa dalam kegiatan ini diharapkan komitmen dan partisipasi aktif berbagai pihak dan pemangku kepentingan yang terlibat. GEF sangat mengedepankan partnership, transparansi, akuntabilitas, dan sustainabilitas. Harapan ke depan, project ini jangan hanya project biasa, namun harus bisa menjadi katalisator dan memiliki strategi untuk memastikan keberlanjutan manfaat project meski sudah berakhir.

FGD yang dilakukan selama 2 hari membahas berbagai aspek yang terkait dengan pemanfaatan SDG berkelanjutan. Pembicara terdiri dari Ir. Mastur, M.Si., Ph.D. (BB Biogen), Teresa Borelli (Alliance of Biodiversity and CIAT), Wawan Sujarwo, Sameer Karki dari GEF/FAO, Bappenas, KLHK, LIPI, Kemendes, dan Maxindo.

Pada sesi penutupan, Danny Hunter, Ph.D. (Alliance of Biodiversity and CIAT) menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat kaya keberagaman tanamannya. FGD selama dua hari ini telah banyak memberikan informasi. “Saya sungguh bersemangat bekerjasama dengan semua mitra,” kata Danny. Ke depan, harus diambil langkah-langkah efektif dalam mengerjakan proposal kegiatan ini dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. “Sangat penting identifikasi siapa saja yang memegang data untuk memberi info yang dibutuhkan dalam penyusunan proposal project ini,” lanjut Danny. Pihak yang terlibat disarankan untuk mempelajari dokumen PIF (dokumen pemandu). Mastur bersyukur acara inception meeting berjalan dengan lancar. Co-funding dan pelaksanaan project akan sangat bermanfaat. “Semoga project dapat dilaksanakan dengan baik dan gunakan PIF sebagai acuan,” kata Mastur sekaligus menutup acara.

Kepala Balitkabi berharap Balitkabi dapat berperan aktif dalam kegiatan ini khususnya untuk komoditas talas dan uwi sesuai dengan tupoksi Balitkabi.

KN/WR

fao1 fao2
Ir. Mastur, M.Si., Ph.D., dan peserta FGD