Berita » Kinanti di Bangsalsari Jember

Varietas lokal kedelai Kinanti, bersama Pak Sukron

Varietas lokal kedelai Kinanti, bersama Pak Sukron

Catatan sejarah memperlihatkan bahwa kedelai masuk ke Indonesia lebih dari 200 tahun yang lalu, karenanya, walaupun bukan sebagai pusat keragaman, banyak ragam varietas lokal kedelai di Indonesia. Sebut saja, varietas kedelai Merapi, yang dilepas tahun 1938 merupakan hasil seleksi terhadap varietas lokal Jatim. Kabupaten Jember sebagai salah satu sentra kedelai di Jatim, memiliki beragam varietas lokal kedelai.

Di Bangsalsari, Jember, petani mengenal dan menanam varietas kedelai lokal yang diberi nama Kinanti. Observasi lapang, terdapat dua warna polong varietas lokal kedelai yakni polong berwarna kuning dan coklat. Asal usul dari varietas lokal tersebut, beberapa petani mengemukakan asalnya dari Jajag, Banyuwangi. Di sekitar Jajag, Banyuwangi memang terdapat beragam penyebutan nama varietas lokal kedelai, seperti Martoloyo, Jepang Putih, Gedeg, dan lain sebagainya. Martoloyo cukup diminati di Banyuwangi. Memang terdapat kemiripan antara Kinanti dengan Martoloyo.

Panen varietas lokal Kinanti (kiri) dan bentuk tanaman (kanan)

Panen varietas lokal Kinanti (kiri) dan bentuk tanaman (kanan)

Disampaikan oleh tokoh petani, Pak Sukron, peruntukan utama Kinanti adalah untuk bahan baku kecambah (taoge), dan harga jual saat ini Rp. 6.500,00/kg, lebih tinggi dibandingkan harga jual kedelai bukan lokal yakni Rp.6.200,00/kg. Bahkan pada saat tidak musim panen kedelai Kinanti, harga jualnya mencapai Rp. 10.000,00/kg. Penanaman varietas lokal Kinanti adalah dengan cara sebar dan rata-rata membutuhkan benih 80-90 kg/ha. Kenyataan di lapang, memang populasi tanaman sangat padat dan cenderung rebah pada saat kedelai telah matang. Hasil Kinanti di Bangsalsari antara 1,80 – 2,00 t/ha.

Dituturkan lebih lanjut oleh Sukron, bahwa kebiasaan petani kedelai di Bangsalsari adalah melakukan panen saat tanaman kedelai sudah sangat kering. Prinsipnya hari ini dipanen besok dapat dilakukan pembijian dengan threser. Petani membutuhkan kedelai seperti Kinanti yang berumur genjah, pintanya lebih lanjut.
MMA