Berita ยป Komoditas Kedelai di Seminar Internasional SMAPs

SMAPs

Dalam rangkaian kegiatan ENIP (Ekspo Nasional Inovasi Perkebunan) 2013, Badan Litbang Pertanian melaksanakan International Seminar tentang Spice, Medicinal, and Aromatic Plants (SMAPs), 29 Agustus 2013 di Jakarta International Convention Center (JCC), bertemakan Spice, Medicinal, and Aromatic Plants (SMAPs) for Better Life and Environment. Topik bahasan pada SMAPs meliputi (1) Technology development status of SMAPs: implementation of GAP (good agricultural practices) in production and quality of SMAPs, (2) Post harvest and processing of SMAPs: harvesting, drying and storage, (3) Quality control, and standarization of SMAPs, (4) Current trend on the use of SMAPs: evidence bases of JAMU, (5) Food, food additive, preservative, colorant, SPA, botanical pesticides, and bio additive, serta (5) Industry, Trade, and Marketing of SMAPs: supply-demand, industry, and trade. Pada acara tersebut, dua makalah kedelai disampaikan oleh peneliti Balitkabi yakni: Black soybean as potential source of antioxidant oleh Ayda Krisnawati,S.P. dan Soybean isoflavones: potential and health benefits oleh Dr. Muchlish Adie, MS.

Keynote speech yang disampaikan oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian, mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian menyampaikan bahwa potensi ekonomi komoditas SMAPs sangat strategis bagi Indonesia, sebagai gambaran, Indonesia mengekspor Spices ke EU dengan total nilai mencapai USD 101.94 million pada tahun 2010. Demikian pula untuk komoditas pharmaceutical pada tahun 2012 nilai ekspornya sebesar USD 10 million dan 33.20% disumbangkan dari jamu. Karena nilai strategis tersebut maka perlu dilakukan perbaikan melalui perbaikan dan inovasi varietas; perbaikan produksi budidaya melalui bahan tanam, pupuk, pemacu pertumbuhan; penanganan hama penyakit secara biological, botanical dan refined product of SMAPs.

Seminar SMAPs diikuti oleh 132 peserta berasal dari Indonesia dengan mempresentasikan 21 makalah oral dan 63 makalah dalam bentuk poster. Invited speaker berasal dari India, Srilanka, Brasilia, Malaysia,Thailand, Vietnam, Indonesia serta Executive Director dari IPC (International Pepper Community). Pada seminar tersebut, bahasan terfokus pada komoditas tanaman non-pangan, kecuali yang disampaikan oleh peneliti Balitkabi. Padahal komoditas aneka kacang dan umbi juga potensial sebagai pangan fungsional masa depan. Nampaknya perlu gerakan masif untuk membumikan posisi aneka kacang dan umbi sebagai sumber pangan sehat dan menyehatkan.

MMA/Eriyanto