Berita ยป Adopsi Kedelai Biji Besar di Hutan Jati Banyuwangi

Berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai nasional, terutama yang terkait dengan penyediaan lahan. Dari sisi teknologinya, Badan Litbang Pertanian telah merakitnya untuk berbagai agroekologi, hanya masalahnya ketersediaan lahan untuk kedelai memang terus berkurang.Salah satu potensi pengembangan kedelai adalah di bawah tegakan tanaman tahunan, yaitu tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kayu putih) maupun di bawah tanaman jati muda. Bahkan, di Banyuwangi pengembangan kedelai dilakukan di bawah tanaman jeruk. Balitbangtan melalui Balitkabi telah merintis, merakit dan mengembangkan kedelai di bawah tanaman jati muda.Di Banyuwangi, pengembangan kedelai di bawah tanaman jati, konsisten dilakukan hingga sekarang. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan dan awal musim kemarau. Dari Observasi pada 26 Mei 2014, ternyata lahan di bawah tegakan jati muda, termasuk areal pengembangan jati, hampir seluruhnya ditanami kedelai. Dengan fakta seperti inilah, Banyuwangi senantiasa berkonstribusi sebagai sentra kedelai di Jatim.
Kedelai di bawah tegakan jati di Banyuwangi.Pada November 2013, saat musim hujan, Balitkabi melakukan produksi benih dasar (FS) kedelai biji besar (varietas Anjasmoro, Argomulyo, dan Burangrang) di bawah tegakan jati di kawasan KPH di wilayah Purwoharjo. Keragaan tanaman cukup bagus dan produksi benihnya juga bagus. Benih kedelai yang dihasilkan pada MH ini sangat strategis untuk penyediaan benih kedelai pada awal MK. Apalagi lahan yang bisa ditanami kedelai pada MH tidak terlalu luas. Dampak produksi benih tersebut, petani mulai mengenal beberapa varietas unggul, bahkan pada musim tanam MK1 sebagian petani sudah mulai menggunakan varietas Argomulyo dan Anjasmoro. Perderasan inovasi memang harus dilakukan dengan multi channel.MMA/AW