Berita ยป Konsorsium Kedelai Balitbangtan

konsorsium

Varietas unggul diakui sebagai inovasi teknologi budidaya yang paling dicari dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh pengguna, termasuk kedelai. Balitbangtan menginisiasi Konsorsium Kedelai tahun 2008, yang tujuannya adalah percepatan pelepasan varietas kedelai di Indonesia. Konsorsium Kedelai mengakomodir galur harapan yang dihasilkan oleh Lembaga Penyelenggara Pemuliaan (LPP) untuk diuji adaptasikan disentra kedelai di Indonesia. Uji adaptasi, merupakan kegiatan uji lapang di beberapa agroekologi bagi tanaman semusim, untuk mengetahui keunggulan dan interaksi varietas terhadap lingkungan. Jumlah unit minimum yang diperlukan untuk pelaksanaan uji adaptasi bagi tanaman kedelai adalah 8 lokasi dalam 1 musim atau 4 lokasi dalam 2 musim (MH dan MK). Berbagai LPP yang pernah berpartisipasi pada Konsorsium Kedelai adalah Balitbangtan (Balitkabi, BB Biogen), PAIR Batan, Perguruan Tinggi (Unpad, Unsoed, UB, Unej, Unram). Pada tahun 2014, Konsorsium Kedelai diikuti oleh Balitkabi, BB Biogen dan PAIR Batan dengan sasaran kedelai adaptif lahan pasang surut, kedelai toleran kekeringan, dan kedelai adaptif lahan sawah berbiji besar dan berumur genjah. Uji adaptasi 2014 dilakukan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan Bali.

Uji adaptasi toleran kekeringan dan awal tumbuh di Depok, MK1 2014.

Uji adaptasi di Pasuruan MK 1 2014 dan petani kooperator.

Hingga saat ini, varietas kedelai yang dihasilkan melalui Konsorsium Kedelai, baru berasal dari Balitkabi dan PAIR Batan. Balitkabi telah menghasilkan varietas kedelai Gema (2011), Dering 1 (2012), dan akan menyusul untuk dilepas adalah kedelai adaptif lahan masam dan dua calon varietas kedelai toleran naungan. PAIR Batan berhasil melepas varietas Mutiara (2010), Gamasugen 1 (2013), Gamasugen 2 (2013), dan telah disidangkan calon vaietas kedelai hitam. Melalui Konsorsium Kedelai tidak hanya terfokus kepada dilepasnya varietas unggul kedelai, juga meningkatkan dan memperluas networking antar peneliti, bahkan juga dengan penyuluh dan petani. Harapan kedepan, LPP kedelai yang lain juga mampu berkiprah, menghasilkan varietas unggul, yang memang ditunggu-tunggu oleh pengguna.

MMA