Berita » Koordinasi Pengelolaan SDG Akabi

Sumber daya genetik (SDG) tanaman aneka kacang dan umbi (akabi) merupakan kekayaan hayati yang harus dijaga kelestariannya. Pelestarian SDG dilakukan sebagai koleksi hidup (aneka umbi-umbian) atau dalam bentuk biji yang disimpan dalam ruang dingin (aneka kacang).

berita-220108-pengelolaansdg

Salah satu tahap penting dalam pelestarian adalah rejuvenasi, yaitu upaya memperbaharui mutu fisiologi benih/tanaman dengan tetap menjaga mutu genetik setiap aksesi. Pengelolaan lapang yang tidak tepat dapat menyebabkan kehilangan aksesi dan berkurangnya keanekaragaman koleksi SDG.

Dalam rangka upaya meningkatkan keragaan tanaman SDG serta meningkatkan kinerja pengelolaan rejuvenasi SDG di lapang dilakukan rapat koordinasi pengelolaan SDG akabi pada hari Jumat, 7 Januari 2022 bertempat di Ruang Pertemuan IP2TP Kendalpayak.

Rapat dihadiri oleh pengelola SDG yang mempunyai kegiatan di IP2TP Kendalpayak, yaitu Dr. Novita Nugrahaeni, Ir. Tinuk Sri Wahyuni, M.P., Pratanti Haksiwi Putri, S.P., S.Si., Ir. Suhartina, M.P., Kepala Kebun, Koordinator Teknik, dan teknisi IP2TP Kendalpayak.

Penanggungjawab kegiatan konservasi SDG porang, Novita Nugrahaeni, memaparkan upaya yang selama ini yang telah dilakukan dalam pelestarian SDG porang. Kata kunci dalam pengelolaan koleksi hidup disampaikan Novita saat mengawali paparannya, yaitu tidak boleh mati, harus optimal, tanpa mengganggu kegiatan atau tugas IP2TP yang lain.

Selanjutnya, peneliti yang sehari-hari berkecimpung di bidang pemuliaan tanaman ini menjelaskan tentang perencanaan dan teknis pengelolaan SDG porang yang optimal. “Sumber daya genetik merupakan aset yang harus dipertahankan kelestariannya”, sambung Tinuk Sri Wahyuni, penanggungjawab SDG ubi kayu Balitkabi.

Lebih lanjut, peneliti komoditas ubi kayu ini menerangkan tentang teknis konservasi SDG ubi kayu, mulai dari teknik rejuvinasi, kesesuaian lahan, serta pemeliharaan SDG ubi kayu.

Kiat-kiat pengelolaan SDG juga disampaikan oleh Pratanti Haksiwi Putri. Dalam paparannya, Pratanti lebih menekankan pada kesesuaian waktu tanam SDG aneka kacang potensial.

Selain itu, kegiatan pelestarian SDG juga dapat dimanfaatkan untuk sarana diseminasi. Selanjutnya, Suhartina memaparkan ide tentang pemanfaatan beberapa SDG yang potensial untuk memberikan hasil samping. “Ada beberapa SDG yang potensial digunakan untuk pemanfaatan hasil samping.

Hasil samping dari pemanfaatan SDG bisa digunakan untuk olahan atau produk lain, sehingga mempunyai fungsi ganda”, pungkas Suhartina.

Rapat diakhiri dengan diskusi tentang masalah-masalah yang ditemukan dalam pelaksanaan rejuvenasi SDG di lapang serta kesepakatan bahwa seluruh kegiatan pelestarian dan rejuvenasi SDG di lapang akan dikelola oleh IP2TP Kendalpayak yang dalam pelaksanaanya akan dibantu pengawalannya oleh penanggungjawab komoditi SDG agar pelaksanaan pelestarian SDG berjalan optimal.

SBE/NN