Berita » Kunci Sukses Budidaya Kedelai Kondisi Lahan Basah

Tahun 1993 Indonesia pernah swasembada kedelai dengan tingkat produksi 1,8 juta ton, namun lambat laun menurun drastis pada tahun 2002 dengan tingkat produksi sekitar 650.000 ton, selanjutnya tingkat produksi berfluktuatif sekitar 650.000–700.000 ton dan pada tahun 2015 mencapai 970.000 ton.

Turunnya produksi kedelai di Indonesia disebabkan antara lain karena banyaknya kedelai impor yang mengakibatkan harga menjadi lebih murah, sehingga petani enggan menanam dan beralih menanam tanaman yang lebih menguntungkan antara lain: jagung, kacang tanah, kacang hijau, dan sayuran. Berdasarkan sejarah perkembangan tanaman kedelai, mampukah kita mengulang sejarah yang pernah diraih pada tahun 1993?

Bagaimana dengan komoditas kedelai pada tahun 2016? Produksi kedelai tahun 2016 diperkirakan akan turun sebagai akibat antara lain:

  1. La Nina membawa pengaruh pada perubahan iklim yakni meningkatnya potensi curah hujan pada periode musim kemarau 2016 dan periode musim hujan tahun 2016/2017.  Di sektor pertanian tanaman pangan,hal ini akan mendorong meningkatkan luas tanam dan produksi padi. Dampak dari penambahan luas tanam padi, akan mengurangi lahan untuk tanaman kedelai.
  2. Harga kedelai berfluktuasi dan mengikuti harga internasional, terlebih lagi pada saat panen raya, harga komoditas ini turun, sehingga para petani tidak bergairah dan tidak menanam kedelai lagi.
  3. Penetapan HPP sudah ada dengan harga Rp7.700/kg tetapi kenyataan di lapangan, hingga kini tidak ada yang membeli dengan harga HPP. Berdasarkan PP No 48 Tahun 2016 Pemerintah menugaskan Perum BULOG dalam menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk jenis pangan pokok beras, jagung, dan kedelai.
  4. Efisiensi anggaran dan pengembalian dana bantuan untuk budidaya kedelai oleh petani telah teridentifikasi seluas 234.376 ha, dari target 700.000 ha. Dari angka ini pengurangan produksi kedelai di Indonesia diprediksi 234.376 ha x rata-rata hasil 1,56 t/ha sama dengan 365.626 t.
    Sebuah  angka yang fantastik dan pengurangan produksi kedelai yang cukup besar pada tahun 2016. Sedangkan produksi kedelai pada tahun 2015 mencapai 963.183 t. Oleh karena itu untuk meningkatkan produksi kedelai menuju swasembada diperlukan kerja keras dari institusi yang terkait.

La Nina membawa pengaruh pada perubahan iklim, yakni meningkatnya potensi curah hujan pada periode musim kemarau 2016 dan periode musim hujan tahun 2016/2017. Pada kondisi basah seperti sekarang ini, di beberapa daerah sentra kedelai Jawa Tengah, Jawa Timur dan NTB, banyak tanaman kedelai yang terendam air, yang berakibat gagal tumbuh dan panen, selanjutnya petani mengolah lahannya untuk menanam padi lagi.

Kenapa kedelai pada musim tanam sekarang gagal? Salah satunya disebabkan karena petani beranggapan tanam kedelai pada musim kering tidak perlu membuat saluran drainase. Namun apa yang terjadi?  Karena perubahan iklim, lahan menjadi basah dan tergenang air, karena saluran drainase tidak berfungsi menyebabkan tanaman kedelai mati.

Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi, seandainya saluran drainase dibuat dengan baik. Salah satu kunci sukses dalam budidaya kedelai adalah membuat saluran drainase, yang berfungsi untuk menambah air jika tanaman kekeringan dan membuang air apabila tanaman tergenang air.

Salah satu sifat tanaman kedelai,adalah tidak tahan terhadap genangan, oleh karena itu kita harus membuat kondisi lahan sesuai dengan sifat tanaman kedelai. Tanaman kedelai yang ditanam sesuai dengan teknik budidaya yang benar dan saluran drainase dibuat dengan baik, maka tanaman dapat tumbuh subur dan baik.

Pertanaman kedelai dengan saluran drainase yang baik selamat dari genangan air MT III/MK II di KP Genteng, Banyuwangi.

Pertanaman kedelai dengan saluran drainase yang baik selamat dari genangan air MT III/MK II di KP Genteng, Banyuwangi.

Pertanaman kedelai tanpa saluran drainase, pertumbuhannya kurang baik (kiri), lahan yang basah/banjir,dibajak kembali dan ditanami padi (Lokasi di Klaten MT III/MK II) (kanan).

Pertanaman kedelai tanpa saluran drainase, pertumbuhannya kurang baik (kiri), lahan yang basah/banjir,dibajak kembali dan ditanami padi (Lokasi di Klaten MT III/MK II) (kanan).