Berita » Kunjungan Lapang Peneliti Korea dalam Kerjasama AFACI

1-afac-1

Dalam rangka kerjasama AFACI 2010-2012, delegasi Korea mengunjungi Indonesia untuk mengetahui lebih banyak potensi pertanaman kedelai di Indonesia. Beberapa lokasi menjadi tujuan kunjungan ini, di antaranya adalah Kalimantan Selatan dan Malang. Di Kalimantan Selatan, kunjungan dilakukan di Badan Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) Balitbangda Kalsel di Kecamatan Tambang Ulang dan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balitra), sedangkan di Malang kunjungan dilakukan di Balitkabi dan KP Jambegede.

 

Di BP3T Kalimantan Selatan, delegasi korea yang terdiri dari Dr. Han Won-Young dan Dr. Ko Jong-Min yang didampingi Dr. Heru Kuswantoro dari Balitkabi dan Ir. Edddy William dari Balitra, mengunjungi pertanaman kedelai yang merupakan bagian dari kerjasama antara Indonesia dengan Korea. Dari kunjungan tersebut disarankan untuk dilakukannya

pemuliaan kedelai untuk lahan kering masam yang juga memiliki sifat toleransi terhadap pangisap polong. Hal ini disebabkan karena di daerah lahan kering masam, tanaman kedelai rentan terhadap serangan hama pengisap polong.

Dr. Han Won-Young dan Dr. Ko Jong-Min didampingi peneliti Balitkabi dan Balitra mengunjungi BP3T Kalimantan Selatan

Di Balitra, delegasi Korea mengadakan diskusi tentang potensi pengembangan kedelai di lahan rawa yang dipimpin oleh Dr. Muclish mewakili Kepala Balitra. Dalam diskusi tersebut diungkapkan bahwa lahan rawa sangat luas dan dapat ditanami segala jenis tanaman termasuk kedelai. Sebelum perubahan tugas pokok dan fungsi Balitra yang khusus diarahkan pada perbaikan kondisi lahan rawa, Balitra juga pernah melepas dua varietas unggul kedelai adaptif lahan pasang surut, yaitu varietas Lawit dan Menyapa. Kedua varietas ini memiliki ukuran biji kecil sehingga kurang disenangi petani. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan pada ukuran biji.


Dr. Han Won-Young dan Dr. Ko Jong-Min mengamati pertanaman kedelai di BP3T Kalimantan Selatan


Di Balitkabi, delegasi Korea mengunjungi rain shelter yang dibangun atas kerjasama antara Indonesia dengan Korea. Rain shelter yang berukuran 20 m x 15 m ini dibangun dengan tujuan sebagai tempat penelitian kedelai toleran kekeringan. Hal yang mendasari dibangunnya rain shelter adalah adanya perubahan iklim sehingga musim hujan kadang kala terjadi pada saat musim kemarau sehingga penelitian kekeringan tidak dapat dilaksanakan di lapang. Dengan adanya rain shelter ini, penelitian kekeringan dapat dilakukan kapan saja meskipun pada saat musim hujan. Selain mengunjungi rain shelter, delegasi Korea juga mengunjungi lokasi pertanaman kedelai introduksi dari Korea. Kondisi pertanaman kedelai yang berasal dari Korea di Indonesia berbeda dengan kondisi pada saat ditanam di Korea, di mana kedelai tersebut lebih cepat berbunga dan berpolong. Delegasi Korea juga mengunjungi pertanaman kedelai di KP Jambegede. Berbagai masalah teknis budidaya kedelai didiskusikan, seperti benih, pengolahan tanah, pemupukan, pengairan serta pengendalian hama dan penyakit.