Berita ยป Laboratorium Lapang Varietas Kedelai di Serambi Mekah

LL Varietas Kedelai di Desa Peunaron Baru, Aceh Timur.

Sepuluh tahun yang lalu, di Serambi Mekah, tepatnya di Desa Peunaron Baru, pernah menjadi primadona kedelai, namun karena ketidakpastian harga maka minat petani menanam kedelai menjadi berkurang. Oleh karena itu, tidak salah jika upaya mengungkit kembali perkedelaian nasional dimulai dari bumi Serambi Mekah, Provinsi NAD, tepatnya di Desa Peunaron Baru, Aceh Timur. Secara umum Provinsi Aceh memang menjadi produsen kedelai utama di Indonesia.

Diawali kunjungan kerja Kepala Badan Litbang Pertanian ke Provinsi NAD dan Sumatera Utara. Selanjutnya Bupati Aceh Timur dan jajarannya, menyampaikan potensi Aceh Timur sebagai sentra produksi kedelai. Tersedia lahan di perbukitan yang sangat luas, mencapai luasan 1000 ha, untuk kedelai, papar beliau. Tindak lanjut cepat dan terkoordinatif disiapkan oleh Badan Litbang Pertanian, ditandai dengan Launching Gerakan Tanam Kedelai, oleh Menteri Pertanian, 15 Desember 2012.

Badan Litbang Pertanian dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memberikan bantuan benih benih untuk hamparan 57 ha. Menurut Jumali, Penyuluh Pertanian di Penauron Baru, terdapat 8 kelompok tani pada hamparan 57 ha. Dulunya petani menanam varietas Orba, dengan hasil biji 1,50 hingga 2,0 t/ha.

LL Varietas Kedelai di Desa Peunaron Baru, Aceh Timur.

Di tengah-tengah hamparan kedelai tersebut, Badan Litbang Pertanian, menanam percobaan varietas kedelai berbiji besar yaitu Anjasmoro, Argomulyo, Burangrang, dan Grobogan pada tanggal 12-12-12, seluas 1 ha. Demo varietas tersebut tentu sebagai Laboratorium Lapang (LL), sebagai media diseminasi dan pengenalan varietas kepada penyuluh dan petani. Ir. Abdullah Taufiq MS, Peneliti Balitkabi, yang memimpin langsung penanaman percobaan varietas menyampaikan bahwa respons petani cukup tinggi, apalagi yang ditanam adalah varietas baru, petani merasa mendapatkan gairah lagi untuk menanam kacang kuning (istilah mereka untuk kedelai).

Topografi lahan memang berbukit, namun menurut PakJumali,Penyuluh setempat, tanahnya sangat subur, dulu tinggi tanaman kedelai ada yang mencapai 1 m. Lahan yang digunakan untuk LL Varietas adalah bekas tanaman padi gogo. Pak Jumali menambahkan bahwa padi gogo mulai ditanam sekitar 2004 yang lalu, dan sejak 2012 luas tanaman padi gogo berkembang sangat luas. Varietas yang ditanam menurut Pak Ade, petani setempat, adalah Rias dengan umur panen 6 bulan, hasilnya bisa mencapai 2,50 t/ha. Diperagakannya beberapa varietas padi gogo (Inpago) di lapang memberi harapan dan semangat baru bagi petani. Dalam LL Varietas, Suwandi, petugas dari Balai Penelitian Tanah mengkombinasikannya dengan display pembuatan teras dan penanaman rumput gajah. Juga dilakukan peneraan pH tanah menggunakan PUTK yang disaksikan oleh petani, yang sekaligus mengajari petani dan penyuluh cara penggunaan dan implikasinya dengan keharaan tanah. Petani merasa sangat senang mendapatkan pengetahuan baru tersebut, walaupun sambil berkelakar, mereka menyebutnya seperti main sulap, karena warna cairannya berubah-ubah.

Kepala Dinas Pertanian Aceh Timur (Bapak Sigiarto) memberikan apresiasi terhadap LL Varietas dan pengembangan kedelai di Peunaron Baru. Menuruthitungan Pak Sugiarto, pada bulan Maret 2013 nanti pengembangan kedelai di Aceh Timur sekitar 54.000 ha, dari mana benihnya? “Ya dari pengembangan kedelai yang seluas 57 ha di Desa Peunaron Baru tadi” jawabnya. Hal inilah yang membuat apresiasi jajaran pemerintah daerah Aceh Timur terhadap kegiatan Badan Litbang Pertanian.

MMA/AW