Berita » Lahan Kering NTB Potensial untuk Produksi Benih Kedelai

Potensi lahan kering di NTB untuk produksi benih pada musim hujan

Sebagian besar lahan di Provinsi NTB berupa lahan kering 1.807.463 ha atau 84% dari luas wilayah NTB. Pengertian lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Topografi wilayah lahan kering di Provinsi NTB cukup beragam, mulai dari datar, bergelombang hingga berbukit dan bergunung dengan kemiringan antara 0% sampai lebih dari 40%. Luas lahan kering dengan kemiringan 0-2% mencapai 16,57%; kemiringan 3-15% seluas 26,55%; kemiringan 16-40% seluas 35,06%; dan kemiringan lebih dari 40% seluas 21,83%. Jadi sebagian besar lahan kering di Provinsi NTB memiliki kemiringan di atas 15%. Jenis tanah yang terdapat di lahan kering didominasi oleh tiga ordo yaitu entisol, iseptisol dan vertisol.  Lahan kering Provinsi NTB ditemukan 17 jenis sub ordo tanah. Kesuburan tanah sangat rendah yang dicirikan oleh rendahnya kandungan bahan organik, agregat tanah yang kurang mantap, peka terhadap erosi, dan kandungan hara utama (N, P, K) yang relatif rendah.  Sebagian besar kondisi lahan kering di NTB dicirikan dengan iklim semi-arid-tropik yang dipengaruhi oleh musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung dari bulan Desember–Maret atau 4 bulan sedang musim kemarau berlangsung dari bulan April–November atau 8 bulan. Menurut klasifikasi iklim Oldeman, et al., 1980 daerah-daerah yang memiliki bulan basah kurang dari 3 bulan dan antara 3-4 bulan dengan bulan kering 4–6 bulan dan di atas 6 bulan digolongkan ke dalam iklim D3, D4, E3 dan E4 atau daerah dengan tipe iklim kering. Dari luas lahan kering tersebut di atas yang riil dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan status lahan adalah sekitar 626.034,60 hektar atau sekitar 31% luas wilayah NTB. Sebagian besar penggunaan lahan kering di Provinsi NTB untuk hutan negara (931.737 ha) atau 51,5%; hutan rakyat (241.253 ha) atau 13,3%; tegalan (173.774 ha) atau 9,6%; ladang (49.330 ha) atau 2,70%; padang rumput (38.132 ha) atau 2,1%; kebun (36.663 ha) atau 2,00%; pekarangan (32.667 ha) atau 1,8%; dan penggunaan lainnya seluas (303.898 ha) atau 16,9%. Lahan kering yang banyak digunakan untuk kegiatan budidaya pertanian di wilayah lahan kering Provinsi NTB meliputi: sawah tadah hujan, tegalan, ladang, perkebunan dan kebun campuran. Mempelajari karakteristik biofisik lahan kering di NTB di atas yakni lahan kering cukup luas, kesuburan sedang dan dapat dipelihara, dan kondisi iklim yang kering yakni bulan basah hanya 3 bulan, maka tipe lahan kering ini sesuai untuk pertumbuhan tanaman kedelai yang tidak menghendaki lahan yang basah.  Penanaman kedelai justru dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan bintil-bintil akar kedelai yang tertinggal di lahan kering tersebut. Seperti kita ketahui bahwa konsumsi kedelai di Negara kita cukup besar dan baru bisa kita cukupi sekitar 35–45%, selebihnya dari impor. Kecukupan kedelai dalam rangka pogram pencapaian swasembada kedelai 2014, dilakukan upaya peningkatan produktivitas dan perluasan areal.  Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kedelai adalah masalah ketersediaan benih dan kualitas benih.  Keluhan bantuan benih selama ini, antara lain karena keterlambatan penyediaan benih, kualitas benih yang kurang baik dan varietas kedelai yang tidak sesuai dengan preferensi petani.  Upaya untuk memenuhi kebutuhan benih dapat dilakukan dengan menghidupkan dan melaksanakan sistem jalur benih antar-musim dan antar-lokasi (JABALSIM). Keuntungan dengan JABALSIM, a) ketersediaan benih dapat dicukupi di sentra produksi sendiri, b) kualitas benih terjaga dengan tidak terlalu lama menyimpan benih, c) varietas sesuai dengan preferensi petani, karena diproduksi di lingkungan sendiri, d) potensi penangkar lokal cukup memadai sebagai penyangga kebutuhan benih. Provinsi NTB termasuk salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia dengan luas panen rata-rata (5 th terakhir) 78.589  ha tiap tahun dan rata-rata produktivitas 1,15  t/ha dengan produksi  rata-rata 90.288 ton /th.  Dengan luas tanam 78.587 ha, maka diperlukan benih 3.144 ton. Penyediaan benih sumber sebesar 3.144 ton bagi NTB sebenarnya tidak sulit, karena NTB mempunyai lahan kering yang cukup luas  626.034,60 hektar.   Provinsi NTB yang mempunyai potensi lahan kering yang cukup luas dan kondisi iklim yang mendukung untuk pertumbuhan tanaman kedelai, maka kondisi ini sangat mendukung proses produksi benih kedelai melalui sistem JABALSIM. Benih produksi musim hujan dapat ditanam di lahan kering/pegunungan, hasilnya dipersiapkan untuk benih sumber pada MK I di lahan sawah tadah hujan; hasil benih dari sawah tadah hujan dipersiapkan untuk ditanam pada lahan sawah irigasi pada MK II, hasil benih dari sawah irigasi dipersiapkan kembali untuk perbenihan di lahan kering/pegunungan pada musim hujan berikutnya.  Dengan sistem ini kualitas benih dapat terjaga tanpa melalui penyimpanan yang lama. Sistem ini juga mampu menyediakan benih sendiri di daerah sendiri dan varietas yang ditanam sesuai dengan permintaan petani.  Provinsi NTB mempunyai 3 tipe lahan untuk produksi benih kedelai, melalui sistem JABALSIM yakni: a) Lahan kering/pegunungan, b) lahan sawah tadah hujan dan c) lahan sawah irigasi.  Budidaya  tanaman kedelai di NTB biasa ditanam di 3  tipe lahan tersebut, lahan kering sangat potensial untuk produksi kedelai maupun benih kedelai. Dukungan kebijakan pemerintah daerah sangat di butuhkan, pembinaan penangkar lokal terus di berikan , fasilitas dan kemudahan memperoleh modal, bantuan sarana dan prasarana yang diperlukan.  Dengan system JABALSIM ketersediaan benih di lokasi di harapkan selalu terjaga dan kualitas benih sesuai dengan preferensi petani.

Baca juga Anjasmoro dan Grobogan Menjadi Idola Petani Nusa Tenggara Barat

Potensi lahan kering di NTB untuk produksi benih pada musim hujan

Produksi benih kedelai di lahan sawah irigasi pada MK II, benih siap di tanam untuk produksi benih di lahan kering pada musim hujan

Produksi benih kedelai dari lahan sawah, siap di tanam di lahan kering pada musim hujan 2013