Berita » Laporan Kunjungan ke Korea Selatan

heru_afaci_3

Badan Litbang Pertanian mengadakan kerjasama penelitian kedelai dengan Korea Selatan (Korsel). Badan Litbang menunjuk Balitkabi untuk melaksanakan kerjasama tersebut. Menindaklanjuti kerjasama tersebut, Dr.Ir. Heru Kuswantoro, pemulia Balitkabi, melakukan kunjungan kerja ke Korsel. Di sana, Pak Heru mempelajari teknologi budidaya tanaman, pemuliaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, dan pengenalan produk-produk berbahan kedelai. Teknik budidaya tanaman kedelai di Korsel sudah cukup maju. Hal ini dapat terlihat dari teknik pengolahan lahan, pengendalian gulma, teknik pemanenan, dan pengolahan pascapanennya. Sejak pengolahan lahan hingga pengolahan produk hampir semua menggunakan mesin. Penggunaan mesin ini juga bermacam-macam pada setiap tahapannya mulai dari mesin pengolah lahan, mesin penanaman, pemanenan, dan pengolahan produk kedelai.

Misalnya pada penanaman, jika lahannya luas dan memungkinkan, penanaman dilakukan dengan mesin besar, namun jika luas lahanya sempit dan medannya sulit, pilihan jatuh pada mesin kecil. Selain itu, teknik pengendalian gulma tanaman kedelai juga cukup unik. Pengendalian gulma umumnya menggunakan plastik hitam yang ditutupkan pada permukaan tanah. Di Indonesia penggunaan mulsa plastik umumnya diterapkan pada tanaman sayuran atau buah misalnya cabai dan semangka atau melon, yang nilai ekonominya tinggi.

Di Korea Selatan jarak tanam pada tanaman kedelai adalah 60 x 10, 15 cm atau 70 X 15, 20,25 cm sedangkan di indonesia jarak tanamnya adalah 40 X 10, 15 cm. Walaupun jarak tanam lebih lebar sehingga populasi tanaman per satuan luas lebih sedikit tetapi produksi kedelai tidak kalah dengan Indonesia.  Produktivitas kedelai di Korsel antara 1,4-1,9 ton/hektar (Ministry for Food Agricultural Forestry and Fisheries tahun 2007-2010) sedangkan di Indonesia produktivitas kedelai pada tahun 2009 hanya 1,29-1,33 ton/hektar (Deptan 2009). Untuk menghasilkan varietas baru, pemulia tanaman di Korea membutuhkan waktu lebih lama daripada di indonesia, karena waktu tanam hanya satu kali dalam setahun. Pemuliaan kedelai di Korsel sudah dimulai sejak 1913.  Pada tahun 1969 diperoleh satu varietas hasil persilangan yang diberi nama Kwangkyo. Hingga saat ini telah dihasilkan 133 kultivar, yang terbagi dalam empat kelompok penggunaan, yaitu kelompok varietas kedelai khusus untuk produk olahan yakni untuk pasta, untuk kecambah, untuk pewarna nasi atau campuran nasi, dan untuk sayuran. Pada pengolahan hasil kedelai juga terdapat banyak hal yang menarik dan inspiratif. Untuk kebutuhan konsumsi pengolahan kedelai sudah sangat beranekaragam. Biji kedelai dibuat berbagai macam produk seperti tahu, saus, pasta, susu dan kecambah. Uniknya adalah semua produk diolah menggunakan teknologi mesin sehingga sangat efisien dalam biaya produksi. Produk yang dihasilkan juga menarik misalnya kecambah diberi pewarna menggunakan antosianin dari ubi jalar sehinga warnanya bisa bermacam-macam. Dengan penggunaan pewarna alami seperti ini tentu sangat baik untuk kesehatan. Selain untuk produk olahan, biji kedelai juga digunakan untuk bahan sayuran dan campuran nasi. Misalnya nasi dicampur dengan kedelai hitam. Selain merakit varietas baru, lembaga penelitian di Korsel juga bertugas melakukan peramalan waktu tanam kedelai yang tepat untuk musim-musim yang akan datang.  Mereka menanam kedelai dengan waktu yang berbeda-beda dengan selang waktu 1 bulan kemudian menghitung produksinya pada setiap tanaman yang ditanam pada waktu yang berbeda tersebut.  Dari masing-masing waktu tanam yang berbeda nanti dapat ditentukan kapan waktu tanam yang tepat agar dicapai produksi optimal.  Hal ini sangat penting karena musim tanam di Korsel biasanya hanya bisa dilakukan satu kali dalam satu tahun. Peramalan ini merupakan sesuatu yang menarik karena di indonesia  belum ada dan meskipun ada belum dimanfaatkan secara maksimal. Ke depan, pemuliaan kedelai diarahkan untuk membentuk varietas baru yang ramah lingkungan, sesuai dengan produk makanan yang akan dibuat, memiliki fungsi khusus, dan perubahan permintaan. Usaha yang dapat dilakukan misalnya mengembangkan kultivar yang berbeda dengan produk impor, mengembangkan kultivar yang memiliki fungsi khusus, mengembangkan kembali varietas-varietas lama yang memiliki nilai potensial yang tinggi, meningkatkan adaptasi di lahan sawah, merakit kultivar yang mudah dipanen menggunakan teknologi mesin, dan mengaktifkan dan mengembangkan penggunaan bioteknologi. Orientasi pemuliaan seperti ini merupakan suatu hal yang sangat baik karena selama ini di Korsel dan juga di Indonesia pemuliaan kedelai masih berorientasi pada produksi tinggi, tahan terhadap cekaman lingkungan, dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Tris/Heru/Win