Berita » Litbang Dorong Sulsel Jadi Sumber Benih Kedelai Indonesia Timur

1-kedelai-sumsel-1

Sulawesi Selatan potensial sebagai produsen benih kedelai kawasan Indonesia Timur. Dasarnya adalah ketersediaan lahan, kondisi iklim, dan kemampuan petani/kelompok tani, dan yang paling penting adalah keunikan iklimnya. Sulawesi Selatan dipilah menjadi tiga sektor, yakni: (a) Sektor Barat, (b) Sektor Timur, dan (c) Sekor Peralihan. Wilayah Sektor Barat musim hujannya berlangsung antara Oktober/November – Juni/Juli, dan musim kemarau antara Juli/Agustus – September/Oktober. Wilayah Sektor Timur, kondisi iklimnya berkebalikan dengan Sektor Barat, apabila Sektor Barat memasuki musim hujan, maka Sektor Timur memasuki musim kemarau; demikian juga, jika Sektor Barat musim kemarau maka Sektor Timur musim hujan. Bagi Wilayah Sekor Peralihan, waktu penyebaran musim hujan dan kemaraunya kurang-lebih di antara kondisi Sektor Barat dan Sektor Timur. Kondisi tersebut akan memperkuat jabalsim (jalinan benih antar lapang dan antar musim kedelai). Melalui kegiatan Konsorsium Kedelai, dilakukan temu lapang ”Penangkaran benih sumber mendukung pengembangan sistem perbenihan jabalsim kedelai di Sulawesi Selatan”, 10 Oktober 2012 di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros (Sulawesi Selatan). Temu lapang dihadiri 200 peserta terdiri dari petani, penangkar benih dari lima sentra produksi kedelai, penyuluh, wanita tani, dan mahasiswa. Rangkaian kegiatan penangkatan benih sumber kedelai yang dilakukan bersama dengan BPTP Sulsel, diawali dengan sosialisasi 10 varietas kedelai yang dilakukan di Kebun Percobaan BPTP Sulsel; petani memilih dua varietas, yakni Anjasmoro dan Grobogan. Pada bulan Juli 2012 dilakukan penangkaran benih kedua varietas tersebut seluas 3 ha di Desa Jenetaesa. Keragaan tanaman sangat bagus, bahkan Ketua Gapoktan (Mustari) berujar ”baru kali ini melihat kedelai sangat bagus”. Sebelum temu wicara dilakukan panen perdana oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel, Asisten II Daerah Kabupaten Maros, Kepala Puslitbang Tanaman Pangan (diwakili oleh Kabid PE), Kepala Balitkabi, dan Kepala BPTP Sulsel. Prof. Subandi (penanggung jawab kegiatan) menjelaskan bahwa teknologi TOT (tanpa olah tanah) mampu mengoptimalkan produksi benih kedelai, yang diperkirakan hasil biji Anjasmoro bisa mencapai 2,8 t/ha dan hasil biji Grobogan 2,2 t/ha. Pada penangkaran dua varietas kedelai paling tidak akan dihasilkan 6 ton benih kedelai SS (Benih Pokok), diharapkan akan ikut memperkuat penyediaan benih kedelai di Sulsel. Temu wicara, dihadiri oleh Direktorat Buakabi Ditjentan Pangan, Perum SHS, Kepala Kantor Ketahanan Pangan, Kepala Balitsereal, Kepala BPTP Sulsel serta Dinas PU Kabupaten Maros. Kepala Balitkabi mengawali temu wicara dengan menyampaikan bahwa Provinsi Sulsel berpotensi sebagai produsen utama benih kedelai bukan hanya untuk kawasan Sulsel, tetapi juga menjadi penyangga perbenihan kedelai untuk Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, bahkan bisa bergerak ke Kalsel dan Kaltim. Kepala Dinas Pertanian Sulsel menyampaikan terima kasih kepada Badan Litbang Pertanian, yang ikut menggerakkan kembali kedelai di Sulsel, dan Provinsi Sulsel akan mendukung peningkatan produksi kedelai di Sulsel, yang dipertegas bahwa Kepala Diperta sentra kedelai wajib datang dan melihat gelar perbenihan kedelai yang dilakukan Badan Litbang Pertanian di Jenetaesa. Sambil berkelakar Pak Luthfi (Kadis Pertanian Sulsel) mengutarakan petani masih lebih berat menggunakan mata daripada otak, artinya dengan melihat langsung keragaan suatu inovasi akan lebih mudah diadopsi oleh petani. Gelar perbenihan kedelai ini yang keragaannya sangat bagus, akan mudah diadopsi oleh petani. Hal senada juga disampaikan salah satu mahasiswa yang hadir, yang mengapresiasi temu lapang, dan mengharapkan ada gerakan nyata dari pemerintah untuk meningkatkan animo dan kegiatan kepada pemuda yang saat ini mulai enggan terjun ke bidang pertanian. Pihak Perum SHS setelah ikut serta melihat keragaan di lapang, siap menampung hasil benih kedelai. Harapan kedelai berkembang dari ujung timur.

Panen perbenihan kedelai Anjasmoro dan Grobogan di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros (Sulawesi Selatan).

Temu wicara

Arahan Ka Diperta Sulsel

Kunjungan lapang