Berita ยป Liuran dan Embretan, Kearifan Lokal Desa di Aceh

Keasrian dan kebersamaan petani Peunaron.

Desa Peunaron Baru yang berada di Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur menjadi tempat dilaunchingnya Gerakan Tanaman Kedelai oleh Menteri Pertanian, 15 Desember 2012. Topografinya berbukit-bukit, penduduknya merupakan transmigran dari berbagai wilayah di Pulau Jawa yang telah hidup rukun dengan penduduk setempat.

Areal pertanian sangat luas, selain untuk tanaman perkebunan juga potensial sebagai pengembangan tanaman padi gogo dan kedelai. Keharmonisan dan kebersamaan petaninya melahirkan sistem kerja bersama yang disebut Liuran, di samping juga adalah Embretan. Liuran merupakan kegiatan gotong royong dari petani, baik laki-laki maupun perempuan dalam melakukan aktivitas pertanian. Embretan, merupakan pengupahan tenaga kerja pada aktivitas pertanian.

Keasrian dan kebersamaan petani Peunaron.

Liuran menjadi sangat penting dan telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat pertanian, penyebabnya logis, karena lahan luas, berbukit-bukit dan tenaga kerja terbatas. Peran Ketua Kelompok Tani, sangat penting dalam menggerakkan sistem liuran. Menjelang musim tanam, dimusyawarahkan dan diidentifikasi, kapan petani akan menanam, luasnya berapa dan butuh berapa tenaga kerja. Keluarga petani (suami dan isteri) dengan sukarela mendaftarkan kepada ketua kelompok untuk ikut serta dalam kegiatan liuran, dan ketua kelompok akan menyampaikan jadwal tanam kepada anggota kelompok. Dengan sistem liuran, petani tidak terbebani dengan upah tenaga kerja, bahkan konsumsi untuk peserta liuran, juga tidak ada.

Liuran umumnya digunakan untuk kegiatan penanaman, sedangkan kegiatan lainnya lebih banyak menggunakan embretan (mengupah tenaga kerja). Penjelasan Pak Ade, petani Peunaron, kalau penanaman sudah pasti diperlukan dan cara penanamannya akan sama, tetapi misalnya penyiangan, ada pemilik lahan yang ingin lebih bersih tetapi ada yang kurang intensif menyiangnya, sehingga lebih baik menggunakan embretan. Walaupun liuran dilakukan dalam konteks kebersamaan, namun tetap diperhitungkan, misalnya dalam satu keluarga telah menyumbang 40 tenaga liuran, maka pada saat yang bersangkutan akan melakukan penanaman maka akan mendapatkan 40 tenaga liuran. Andaikata, membutukan lebih dari 40 tenaga, maka sisanya akan dipenuhi dari embretan. Dengan berseloroh, petani menyampaikan uang di sini tidak terlalu diperlukan, karena ada liuran.

Kearifan lokal tumbuh menjawab kondisi. Rumah petani yang terpencar dan topografi berbukit membutuhkan liuran. Liuran juga menjadi perekat dan penguat hubungan kemasyarakatan. Penyiapan launching Gerakan Tanam Kedelai dan Display Varietas Kedelai, yang ditangani oleh peneliti dan teknisi Balitkabi berserta Balit Tanah dan BB Padi, tentu bersama-sama Diperta Aceh Timur, mendapatkan efek kebersamaan akibat liuran. Peneliti dan Teknisi Badan Litbang Pertanian bahu-membahu dengan petani, bekerjasama dan bercanda penuh kebersamaan. Kedamaian, memang menjadi idaman kita semua.

MMA/AW