Berita » Mandiri Benih Kedelai di Sulut

Dalam rangka memperkuat perbenihan kedelai nasional, pemerintah menempuh upaya memandirikan benih kedelai pada setiap kawasan. Sehingga penyediaan benih pada suatu kawasan tidak tergantung pada daerah lain dan kemungkinan tepat varietas dan tepat waktu akan semakin mendekati kenyataan.

Menyongsong hal tersebut, Balitbangtan juga memiliki kegiatan meningkatkan pengetahuan calon penangkar di 12 sentra produksi kedelai yang telah dilaksanakan di Balitkabi pada bulai Mei yang lalu. Agar kedua hal tersebut memiliki keberhasilan, dilakukan monitoring maupun evaluasi pada beberapa provinsi.

Pada workshop penguatan calon penangkar, provinsi Sulut mengirimkan 2 peserta yaitu I Dewa Gede Gunartha dan I Gusti Putu Ardana, keduanya berasal dari sentra kedelai di Kabupaten Molmog, dan didampingi oleh peneliti BPTP Sulut yaitu Ir. Gibson GT, M.P.

Menurut kedua peserta, pelatihan yang dilakukan di Balitkabi, luar biasa, manfaat dan informasinya cukup banyak dan lengkap. Contoh pengelolaan benih di UPBS menjadi hal yang sangat menarik. Disarankan memang perlu dilakukan workshop lanjutan, dengan porsi materi workshop di kelas dan lapang seimbang. Hal yang masih perlu dipahami, khususnya bagi 2 peserta di Sulut, adalah peningkatan pemahaman terhadap pengelolaan hama dan penyakit kedelai.

Diskusi dengan calon penangkar 24 Oktober 2015 (kiri) dan tanah kering kerontang (kanan).

Diskusi dengan calon penangkar 24 Oktober 2015 (kiri) dan tanah kering kerontang (kanan).

Pertanaman mandiri benih BPTP Sulut: Anjasmoro (tengah) dan Argomulyo (kanan)

Pertanaman mandiri benih BPTP Sulut: Anjasmoro (tengah) dan Argomulyo (kanan)

Pola tanam di lokasi peserta adalah padi – padi – kedelai untuk lahan sawah dan di lahan kering kedelai – kedelai – kedelai, yang ketiganya ditumpangsarikan dengan jagung atau berupa jagung monokultur. Kedelai ditanam pada sekitar bulan Maret, Juli, dan November.

Sebelumnya menggunakan varietas Wilis dengan hasil 1 hingga 1,75 t/ha. Kendala yang dirasakan adalah hama tikus dan prosesing benih khususnya pada pertanaman bulan November. Di lokasi tersebut belum ada penangkar kedelai, sehingga keberadaan penangkar menjadi diperlukan.

Petani biasanya memesan benih kepada petani yang pertanaman kedelai dianggap bagus, tidak ada yang menyediakan benih kedelai di kios. Di desa Amertha Buana (lokasi Bapak Gunarha) luas sawah sekitar 75 ha dan lahan kering 17 ha.

Harga kedelai saat panen berkisar Rp4.500–5.000/kg. Menurut petani, pertanaman kedelai terbaik berasal dari pertanaman bulan November. Petani tidak melakukan pemupukan dan melakukan pengendalian OPT antara 2–3 kali.

BPTP Sulut juga mengembangkan Mandiri Benih Kedelai dengan menanam varietas Anjasmoro, Argomulyo dan Grobogan. Penanaman dilakukan pada 7 Agustus 2015 seluas 1,5 ha. Anjasmoro dan Argomulyo tumbuh optimal, dan Anjasmoro berpotensi menghasilkan 2,2 t/ha.

Pada musim sebelumnya juga dilakukan produksi kedelai di lahan seluas 1,25 ha dengan menggunakan varietas Anjasmoro. Hasil yang diperoleh 2,10 t/ha dan hasil benih seluruhnya telah digunakan oleh petani. Dalam rangka pendampingan, Balitkabi merencanakan akan memberikan Bimbingan Teknis Budidaya Kedelai pada pertengahan November 2015.

MMA