Berita » Mas Bowo, Penangkar Benih Milenial Berwawasan Luas

Kementerian Pertanian terus mendorong dan menumbuhkan wirausahawan milenial di bidang pertanian. Khamdan Wibowo, akrab dipanggil Mas Bowo, merupakan sosok penangkar benih yang masih berusia 34 tahun, namun memiliki jangkauan dan relasi sangat luas, tentu tidak hanya terbatas di Jawa Tengah, namun juga merambah ke luar Jawa Tengah.

Mas Bowo, sosok penangkar benih milenial dari Purworejo

Mas Bowo, sosok penangkar benih milenial dari Purworejo

Sebagai pemilik CV. PB Utama, berada di Desa Megulunglor, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, bergerak di bidang produksi tanaman pangan, termasuk benih kedelai, dan saat ini memperlebar produksinya ke benih kacang hijau dan kacang tanah. “Saya melanjutkan usaha perbenihan yang telah dirintis oleh orangtua saya sejak tahun 1990-an, dan saya rintis sejak tahun 2007”, tutur Mas Bowo tentang awal bisnisnya. Diawali dengan produksi benih kedelai secara jabalsim dan juga sudah memasuki e-katalog.

Diceritakan lebih lanjut, kontrak tertinggi lewat e-katalog pernah mencapai 600 ton benih kedelai, sebelumnya, tahun 2017-an mendistribusikan benih sebanyak 1.000 ton. Areal produksi benih kedelai dari CV. PB Utama tidak hanya berada di Purworejo, namun menyebar ke Kebumen, Kendal, bahkan di Grobogan. Jaringan kerjasamanya dengan penangkar kedelai tidak hanya terbatas di Jateng dan DIY, bahkan bekerjasama dengan penangkar kedelai di Jawa Timur.

Benih yang banyak diproduksi adalah dari varietas Grobogan. “Tentu karena sudah ada di e-katalog”, ujar Mas Bowo. Meskipun demikian, UPBS Balitkabi sudah tidak asing lagi bagi Mas Bowo, termasuk dengan varietas kedelai terbarunya. Jawa Tengah memang masih menghendaki kedelai dengan ukuran biji besar.

Gudang prosesing benih kedelai CV. PB Utama

Gudang prosesing benih kedelai CV. PB Utama

Menurutnya, varietas kedelai Detap 1 berpeluang disukai, karena bijinya tergolong berukuran besar dan warna hilumnya mirip Anjasmoro. Mas Bowo pun sedang berancang-ancang untuk mengembangkan bangsal pengering menggunakan plastik UV (Ultra Violet) untuk mempercepat pengeringan benih kedelai.

Saat ini, harga jual kedelai ke pengrajin tahu bisa mencapai sepuluh ribu per kilo. Kebutuhan kedelai untuk pengrajin tahu sangat tinggi. Pengalamannya selama ini, hasil Grobogan sekitar 2,4 t/ha, Anjasmoro antara 2,5 – 2,6 t/ha. “Kondisi sekarang ini, berusahatani kedelai cukup menguntungkan”, tegas Mas Bowo menutup pengalamannya dalam memproduksi benih kedelai.

MMA/AK