Berita » Masa Depan KRPL Dirumuskan

“Walaupun awalnya Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL ) bersifat direktif –digerakkan oleh Bapak Presiden RI dan Menteri Pertanian– namun sambutan masyarakat sangat baik, dan dampaknya juga bagus”. Demikian antara lain sambutan Kepala Badan Litbang yang dibacakan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian Teknologi Pertanian, Dr. Kasdi Subagiono, saat membuka Workshop Evaluasi M-KRPL 2011 & 2012 dan Rencana 2013 di Bandung. Acara yang berlangsung di Hotel Garden Permata tanggal 10-12 Desember ini dihadiri oleh perwakilan seluruh BPTP, Balai komoditas terkait, serta Tim Teknis Posko KRPL Nasional.

Sebanyak 44 Model KRPL (M-KRPL) yang diinisiasi Badan Litbang Pertanian tahun 2011 mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat. Dukungan dan kerja sama berbagai pihak termasuk pemda, TNI, organisasi wanita, dan LSM terus mengalir. Pada tahun 2012, M-KRPL telah berkembang, dan diimplementasikan lebih dari 400 unit. Masyarakat sendiri secara swadaya maupun bekerja sama dengan berbagai pihak juga telah mengadopsi, mereplikasi, atau bahkan memodifikasi Model-KRPL tersebut. Adopsi oleh masyarakat yang beragam membentuk varian-varian dari konsep KRPL. Di beberapa daerah tumbuh rumah-rumah tangga yang mengelola KRPL, namun tidak berbasis kelompok atau kawasan. Di daerah lain, seperti di Kramatjati, Jakarta tumbuh suatu kawasan yang dikelola secara bersama-sama oleh banyak keluarga, sehingga tidak berbasis rumah tangga. Oleh karena itu, dalam Pembingkaian Workshop, Kepala Badan Litbang mengajak peserta untuk merumuskan varian-varian tersebut. “Selain M-KRPL, masyarakat mengadopsi konsep tersebut dan membuat varian-varian berupa M-RPL (Model Rumah Pangan Lestari) maupun M-KPL (Model Kawasan Pangan Lestari). Saya berharap workshop ini dapat membuat rumusan mengenai model-model tersebut”.

Kegiatan yang terkait dengan KRPL ini ke depan akan semakin besar. Badan Ketahanan Pangan yang akan mendampingi pelaksanaan KRPL di 5.000 desa melalui kegiatan P2KP. SIKIB (Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu) telah mencanangkan target 5.500 Rumah Pintar pada tahun 2014. Rumah pintar ini akan menjadi cikal-bakal KBD (Kebun Bibit Desa) dari M-KRPL yang dikembangkan. Workshop yang juga menghadirkan Dr. Gayatri, Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan serta Ibu Mieke Suswono, Ketua Indonesia Hijau SIKIB, menyepakati bahwa Pada tahun 2013, Badan Litbang Pertanian akan bersinergi dengan berbagai pihak termasuk BKP, SIKIB, TNI, serta ormas-ormas dalam dalam implementasi dan pendampingan KRPL. Bentuk dan garis besar sinergi tersebut telah dibahas dalam worksop dan operasionalisasinya akan segera dirumuskan mulai dari tingkat pusat sampai dengan provinsi dan kabupaten.



Dr. Gayatri, Kapus PKKP, Badan Ketahanan Pangan ketika memberikan paparan, paling kiri adalah Kepala Badan Ketahanan
Pangan Jawa Timur, paling kanan adalah Kepala Dinas Pertanian Banjarbaru Kalsel.

Dalam salah satu rumusan Workshop juga dinyatakan bahwa Pusat Penelitian, Balai Besar, dan Balai Penelitian lingkup Badan Litbang Pertanian juga akan berkontribusi penuh dalam sinergi dan pendampingan tersebut. Penyediaan benih/bibit unggul dan berbagai teknologi seperti pengelolaan media tanam, teknik produksi dan perbanyakan benih/bibit, serta pola/jadwal tanam, serta pengolahan dan pemasaran adalahan bidang-bidang yang disepakati untuk menjadi kontribusi Puslit, Balai Besar, dan Balai Penelitian. Teknologi-teknologi tersebut sangat diperlukan untuk keberlanjutan KBD (kebun Bibit Desa) maupun KBI (kebun Bibit Inti). Badan Litbang sendiri sudah sangat berpengalaman dalam hal pendampingan seperti yang dilakukan dalam SLPTT (Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu), maupun produksi dan perbanyakan benih/bibit sebagaimana dilakukan oleh UPBS (Unit Pengelolaan Benih Sumber).


Ibu Mieke Suswono, Ketua Indonesia Hijau SIKIB ketika menjadi nara sumber (atas) dan menerima kenang-kenangan dari
Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Dr. Kasdi Subagiono

Kepala BBP2TP, Dr. Kasdi tidak lupa mengingatkan bahwa pada akhirnya kegiatan KRPL adalah milik masyarakat sehingga Badan Litbang Pertanian pada saatnya harus “facing-out” dan menyerahkan kepada masyarakat untuk mandiri. “Mulai sekarang exit-strategy harus sudah mulai dipikirkan dan dirancang” tegasnya.

ARM/Aw