Berita » Melihat dari Dekat Food Estate di Kalimantan Tengah

Lahan food estate yang direncanakan akan ditanami padi Desa Belanti Siam, Kec. Pandih Batu, Kab.Pulang Pisau, Prov.Kalimantan Tengah

Lahan food estate yang direncanakan akan ditanami padi Desa Belanti Siam, Kec. Pandih Batu, Kab.Pulang Pisau, Prov.Kalimantan Tengah

Pemerintah mengambil respons cepat untuk mengantisipasi peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) akan ancaman krisis pangan dunia akibat perubahan iklim global yang juga diperparah oleh pandemi Covid-19 yang belum berakhir hingga saat ini. Strategi yang diambil pemerintah di bawah komando Presiden Joko Widodo itu adalah mempercepat pengembangan lumbung pangan terintegrasi atau food estate di luar Pulau Jawa.

Program jangka panjang itu berupa langkah penyediaan lahan baru, rehabilitasi lahan yang ada dengan meningkatkan sarana untuk mendukung produktivitas lahan, terutama dari sisi pengairan dan drainase di lahan rawa. Food estate itu adalah program terintegrasi, mencakup tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan. Menurut Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Jumat,3 Juli 2020 jika food estate berlokasi di Kalimantan Tengah, khususnya Kabupaten Pulang Pisau serta Kapuas yang akan didorong untuk menjadi lumbung padi nasional. Untuk itu Mentan Dr. Syahrul Yasin Limpo meminta masyarakat Kalimantan Tengah mulai menyentuh sektor pertanian secara langsung, karena program food estate merupakan program pertanian masa depan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Kawasan pangan ini luasnya 600.000 hektar (6.000 km2), area food estate ini adalah sisa dari lahan’’program Sawah Sejuta Hektar’’ yang telah dirintis 30 tahun silam. Program ini tidak berlanjut karena kesulitan membangun sistem tata airnya. Pemerintah mencanangkan rencana pada tahun 2020 hingga 2021 ini 30.000 ha areal yang pertama akan digarap, lalu 110.000 ha lainnya pada tahun anggaran 2022-2023 yang akan dibuat lebih produktif. Selebihnya, diharapkan dikerjakan oleh pemerintahan berikutnya.

Tindak lanjut program ini semakin jelas ketika Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke lokasi Food Estate di Kapuas dan Pulang Pisau, Kalimantan Tengah pada 9 Juli 2020 lalu, serta direncanakan lagi pada 25 September 2020. Juga kegiatan FGD yang digelar pada akhir Agustus 2020 yang menghasilkan tiga butir rekomendasi pengembangan food estate yaitu : model manajemen air sesuai dengan karakteristik wilayah pengembangan, manajemen pH melalui pemberian dolomit atau kapur, dan terakhir yaitu mendorong perguruan tinggi dan lembaga litbang melakukan refokusing riset dan kegiatan pendampingan untuk pengembangan food estate.

Tim Balitkabi dipimpin oleh Plh. Kepala Balitkabi Dr. Yuliantoro Baliadi melihat langsung lokasi Center of Excellence (CoE) Food Estate di Desa Belanti Siam, Kec. Pandih Batu, Kab. Pulang Pisau, Prov.Kalimantan Tengah pertengahan September 2020. Di lokasi tersebut pelaksanaan tanam pertama akan dimulai pada Musim Tanam Oktober-Maret (MT.2020/2021) tepatnya pada tanggal 23-25 September 2020. Kondisi terkini lahan digenangi air dan telah siap ditanami padi. Dibutuhkan setidaknya 1.000 ton kapur untuk mengatasi rendahnya pH tanah. Sisi-sisi jalan telah ditanami pohon kelapa dan jeruk. Dibuat pula keramba ikan lele di samping lokasi pertanaman bersanding dengan tanaman bawang putih dan empon-empon. Kandang itik sedang dibangun di salah satu sudut lokasi yang akan dikunjungi oleh Presiden RI pada 25 September mendatang.

Sketsa food estate yang akan dikunjungi Presiden RI di desa Belanti Siam, Kab. Pulang Pisau

Sketsa food estate yang akan dikunjungi Presiden RI di desa Belanti Siam, Kab. Pulang Pisau

Tim Balitkabi juga melakukan kunjungan ke BPTP Kalimantan Tengah untuk melakukan koordinasi pengembangan tanaman aneka kacang dan umbi, diterima oleh Kasubbag TU Ibu Titiek Indras serta salah satu peneliti Dr. Andi Bhermana, S.P., M.Sc. Dari kunjungan tersebut diperoleh informasi dan data jika lahan selalu ada air dan tergenang terutama saat hujan, sehingga Kalimantan Tengah harus memiliki kalender tanam yang dimodifikasi sesuai kebutuhan. Pada tipologi A dan B banyak dibudidayakan menjadi lahan padi sawah, sementara untuk komoditas non padi masih belum banyak dikembangkan oleh petani. Peluang komoditas akabi terutama kedelai berada di lahan pasang surut seluas 4 jutaan ha. Varietas tahan genangan diperlukan bila ingin mengembangkan kedelai di Kalimantan Tengah. Perlu dibuat demplot kecil-kecilan atau Uji Multi Lokasi dengan tiga kondisi lahan yaitu tipologi A, peralihan, dan tipologi B. Dengan sistem tanam surjan memungkinkan kedelai bisa tumbuh dengan baik, dengan tantangan biaya lebih tinggi dan penurunan luas area tanam. Secara ekonomi, tingkat kesejahteraan petani meningkat dilihat dari kondisi rumah yang layak dan terdapat hand tractor di masing-masing rumah.

Koordinasi tim Puslitbangtan, Balitkabi, dan BPTP Kalimantan Tengah di areal Food Estate

Koordinasi tim Puslitbangtan, Balitkabi, dan BPTP Kalimantan Tengah di areal Food Estate

Penyerahan benih kedelai var. Detap 1, Dega 1 dan Devon 1 dari Balitkabi kepada BPTP Kalimantan Tengah

Penyerahan benih kedelai var. Detap 1, Dega 1 dan Devon 1 dari Balitkabi kepada BPTP Kalimantan Tengah

food4 food5
Pembangunan Kandang Itik dan Keramba Ikan Lele di lokasi Food Estate Desa Belanti Siam, Kec. Pandih Batu, Kab.Pulang Pisau, Kalimantan Tengah

AA