Berita » Memacu Produksi Kedelai di Lampung

Provinsi Lampung pernah menjadi provinsi penghasil kedelai di Indonesia, namun saat ini luas tanam kedelai terus menurun, kalah bersaing dengan tanaman pangan lainnya, khususnya ubikayu. Upaya meningkatkan produksi kedelai di Lampung, BPTP Lampung menyelenggarakan FGD Pengembangan Model Kawasan Mandiri Benih Kedelai di Aula BPTP Lampung, 8 Juli 2015.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala BPTP Lampung, Dr. Ir. A. Arivin Rivaie M.Sc, dihadiri oleh perwakilan dari Diperta Provinsi Lampung, Balitbangda, Bakorluh, BPTPH, UPTD BBI Provinsi, BPP Lampung, Politeknik Negeri Lampung, Kepala Diperta Tanggamus, dan beberapa peneliti BPTP Lampung.

Prof. Dr. Arief Harsono dan Dr. Muchlish Adie, yang sedang melakukan pendampingan kedelai, hadir sebagai pembicara pada FGD tersebut. Disampaikan oleh Kepala BPTP Lampung bahwa ketersediaan benih kedelai masih menjadi kendala pada pengembangan kedelai.

Model mandiri benih yang menjadi salah satu komponen Upsus perlu diramu untuk mendapatkan model yang paling efisien dan memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan produksi kedelai di Lampung. Pemaparan persentasi dari peneliti Balitkabi adalah Kesiapan UPBS Balitkabi dan konsep pengembangan model mandiri benih (Muchlish Adie) dan Teknologi spesifik lokasi untuk Lampung (Prof. Arief Harsono). Pada kesempatan FGD juga diserahkan beberapa publikasi dari Balitkabi yang terkait dengan produksi kedelai.

Diskusi pengembangan mandiri benih di BPTP Lampung. Berbagai harapan dan diskusi yang disampaikan pada FGD tersebut meliputi :

  • Kecukupan benih kedelai dan sumbangan varietas beserta benih dalam mengungkit produksi kedelai
  • Diperlukan sinkronisasi antar pihak untuk menyusun model mandiri benih dan titik kristisnya adalah benih yang dihasilkan harus dipastikan siapa penggunanya
  • Perlu dilakukan terobosan sistem sertifikasi benih; tiga hal harus diperhatikan pada model mandiri benih yakni ketersediaan lahan, penyimpanan benih, sarpras penyimpanan benih. Terungkap pula kebijakan yang ada berpeluang juga akan menghambat pengembangan dan pencapaian produksi kedelai.

Diskusi dan observasi lapang pengembangan mandiri benih di Pringsewu. Diskusi yang dilakukan di Desa Margodadi, Ambarawa, Pringsewu, dilakukan dengan kelompok tani (Supono dan Sukatman), penyuluh (Nursito) dan peneliti BPTP Lampung (Danarsi Diptaningsari M.Si) untuk mendapatkan gambaran pengembangan dan potensi kedelai, termasuk program mandiri benih dari BPTP Lampung dan LL mandiri benih.

Kedelai menjadi tanaman utama setelah padi–padi di lahan sawah. Petani menggunakan varietas lokal yang harga jualnya saat ini antara Rp12.000–15.000, dan harga kedelai varietas unggul, hanya Rp8.000/kg. Bahkan harga benih kedelai dari varietas lokal bisa mencapai Rp20.000/kg.

Keragaan varietas Grobogan kurang optimal, tanaman pendek. Dari 10 varietas kedelai yang ditanam pada LL, varietas Wilis cukup disukai, karena tanaman tinggi dan jumlah polong lebih banyak. Meningkatkan produksi kedelai di Lampung, masih terbuka dan berpeluang dilakukan.

9-7-15a

9-7-15b

MMA