Berita ยป Memahami Perspektif RPJMN 2020-2024

Pandangan dan pemahaman terhadap kebijakan pembangunan pertanian dalam perspektif RPJMN 2020-2024, yang menjadi salah satu topik di Raker Balitbangtan 26-28 November 2021 di Makassar, menjadi sangat menarik.

Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas (kiri) dan Sekretaris Balitbangtan (kanan)

Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas (kiri) dan Sekretaris Balitbangtan (kanan)

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Pangan dan Pertanian, Ir. R. Anang Noegroho Setyo Moeljono, MEM., dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional /Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). RPJMN, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2020-2024) merupakan tahap penting dari RPJPN, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, 2005-2025.

Mengawali paparannya, Anang menyampaikan bahwa perubahan itu adalah keniscayaan, termasuk reformasi yang telah berjalan 20 tahun. Tahun 2024 merupakan milestone terakhir dari perjalanan RPJMN 2020-2024.

Diyakini bahwa peneliti dan lembaga penelitiannya (Balitbangtan) telah menjadi pelaku sejarah pembangunan pertanian, sehingga kita bisa survive. Tidak bisa dipungkiri, masa lalu Balitbangtan, tentang reputasi profesionalnya dan kemampuan teknokratiknya pada berbagai ekosistem.

Tantangannya, diperlukan peta jalan yang komprehensif untuk memasuki 25 tahun kedepan, hingga 2045. Disampaikan juga salah satu agenda penting, yaitu Sensus Pertanian 2023.

Beberapa isu strategis disampaikan oleh Direktur Pangan dan Pertanian, yaitu berkaitan dengan difusi inovasi, produktivitas, pasar ekspor, kondisi SDM pertanian, dan ekosistem pertanian digital. Penyusunan komitmen riset dan inovasi masih diperlukan, yang dinilai akan membawa dan mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan yang lebih baik.

Produktivitas padi dinilai stagnan, masalahnya pada kondisi middle income country tidak bertumpu pada staple food. Apalagi tuntutannya adalah pada meningkatkan / menjaga kualitas konsumsi. Oleh karenanya, dilahirkan program biofortifikasi. Masih diperlukan juga perubahan pendekatan teknologi.

Plt. Kepala Balitkabi (kiri) pada raker Balitbangtan di Makassar

Plt. Kepala Balitkabi (kiri) pada raker Balitbangtan di Makassar

Ekspor yang sudah dilakukan saat ini perlu diperkuat dengan memperkuat nilai tambah dalam negeri, jangan paksakan ekspor komoditas, jadikan bahan jadi, dan perlu tarikan global value change yang lebih kuat. Turunnya kualitas lahan sawah di beberapa provinsi memerlukan solusi untuk mengatasinya.

Diingatkan juga tentang zero emission dan low carbon agriculture, beserta pertanyaan tentang bagaimana pendekatan pertaniannya. Program strategis Balitbangtan RPIK juga mendapatkan perhatian dari Anang, bahkan disarankan diganti menjadi Platform PIK.

berita-211128-prospekrpjmn-c

Anang juga menginformasikan tentang Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang intinya akan mengisi free market, dan juga Bulog akan berada dibawah Bapanas.

AK/BSK