Berita » Membangun Industri Pertanian

1

Serius, santun dan tulus, kesan yang diperoleh saat berada di Department of Functional Crop, Legume and Oil Crop Research Division, di Miryang, 21–25 September 2012. Selama tiga hari tersebut banyak hal didiskusikan khususnya yang relevan dengan peruntukan dan peningkatan produksi kedelai.

Industri pertanian bisa berbasiskan pertanian, khususnya tanaman kacang-kacangan. Kunjungan ke Bank Pertanian (26/9), yang berada dibawah NongHyup di daerah Buljeong diterima oleh Manager Bank. Di peta diruang kerja Manager Bank terpampang beragam produk pertanian, setelah ditanyakan ternyata konsepnya adalah One Village One Product, mirip dengan program di Jawa Timur. Di sini Bank tidak hanya berperan sebagai pendukung saprodi, bukan hanya membuat konsep, tetapi Bank juga menyediakan sarana mekanisasi, seleksi produk hingga ke penyimpanan. Bahkan pihak Bank juga bertanggung jawab terhadap pemasaran hasil, petani tinggal menyetor hasil pertanian ke Divisi Seleksi dan Penyimpanan Produk, mungkin disini bedanya. Pihak Bank pada awal tanam, membuat kontrak harga dengan petani.

Saat menuju ke lahan pertanaman kedelai, Manajer Bank, menyampaikan kuncinya adalah membiasakan petani sehamparan menanam serempak dengan varietas yang sama serta membuat petani expert dalam budidaya kedelai. Menurut Dr. Han (Pemulia Kedelai NICS), varietas kedelai popular saat ini adalah varietas Daewon (dilepas oleh NICS), dan keragaan kedelai di lapang sangat bagus, hasilnya bisa 3 t/ha. Bahkan menurut Manajer Bank, beberapa hari yang lalu dilakukan pengendalian hama menggunakan helikopter. Seusai peninjauan lapang dilanjutkan kunjungan ke kompleks Divisi Seleksi dan Penyimpanan, yang ternyata kompleksnya cukup besar. Untuk komoditas buah-buahan tersedia alat yang cukup canggih dan berkapasitas sangat besar untuk mendeteksi ukuran buah, warna kulit buah dan kadar gulanya sekaligus. Alat berkapasitas besar juga diperuntukkan untuk umbi kentang, yang mampu mengelompokkan ukuran umbi kentang. Diinformasikan juga, petani seusai panen kentang dari lapang langsung dimasukkan ke Ruang Penyimpanan, proses selanjutnya hingga ke pemasaran sepenuhnya menjadi tanggungjawab pihak Bank. Di kompleks yang sama sedang dibangun SPC (Soybean Processing Center) yang berkapasitas 18.000 ton. Pada akhir kunjungan ditunjukkan tongkol jagung putih yang sudah dibekukan yang pemasarannya ke daratan Amerika, juga diberikan satu bungkus kedelai hitam untuk dibawa pulang. Bukan main.


Bank Pertanian, jembatan menuju pasar industri

Belum usai membayangkan One Village One Product yang operasional bukan hanya konsep, dilanjutkan menuju Eum Seong, mengunjungi industri tahu dan juga industri taoge, yang keduanya dibawah perusahaan PulmuOne. Yang patut dicontoh, walaupun bukan hal baru, setiap berkunjung ke suatu instansi/industri, diawali dengan persentasi profil yang professional. Sekali lagi apakah ini sulit dilakukan di Balitkabi, tampaknya tidak, yang sulit adalah keinginan dan kemauan untuk membuatnya. Perusahan tahu PulmuOne konon terbesar di Korea, yang mampu memproduksi 230.000 tahu perhari, yang mulai berproduksi tahun 1984 dan sejak 2003 telah sepenuhnya mekanisasi dan komputerisasi. Setiap bungkus tahu, deteksi kualitas sangat mudah ditelusuri sejak dari asal kedelai dsbnya., tidak heran kalau sejak 2007 telah memperoleh sertifikat HACCP dan ISO 22000. Bahan baku kedelai diperoleh dari kedelai domestik dan diimpor dari Canada untuk kedelai organik. Setiap tahun industri ini dikunjungi sekitar 6.000 orang. Proses pembuatan tahu hingga pengepakan untuk setiap kelompok kerja yakni selama 12 jam cukup diperlukan 8 orang (5 pria dan 3 wanita), sangat efisien.

Industri PulmuOne yang lainnya adalah industri taoge (kecambah), bahkan industri ini disinyalir terbesar di dunia. Tidak berbeda dengan industri tahu, telah menggunakan mekanisasi penuh dan semua proses terdeteksi melalui sistem komputerisasi. Juga telah bersertifikat ISO 14001 dan ISO 20000. Kemampuan produksi taoge per harinya adalah 250.000 kantong taoge kedelai dan 20.000 kantong taoge kacang hijau, berat taoge per kantong adalah 3 g. Kualitas nutrisi khususnya vitamin C benar-benar dijaga, disampaikan bahwa pengaturan suhu sangat penting. Pada 2-3 hari pertama suhu perkecambahan dipertahankan 20 oC, 4-5 hari kemudian 18,5 oC dan pada hari ke 6-7 menggunakan suhu 17 oC. Bahan baku kedelai berasal dari kedelai domestik dan impor, sedangkan kacang hijau sepenuhnya diimpor dari Cina. Ketika disampaikan bahwa produksi kacang hijau di Indonesia cukup besar. Disampaikan bahwa suhu tinggi dan tidak stabil saat pertanaman di lapang, kemungkinan berpengaruh terhadap biji keras pada kacang hijau, kemungkinan hal tersebut dapat terjadi pada budidaya kedelai di daerah tropis. Perlu pembuktian lebih lanjut.

Kedelai dan kacang hijau, bahan baku industri berkelas dunia

Potret di atas, memperlihatkan bahwa industri besar dapat dibangun melalui komoditas kacang-kacangan, khususnya kedelai dan kacang hijau.