Berita » Memperkuat Ketahanan Pangan Melalui RPL

1-brawijaya-diesnatalis-1

Suatu kebanggaan, pada rangkaian Dies Natalis ke-52 Fakultas Pertanian UB (Universitas Brawijaya), dilakukan Seminar Nasional bertemakan Rumah Pangan Lestari (RPL) dalam Perspektif Ketahanan dan Kemandirian Pangan Keluarga, 9 November 2012 di Widyaloka UB.

KRPL yang diinisiasi oleh Badan Litbang Pertanian, saat ini telah menjadi program Kementerian Pertanian. KRPL dilaunching secara resmi oleh Presiden SBY di Desa Kayen Pacitan, 13 Januari 2011. Seminar Nasional yang dilakukan oleh Mahasiswa dan Alumni UB diikuti oleh 400 peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa, tidak hanya dari UB, diikuti pula oleh perwakilan mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya.

Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono M.Sc, menjadi salah satu keynote speaker, menyampaikan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) : Upaya mempercepat ketahanan pangan keluarga dan pola pangan harapan 2014. Dr. Haryono menyampaikan bahwa KRPL menjadi arena bermain para saintis. Dulu posisi pertanian dipandang sebelah mata, sekarang telah masuk dan menjadi jajaran bidang sains, bahkan pertanian merupakan sistem sains yang kompleks. Beberapa negara besar, baru-baru ini mengalami bencana, dampaknya, cepat atau tidak akan mempengaruhi terhadap ketahanan pangan dunia. Indonesia merupakan satu-satunya negara yang unik, satu-satunya negara tropika dan sekaligus negara kepulauan. Disinilah pentingnya menyiapkan dan mencari terobosan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kepala Badan Litbang Pertanian mengajak peserta seminar untuk merenungkan kembali, mengajak berpikir, memanfaatkan apa yang ada di depan kita, yaitu pekarangan, yang harus diposisikan sebagai penguat ketahanan pangan berbasis keluarga. Potensi pekarangan sangat besar, mencapai 10,3 juta ha. Jika 20% saja dimanfaatkan dan digunakan untuk RPL, maka sumbangannya sangat besar, tidak hanya untuk ketahanan pangan tetapi untuk percepatan peningkatan Pola Pangan Harapan.

Dekan Fakultas Pertanian UB, memberikan apresiasi kepada Badan Litbang Pertanian, yang terus memperkuat kerjasamanya dengan dunia pendidikan termasuk UB. Hal tersebut dinilai penting oleh Ketua Alumni, dalam rangka meningkatkan rendemen mahasiswa Fakultas Pertanian UB. Mahasiswa antusias mengikuti sesi diskusi. Siapa yang menjadi pengelola Kebun Bibit Desa (KBD), siapa yang menjadi penggerak RPL di desa-desa terpencil, bahkan ada yang menyampaikan agar RPL diintegrasikan dengan kegiatan mahasiswa di perdesaan. Dr. Haryono menyampaikan di setiap provinsi ada BPTP, silakan mahasiswa saat pulang ke daerah masing-masing mampir ke kantor BPTP, minta publikasi, jika tersedia juga minta bibit dan benih untuk ditanam di pekarangan masing-masing. Diseminasikan bahwa RPL memiliki nilai ekonomi, nutrisi, dan sosial yang tinggi. Pada akhir diskusi Dr. Haryono menyampaikan yang mudah-mudah banyak yang mengerjakan; yang sulit-sulit banyak ditinggalkan, UB beserta potensi mahasiswanya hendaknya berjalan di arena yang sulit-sulit. Memang RPL, inovasi cerdas – mengangkat pendapatan.

Keynote speaker oleh Dr. Haryono M.Sc.