Berita » Mendiskusikan RPIK Ubi Jalar dan Keunggulan Ubi Madu Pasrujambe

Kepala Puslitbangtan (Dr. Ir. Priatna Sasmita, M.Si.) beserta Kepala Balitkabi (Dr. Ir. Titik Sundari, M.P.) mendiskusikan tentang RPIK (Riset Pengembangan Inovatif dan Kolaboratif) ubi jalar dan status ubi jalar madu Pasrujambe dengan Wakil Bupati Lumajang Ir. Hj. Indah Amperawati, M.Si., pada 3 Desember 2021.

Turut hadir pada diskusi tersebut, selain peneliti Balitkabi (Dr. Ir. Yusmani Prayogo, M.Si., Dr. Febria Cahya Indriani, S.P., M.P., Dr. Alfi Inayati, S.P., M.P., Joko Restuono, S.P.), juga Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang (Ir. Paiman, M.S.) dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dra. Hertutik, M.Si.) serta petani ubi jalar milenial (Hariyanto).

Kapuslitbangtan bersama Kepala Balitkabi dan tim RPIK Ubi Jalar (kiri) serta Wakil Bupati Lumajang Ir. Hj. Indah Amperawati, M.Si. (kanan)

Kapuslitbangtan bersama Kepala Balitkabi dan tim RPIK Ubi Jalar (kiri) serta Wakil Bupati Lumajang Ir. Hj. Indah Amperawati, M.Si. (kanan)

Kapuslitbangtan menyampaikan bahwa kegiatan RPIK ubi jalar yang dilaksanakan di Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, merupakan salah satu bagian dari kegiatan pemerintah dalam upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa pandemi Covid-19. Kegiatan ini merupakan hasil kolaboratif dari beberapa instansi di bawah naungan Balitbangtan, yaitu Balitkabi, BB Biogen, dan BB Pasca Panen.

Teknologi yang diperkenalkan merupakan teknologi siap terap dengan prioritas tidak hanya peningkatan produktivitas, tetapi juga peningkatan nilai tambah dan daya saing komoditas melalui perbaikan inovasi teknologi demi peningkatan kualitas produk.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama dalam penentuan Kecamatan Pasrujambe sebagai lokasi kegiatan RPIK adalah:

  1. Merupakan salah satu sentra produksi ubi jalar terbesar di Jawa Timur
  2. Produktivitas ubi jalar yang dicapai petani masih rendah dan belum optimal
  3. Adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama penggerek umbi (Cylas formicarius) dan penyakit scab/kudis (Sphaceloma batatas) yang endemik
  4. Belum tersedianya penangkar stek/bibit yang mengakibatkan produktivitas ubi jalar terus menurun, dan
  5. Kurang optimalnya cara penanganan pasca panen maupun aneka produk olahan

Didiskusikan juga tentang ubi jalar di Pasrujambe yang dikembangkan oleh petani, yaitu varietas lokal atau disebut dengan “ubi madu”. Komoditas tersebut telah diekspor ke Jepang dan Korea dengan kapasitas hingga mencapai 200 ton/bulan. Ubi jalar Pasrujambe dengan brand ubi madu memiliki rasa (taste) lebih manis, dengan tekstur lebih empuk jika dibandingkan dengan varietas lain, sehingga banyak diminati oleh manca negara.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas ubi yang dihasilkan, salah satu inovasi teknologi yang dikembangkan pada kegiatan RPIK tersebut, yaitu mengandalkan pengelolaan OPT secara organik dan ramah lingkungan.

Teknologi tersebut merupakan kombinasi dari penggunaan mulsa plastik dan jerami, aplikasi biopestisida BeBas, pemasangan trap (seks feromon), dan aplikasi pestisida nabati Allium cepa yang ternyata dapat mengatasi kendala utama hama penggerek umbi dan penyakit Scab yang sudah endemik di wilayah Pasrujambe.

Kapuslitbangtan, Wakil Bupati Lumajang, Kepala Balitkabi, Kadis Pertanian dan Kadis Ketahanan Pangan, serta tim peneliti RPIK Ubi Jalar

Kapuslitbangtan, Wakil Bupati Lumajang, Kepala Balitkabi, Kadis Pertanian dan Kadis Ketahanan Pangan, serta tim peneliti RPIK Ubi Jalar

Wakil Bupati dan jajarannya berharap teknologi RPIK yang telah didemonstrasikan dapat dimanfaatkan penuh oleh petani ubi jalar untuk mengatasi permasalahan di lapang. Juga disampaikan apresiasi kepada Balitbangtan Kementerian Pertanian, yang telah bekerjasama dengan petani ubi jalar di Lumajang selama hampir 6 bulan.

Harapannya, teknologi RPIK ubi jalar dari Balitbangtan dapat memajukan pertanian dan mensejahterakan petani di Lumajang khususnya, dan dapat menjadi contoh bagi pengembang ubi jalar di lokasi lain.

FCI/YP