Berita » Menera Kinerja PKPP

Evaluasi pada koridor Sulawesi

Program insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) Kementerian Riset dan Teknologi bermuatan pada penekanan aspek pemanfaatan hasil litbangyasa dalam rangka mendukung perwujudan sistem inovasi daerah (SIDa), sistem inovasi nasional (SINas) dan pelaksanaan MP3EI. Peneliti Balitkabi pada tahun 2012 mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan PKPP dan performa pelaksanannya dievaluasi melalui Workshop Evaluasi Kinerja PKPP pada tanggal 3 Oktober 2012 di Graha Widya Bhakti – Puspiptek Serpong. PKPP memang dirasa strategis. Jika dilihat dalam Panduan PKPP, SDM peneliti sangat besar. Berdasarkan data Indikator Iptek, saat ini terdapat sekitar 7.800 orang peneliti dan perekayasa yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian (LPK) dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Sejumlah 1600 orang di Kementerian Pertanian, 1100 orang di bawah LIPI, 1000 orang di BPPT, 350 orang di Kementerian Kesehatan, dan sisanya tersebar di beberapa kementerian lainnya. Hal ini menunjukkan tingginya potensi peneliti dan perekayasa di samping 150.000 dosen yang ada di perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Potensi ini harus diberdayakan untuk menjawab tantangan kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menunjang pembangunan melalui kegiatan pemanfaatan hasil litbang yang berkesinambungan. Workshop Evaluasi dilakukan per koridor MP3EI. Tema empat penelitian PKPP Balitkabi adalah: (1) Peningkatan kualitas biji kacang tanah 15-20% melalui penekanan infeksi Aspergillus flavus dan kontaminasi aflatoksin dengan menggunakan varietas/galur toleran cekaman kekeringan, (2) Pengembangan teknologi produksi dan varietas unggul kacang hijau di lahan sawah, (3) Tingkat penerimaan petani terhadap calon varietas kedelai berumur genjah (75 hari), hasil tinggi (>2,5 t/ha), biji besar (14g/100 biji), dan toleran kekeringan fase reproduktif, dan (4) Percepatan dan pengembangan varietas unggul ubijalar kadar antosianin tinggi dengan produktivitas 25 t/ha.  Tiga penelitian berada dalam koridor Sulawesi dan sisanya di koridor Papua. Evaluasi lebih difokuskan  pada: (1) Lingkup dan bentuk koordinasi yang dilakukan, (2) Nama lembaga yang diajak koordinasi, (3) Strategi pelaksanaan koordinasi. Juga dievaluasi hasil yang dicapai dan kerangka serta strategi pemanfaatan hasil kegiatan meliputi: (1) Wujud (bentuk) pemanfaatan hasil kegiatan, (2) Data (jumlah dan demografi) pihak yang memanfaatkan hasil kegiatan, dan (3) Signifikansi pemanfaatan  yang dirasakan pihak penerima manfaat hasil kegiatan. Potret evaluasi yang semacam ini nampaknya perlu juga diterapkan di Badan Litbang Pertanian, tentunya dengan segala modifikasinya sehingga betul-betul tergambar apa yang akan dihasilkan dan ke mana hasil penelitian akan didifusikan. Pengalaman lain yang perlu dipetik adalah semuanya dilaporkan dalam bentuk on-line, inipun kita belum terbiasa. Pengalaman evaluasi yang semacam ini, menuntut peneliti untuk lebih bisa menggambarkan alur pemanfaatan hasil penelitian. Yang terakhir ini nampaknya kita belum terbiasa menggambarkan langkah konkrit mendifusikan hasil litbang. Workshop Evaluasi ditutup dengan arahan Menteri Ristek, dan disampaikan hasil evaluasi kinerja dalam bentuk data dan informasi kinerja PKPP 2012 berdasarkan Kinerja per propinsi, kinerja per fokus MP3EI dan nasional strategis, serta kinerja per kementerian-lembaga. Yang paling penting adalah workshop evaluasi akan memberikan rekomendasi perbaikan yang harus ditindaklanjuti oleh peneliti melalui  penyempurnaan laporan akhir dan diserahkan ke Tim Implementasi PKPP 2012. Majulah Riset Indonesia.

Evaluasi pada koridor Sulawesi

Penyampaian hasil PKPP

Majulah Riset Indonesia, harapan bersama