Berita » Petani Maros Mengagumi dan Akan Mengembangkan Kedelai Grobogan

maros_1

Pak Mustari, tokoh petani di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros (Sulawesi Selatan), mengungkapkan “Baru kali ini melihat keragaan tanaman kedelai yang sangat bagus”.  Memang saat ini Balitkabi sedang melakukan Penangkaran Benih Kedelai varietas Anjasmoro dan Grobogan di Jenetaesa. Tidak berlebihan jika petani mengungkapkan itu. Di tengah-tengah hamparan lahan yang tahun ini diberakan, tidak ada tanaman, varietas Anjasmoro dan Grobogan tumbuh mengesankan. Menurut Pak Mustari yang sekaligus ketua Gapoktan dan KTNA Kecamatan Simbang, potensi lahan di kelompoknya saja mencapai 68 ha dan dalam satu desa mencapai 353 ha. Alasan petani memberakan lahannya karena anjloknya harga kedelai tahun 2011, yang hanya berkisar Rp 4.000–Rp 5.000. Hal ini yang mendasari mengapa petani tidak berminat mengusahakan lahannya dan akhirnya dibiarkan bera. Kegiatan penangkaran yang dilakukan oleh Prof. Subandi, peneliti Balitkabi, membuat lahan menjadi ijo royo-royo dengan kedelai yang kebetulan memang lokasi penangkarannya berdekatan dengan sungai yang hingga saat ini masih cukup airnya. Beberapa varietas kedelai telah ditanam petani, khususnya yang lahannya berada di sekitar sungai. Awalnya petani menanam varietas Orba, Wilis dan terakhir ditanam adalah Mahameru dan Mutiara. Rata-rata hasil kedelai hanya 1,30 t/ha ungkap Pak Mustari. Melihat keragaan Anjasmoro dan Grobogan, petani akan berencana menanam dua varietas tersebut. Hal serupa disampaikan oleh Pak Nanri, yang kebetulan lahannya juga digunakan untuk kegiatan penangkaran benih. “Polong varietas Anjasmoro sampai ke ujung tanaman”, tutur pak Nanri seraya memamerkan ke beberapa peneliti Balitkabi, hasilnya bisa di atas 2,50 t/ha. Pilihan sebagian petani tertuju pada varietas Grobogan karena umurnya yang genjah dan ukuran bijinya besar. Jika saat tanam air terlalu banyak, benih Grobogan banyak yang tidak tumbuh dibandingkan dengan benih Anjasmoro. Harapan petani, varietas Anjasmoro dan Grobogan yang telah terbukti keragaannya sangat bagus, dapat dikembangkan pada musim tanam kedelai berikutnya. Sebagian petani juga berminat menanam kacang hijau. Varietas yang digunakan menurut Pak Mustari adalah varietas unggul lama, yang panennya dilakukan hingga 3 kali dan hasil biji yang diperoleh antara 5–6 karung atau setara dengan 500–600 kg/ha. Ketika disampaikan bahwa Badan Litbang Pertanian telah melepas varietas kacang hijau yang dapat dipanen sekali, yakni Vima 1, petani semakin berharap agar beragam inovasi baru tersebut dapat dimanfaatkan oleh petani. Memperbanyak ragam diseminasi memang diperlukan untuk mempercepat sampainya inovasi kepada pengguna.

Menghijau dengan varietas unggul Grobogan dan Anjasmoro yang akan dikembangkan petani di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang,  Kabupaten Maros

Peneliti Balitkabi mengamati pertanaman untuk benih kedelai varietas Grobogan dan Anjasmoro di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang,  Kabupaten Maros (Sulawesi Selatan)