Berita » Menggali Potensi Akabi melalui Webinar Gita Series 2

Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P., pada Webinar GITA Series 2

Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P., pada Webinar GITA Series 2

Balitkabi, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian menggelar webinar series 2 dengan tema “Menggali Potensi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi untuk Meningkatkan Imunitas di Masa Pandemi Covid-19”. Webinar yang berlangsung secara daring pada Jumat, 30 Juli 2021 ini merupakan salah satu dari rangkaian acara Gelar Inovasi Teknologi Aneka Kacang dan Umbi (GITA) 2021 yang acara puncaknya telah dilaksanakan 26 Juni yang lalu. GITA merupakan salah satu program Badan Litbang Pertanian dalam mendukung program pemerintah untuk pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi Covid-19.

Webinar series 2 menghadirkan pembicara Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, M.S. (Guru Besar IPB dan Ketua Klaster Stunting Asosiasi Profesor Indonesia) dengan materi yang dibawakan “Aneka kacang untuk meningkatkan imunitas dan mengatasi stunting”, Prof. Dr. Edi Santosa, S.P., M.P. (Guru Besar Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB) memaparkan tentang “Aneka umbi sumber pangan sehat untuk masa kini dan masa depan”, dan Ir. Trustinah, MS. (Peneliti Ahli Utama bidang Pemuliaan Tanaman, Balitkabi), yang menutup sesi persentasi dengan materi “Aneka kacang dan umbi potensial koleksi plasma nutfah Balitkabi”. Acara ini moderatori oleh Ir. Joko Susilo Utomo, M.P., Ph.D., peneliti bidang ekofisiologi Balitkabi.

Acara webinar hari ini dihadiri oleh 267 partisipan yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, peneliti, penyuluh, petani, dan pengusaha yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya Madura, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Sumatera. Membuka webinar ini, Kepala Balitkabi, Dr. Ir. Titik Sundari, M.P., menyampaikan bahwa Indonesia kaya akan sumber daya genetik tanaman akabi yang belum banyak digali potensinya. Kita ditutut untuk menggali potensi sumber daya alam ini, untuk mendukung peningkatan imunitas. “Menghargai plasma nutfah yang merupakan kekayaan negara kita sangat penting, jangan sampai diambil alih negara lain”, tegas Kepala Balitkabi.

Pemaparan pertama oleh Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, M.S., memaparkan bahwa dengan melihat pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini, maka yang harus ditingkatkan adalah konsumsi protein hewani, kacang-kacangan, umbi-umbian, buah dan sayur, sedangkan yang harus diturunkan adalah konsumsi beras dan terigu. Beliau memaparkan hasil penelitian potensi pangan aneka kacang dan umbi, diantaranya adalah konsumsi jus kacang hijau yang dapat meningkatkan berat badan balita, sedangkan tempe meningkatkan berat badan pada balita umur 12-18 bulan. Ali Khomsan menekankan bahwa saat ini telah banyak para ahli ahli gizi memanfaatkan aneka kacang dan umbi untuk meningkatkan status gizi anak-anak. Oleh karena itu, memperkenalkan MPASI pada anak umur enam bulan dengan makanan non-nasi seperti ubi ungu sangat penting, karena menanamkan cita rasa non-nasi sejak dini yang juga kaya akan provitamin A, vitamin C, vitamin E, dan zat besi. Ubi ungu mengandung antosianin yang dapat meningkatkan perkembangan bakteri probiotik yang baik untuk kesehatan anak. Pangan berbahan singkong dan kedelai bisa meningkatkan berat badan menurut tinggi badan pada balita stunting. Di akhir pemaparannya beliau menekankan, “Posyandu masa kini harus dapat meningkatkan kinerjanya meningkatkan pemberian makanan dari pangan lokal. Oleh karena itu, PR buat kita terutama jajaran pertanian untuk meningkatkan pemanfaatan pangan lokal, baik dari aneka kacang dan umbi, sehingga masyarakat bisa mengenal apa saja pangan lokal yang masih berpotensi untuk perbaikan gizi masyarakat Indonesia”.

Pemaparan kedua dari Prof. Dr. Edi Santosa, S.P., M.P., yang menjelaskan secara ringkas terkait imunitas di era pandemi Covid- 19. Imunitas diringkaskan dalam three layers of defense, layer pertama fisik seperti kulit, layer kedua adalah metabolisme, dan layer ketiga adalah specific defense. Pertahanan pada lini ini perlu peran umum dari nutrisi seperti kandungan unsur karbohidrat, asam lemak, vitamin A, vitamin D, vitamin C, vitamin E, vitamin B6, vitamin B12, Folat, Zn, Se, Fe, dan Cu. Unsur-unsur ini menjadi pertahanan, baik di layer pertama, kedua maupun ketiga. Unsur ini bisa kita dapatkan dari aneka umbi yang kita miliki seperti pada talas, singkong, dan ubi jalar yang nilai gizinya memenuhi semua kaidah dari three layers of defense dari sistem imun. Beliau juga menekankan bahwa tanaman aneka umbi memiliki keunggulan dalam budidaya, yakni mudah ditanam, input rendah, tahan HPT, tahan kering, adaptif pada berbagai lingkungan dan terhadap perubahan iklim.

Pemateri ketiga (Ir. Trustinah, MS.) mengetengahkan sumber daya genetik aneka kacang dan umbi potensial yang ada di Balitkabi dan pentingnya eksplorasi dan konservasi sumber daya genetik akabi. Balitkabi memiliki lima komoditas mandat utama, yaitu kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar, sedangkan komoditas potensial diantaranya kacang tunggak, kacang gude, kacang komak, kacang koro, umbi garut, umbi ganyong, talas, dan keladi. Dalam pemaparannya, Trustinah juga menjelaskan tentang keragaman sumber daya genetik ubi dan kacang potensial, serta karakteristik SDG akabi yang ada di plasma nutfah Balitkabi dan pemanfaatannya dalam aneka pangan tradisional masyarakat.

Webinar ini menarik banyak pertanyaan dari peserta, terlihat dari jumlah pertanyaan hingga akhir sesi. Di akhir webinar, ketiga pemateri menyampaikan apresiasinya dan sepakat bahwa potensi aneka kacang dan umbi sebagai pangan fungsional dan pangan masa depan perlu dipromosikan melalui sosial media, dan perlu untuk menggandeng media massa untuk terus mengangkat potensinya. Webinar GITA series 2 secara lengkap dapat disaksikan di link Youtube https://www.youtube.com/watch?v=UU4Qwgauqr8, sedangkan materi narasumber dapat di akses di link https://s.id/MateriWebinarGITA .

EU

webinar1 webinar2 webinar3
Narasumber webinar (dari kiri ke kanan) Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, M.S., Prof. Dr. Edi Santosa, S.P., M.P., dan Ir. Trustinah, M.S.