Berita ยป Menggaungkan Kacang Tanah Indonesia di Negeri Tirai Bambu

Peserta International Workshop on Groundnut Bacterial Wilt Working Group and Cooperative Project Reviewing, Wuhan China,pada  tanggal 18-20 Oktober 2019.

Peserta International Workshop on Groundnut Bacterial Wilt Working Group and Cooperative Project Reviewing, Wuhan China,pada tanggal 18-20 Oktober 2019.

Memenuhi undangan dari Oil Crops Research Institute (OCRI) of Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) di Wuhan China, Balitkabi menugaskan Eriyanto Yusnawan, PhD berangkat ke China mengikuti International Workshop on Groundnut Bacterial Wilt Working Group and Cooperative Project Reviewing. Pelaksanaan international workshop bertempat di International Hotel Chutian Ghuangdong dan OCRI-CAAS pada tanggal 18-20 Oktober dan diikuti oleh negara China sebagai tuan rumah, India, Vietnam, Senegal, dan Indonesia dengan total lebih dari 40 peserta. Professor Boshou Liao, direktur OCRI-CAAS secara resmi membuka acara ini dan dilanjutkan sambutan oleh Dr. Rajeev Varshney dari ICRISAT.

Dalam paparannya, Eriyanto menjelaskan bahwa Indonesia telah melaksanakan prinsip-prinsip pengendalian penyakit tular tanah baik yang disebabkan oleh bakteri maupun jamur. Beberapa cara pengendalian yang dilakukan antara lain pengolahan tanah dengan membalikkan tanah bersamaan penyiapan lahan mengakibatkan patogen terpapar sinar matahari atau sinar ultraviolet, pemilihan benih bebas dari patogen, penggunaan kultivar tahan, pengaturan drainase, pergiliran tanaman, eradikasi, dan penggunaan fungisida atau bakterisida baik yang kimiawi maupun biologi. Dari beberapa cara pengendalian tersebut, penggunaan kultivar tahan merupakan cara termudah, termurah, dan cepat diadopsi petani secara luas. Selama lima tahun terakhir (2015-2019), Indonesia telah melepas tujuh varietas unggul kacang tanah yang semuanya memiliki sifat tahan terhadap penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum. Syarat ketahanan ini merupakan salah satu syarat wajib dalam pelepasan varietas unggul baru kacang tanah di Indonesia. Ketujuh varietas tersebut adalah Tala 1, Tala 2, Hypoma 3, Katana 1, Katana 2, Tasia 1, dan Tasia 2. Jika dirunut tetuanya, mayoritas varietas unggul baru ini memiliki tetua ICGV, yang merupakan kacang tanah dari ICRISAT. Penggunaan tetua ini sangat diapresiasi oleh pihak ICRISAT dan berharap terjalin kolaborasi lebih lanjut.

Pemaparan materi oleh Eriyanto Yusnawan, Ph.D

Pemaparan materi oleh Eriyanto Yusnawan, Ph.D

Pada sesi diskusi setelah semua delegasi menyampaikan paparannya, disepakati bahwa untuk perakitan calon varietas sangat ditekankan menggunakan banyak sumber plasma nutfah yang dapat diperoleh dari beberapa negara yang berkolaborasi. Keragaan genotipe di suatu negara baik, belum tentu baik pula di negara lain, begitu pula sebaliknya. Dalam hal pengendalian penyakit tular tanah, ketersediaan varietas tahan penyakit merupakan cara paling efektif dalam pengendalian penyakit di lapang. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk perakitan varietas dapat melalui cara konvensional maupun bioteknologi. Pendekatan yang perlu dilakukan adalah koordinasi, kolaborasi dan integrasi.

EY