Berita » Menghidupkan Kembali Komoditas Kedelai di Kabupaten Madiun

Pemaparan materi oleh Dr. Ayda Krisnawati, S.P., M.Sc. dan Ir. Suhartina, MP.

Pemaparan materi oleh Dr. Ayda Krisnawati, S.P., M.Sc. dan Ir. Suhartina, MP.

Desa Grobogan Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun, merupakan wilayah pertanian, yang didominasi oleh lahan sawah, dengan pola tanam padi-palawija (kacang hijau dan kedelai). Beberapa tahun terakhir, minat petani membudidayakan kedelai sangat sedikit, dikarenakan harga kedelai yang rendah dan budidayanya yang dianggap rewel. Meskipun demikian, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun dan PPL di wilayah ini tetap menggalakkan semangat menanam kedelai, mengingat saat ini harga dan permintaan kedelai cukup tinggi.

Pada tahun 2022, Desa Grobogan menjadi salah satu wilayah yang mendapat bantuan untuk pengembangan kedelai dari Direktorat Aneka Kacang dan Umbi, Kementerian Pertanian. Rencana budidaya kedelai ini akan dilaksanakan pada musim kemarau. Namun petani sudah lama meninggalkan komoditas ini, sehingga perlu ada pendampingan dan bimbingan teknis (bimtek) untuk kembali meningkatkan ilmu dan semangat petani.

Pelaksanaan kegiatan bimtek oleh Balitkabi pada 31 Maret 2022 di Desa Grobogan disambut baik oleh Dinas Pertanian Kabupaten Madiun dan PPL di Kecamatan Jiwan. Hal ini karena bertepatan dengan rencana tanam kedelai pada pertengahan tahun 2022 dengan luasan 100 ha, dan rencana bimtek yang juga akan diselenggarakan oleh BPP Kecamatan Jiwan sebagai bekal dalam pembudidayaan kedelai. Hadirnya pemulia kedelai Balitkabi Ir. Suhartina, M.P. dan Dr. Ayda Krisnawati serta perwakilan Balitkabi Dr. Rudi Iswanto S.P., MP. dan Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom. serta tim bimtek, sangat diapresiasi dan disambut baik oleh Dinas Pertanian, penyuluh, dan petani.

Sambutan mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan oleh Pratiwi Evi, S.P. (kiri), sambutan mewakili Plt. Kepala Balitkabi oleh Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom. (kanan)

Sambutan mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan oleh Pratiwi Evi, S.P. (kiri), sambutan mewakili Plt. Kepala Balitkabi oleh Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom. (kanan)

Dalam sambutannya mengawali acara bimtek Penguatan Komoditas Pangan Berbasis Aneka Kacang dan Umbi di rumah Ketua Kelompok Tani Dadi Rukun III, Pratiwi Evi, S.P. selaku Sub Koordinator tanaman aneka kacang dan umbi (akabi) menyampaikan bahwa kebutuhan kedelai di Indonesia saat ini berada di angka tiga juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai dua ratus ribu ton saja. Harapannya, semoga kegiatan bimtek ini dapat menggairahkan kembali petani.

“Mari kita menanam kedelai, harga saat ini lumayan bagus. Saat ini kebutuhan kedelai di luar negeri tinggi, sehingga impor pun dibatasi”, ujar Pratiwi Evi. Ditambahkannya lagi bahwa Kabupaten Madiun akan mendapat bantuan kedelai dan saprodi, dan diusahakan pada bulan Mei sudah turun dan bulan Juni segera tanam. “Mari kita bersama-sama tanam kedelai. Kita tidak mungkin impor terus, karena kualitas hasil kedelai kita lebih baik dibanding kedelai impor”, pungkasnya.

Bambang Sri Koentjoro, S.P., M.Kom. menyampaikan bahwa minat tanam dan luasan lahan kedelai merosot, karena adanya alih fungsi lahan. Kedelai merupakan tanaman pokok yang sulit ditinggalkan masyarakat Indonesia. Hal ini yang menyebabkan kebutuhan meningkat, sedangkan kita hanya mampu menghasilkan dua ratus ribu saja. “Informasi dari salah satu ketua kelompok tani, bahwa produksi kedelai saat ini di Desa Grobogan hanya 1 – 1,5 t/ha. Balitkabi Balitbangtan sudah menghasilkan varietas unggul baru dan teknologi budidaya kedelai dengan potensi hasil tinggi bisa di atas 2,5 t/ha. Melalui kesempatan pemaparan narasumber hari ini, sekiranya bisa memperkenalkan inotek yang bisa mendukung pengembangan varietas oleh petani Desa Grobogan”, ucap Koentjoro.

Diskusi berjalan dengan lancar dan aktif, baik dari Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Koordinator BPP Kecamatan Jiwan, Ketua Kelompok Tani Dadi Rukun I, II, dan III maupun petani. Mengawali paparannya, Ayda memperkenalkan tentang pengembangan produk berbahan baku kedelai.  Saat ini, konsumsi kedelai di luar negeri sangat pesat. Berbagai olahan dihasilkan dari bahan baku tempe dan banyak digemari dengan menyesuaikan menu internasional. Selanjutnya juga dikenalkan terkait varietas unggul baru (VUB) kedelai yang dihasilkan Balitkabi Balitbangtan. Hingga saat ini, jumlah varietas unggul kedelai yang telah dilepas adalah sebanyak 114 varietas.

Peserta bimtek dan Tim Balitkabi

Peserta bimtek dan Tim Balitkabi

Suhartina menyampaikan terkait teknologi rakitan Balitkabi Balitbangtan yang sesuai dengan 4 tipe lahan yang berbeda. Suhartina menjelaskan lebih rinci terkait budiaya di lahan sawah setelah padi yang sesuai dengan kondisi di wilayah ini. Untuk budidaya di lahan sawah, hampir semua varietas kedelai sesuai untuk digunakan, namun yang penting adalah kualitas benihnya baik dan daya tumbuh > 85%. Tanam kedelai setelah padi dapat dilakukan tanpa olah tanah, dengan saluran drainase 3-4 m (tergantung kondisi lahan). Hal yang penting untuk diperhatikan adalah kebutuhan pupuk, yakni 100-150 kg Phonska/ha pada lahan subur, dan 200-300 kg Phonska/ha pada lahan kurang subur. Menutup paparannya, Suhartina menekankan “Jika tipe lahan sawah, tapi teknologi yang diterapkan tidak sama seperti yang sudah dirakit untuk lahan sawah, maka hasilnya tentu tidak akan optimal. Mari kita gunakan varietas unggul dan teknologi yang sesuai agar produksi kedelai dapat optimal”, pungkasnya.

EU/AK/DSB