Berita » Mentan Mengajak Akademisi Berkontribusi Perkuat Ketahanan Pangan di Era New Normal

patpi2

Mentan RI Dr. Syahrul Yasin Limpo dalam Webinar Pangan di Era New Normal

Pandemi virus COVID-19 berdampak luas pada berbagai sektor termasuk ketahanan pangan. Sektor pertanian bertanggungjawab terhadap pasokan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia. Hal itu ditegaskan oleh Mentan Dr. Syahrul Yasin Limpo dalam Webinar yang diselenggarakan Fakultas Teknologi Pertanian UGM bekerja sama dengan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Pusat dan PATPI Cabang Yogyakarta, akhir Juni 2020.

Menteri Pertanian mengatakan pemerintah memerlukan dukungan dari akademisi dalam riset dan sains untuk menghasilkan inovasi dan teknologi terbaik yang dapat digunakan untuk merumuskan langkah-langkah penting berkaitan dengan ketahanan pangan serta memastikan sektor pertanian tetap berjalan untuk menjamin ketersediaan pangan negeri ini.

Menurut Syahrul dalam kondisi seperti ini diperlukan peran serta dari semua pihak untuk menyiapkan kebutuhan pangan rakyat, apalagi adanya peringatan FAO akan bahaya terjadinya krisis pangan dunia. Perguruan tinggi harus turun mulai awal, dibutuhkan diskusi antara pemerintah dengan perguruan tinggi dan riset diharapkan yang bernilai dan aplikatif di masyarakat.

Menteri Pertanian menyampaikan bahwa Kebutuhan beras nasional hingga desember 2020 cukup terkendali dan cukup aman. Dari prognosa produksi dan kebutuhan beras nasional tahun 2020, yang hingga Agustus diperkirakan memiliki stok akhir sebesar 8.742.222 ton. Sementara pada periode September – Desember, diperkirakan produksi sebesar 7.360.034 ton dan kebutuhan 9.989.140 ton sehingga pada akhir tahun stok akhir diperkirakan masih ada sebanyak 6.113.117 ton.

Program peningkatan ketersediaan pangan diantaranya peningkatan kapasitas produksi (percepatan tanam padi MT II), diversifikasi pangan lokal satu komoditas utama tiap provinsi, pemanfaatan pangan lokal secara masif (ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan sorgum), program pekarangan pangan lestari (P2L), penguatan cadangan dan sistem logistik pangan, serta pengembangan pertanian modern ( smart farming, screen house, food estate, pengembangan koorporasi petani).

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari, menyampaikan gambaran kondisi gizi di Indonesia yang saat ini masih mengalami triple burden permasalahan gizi, yaitu stunting, wasting dan overweight. Salah satu indikator yang dinilai mengkhawatirkan adalah tingkat stunting yang cukup tinggi mencapai 30,8 persen di tahun 2018 dan turun menjadi 27,67 persen di tahun 2019. Jumlah ini masih melampaui batas ambang yang ditetapkan WHO.

Masa pandemi yang masih berlanjut mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat terutama terhadap kebutuhan pangan. Hal ini berdampak pada terganggunya ketersediaan pangan di rumah tangga baik secara kuantitas maupun kualitas. Apalagi data sebelum pandemi menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum memenuhi gizi seimbang karena konsumsi pangan hewani, buah, dan sayur yang masih rendah.

Menurut Kirana, masyarakat perlu didorong untuk mengkonsumsi pangan beraneka ragam termasuk pangan fungsional dalam pola konsumsi sehari-hari. Pangan lokal diketahui memiliki manfaat terhadap penurunan resiko penyakit (ikan), kandungan Imuno competen (makanan fermentasi) dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, kandungan gingerol (jahe) dapat mengurangi peradangan, juga polifenol kopi dapat penangkal radikal bebas.

Perlu kajian ilmiah pangan lokal Indonesia untuk diklaim menjadi pangan fungsional dan perlunya pemberian informasi kandungan dan manfaat pangan fugsional yang tepat kepada masyarakat. Untuk itu perlu kerjasama antara pemerintah dan Perguruan Tinggi.

Dekan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani M.Sc menyambut baik hal itu dengan menegaskan jika pangan lokal memiliki prospek tinggi dalam mendukung penyediaan nutrisi pangan fungsional (sumber serat pangan dan probiotik, indeks glikemik rendah, dan kandungan zat gizi yang tinggi misalnya dari produk komoditas aneka umbi seperti ubi jalar, bengkoang, porang, gembili dan garut). Dalam pengembangannya pangan lokal memanfaatkan keanekaragaman hayati, memerlukan sosialisasi dan edukasi, dukungan pemerintah, teknologi dan upaya promosi, pendampingan bagi industri pangan lokal, serta dukungan riset dan inovasi teknologi yang akhirnya dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan petani dan perekonomian lokal.

Hal senada disampaikan Rektor Universitas Gadjah Mada Prof.Dr.Ir. Panut Mulyono M.Eng., D.Eng.,IPU, ASEAN yakni perlunya membangun kerjasama yang kuat antara pemerintah, akademisi, industri atau pelaku usaha, media dan masyarakat. Pemerintah berperan dalam menentukan arah kebijakan, fleksibilitas regulasi dan pendanaan, akademisi mendukung dalam ide, pelaksanaan, dan inovasi riset, industri bersama akademisi dan lembaga riset lainnya turut menentukan objek riset untuk kebutuhan industri dan dukungan pendanaan riset, sedangkan media mempromosikan dan membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap produk-produk lokal.

Dari sisi riset nasional Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU menyampaikan penguatan sumber daya riset dan inovasi untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan pada masa dan pasca pandemi melalui inovasi pangan lokal itu sangat perlu untuk memperkuat kompetitif, produsen harus aktif menemukan teknologi inovatif, mempertimbangkan dengan sungguh sungguh fakta bisnis, inovasi harus memperbaiki pangan lokal serta pentingnya menumbuhkan rasa kecintaan pangan sejak usia dini.
EU