Berita » Menyiapkan Center of Excellence Kedelai

pui

Indeks daya saing Indonesia menurut Global Competitiveness Index (GCI) yang dimuat dalam The Global Competiveness Report 2010–2011 yang diterbitkan oleh World Economic Forum pada tahun 2010, menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat 44 dari 139 negara. Salah satu dari 12 pilar daya saing yang diukur adalah daya inovasi suatu bangsa, yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-36. Menurut laporan tersebut, daya inovasi Indonesia terkendala oleh kapasitas inovasi nasional yang masih rendah (menempati peringkat ke-30); kolaborasi antara universitas, litbang, dan industri yang masih perlu dibangun (peringkat ke-38); dan penggunaan paten sebagai alat perlindungan hak cipta penemu dan sekaligus alat untuk diseminasi teknologi yang perlu dibangun lebih baik (peringkat ke-89). Kendala lain yang penting adalah dukungan pemerintah dalam bentuk pembelian teknologi canggih hasil litbang dalam negeri (government procurement of advanced technology product) yang masih rendah, yaitu hanya menempati peringkat ke-30. Inovasi sebagai bagian penting dari Balitbangtan perlu untuk berpartisipasi dalam program yang diinisiasi oleh Kemenristek yaitu Pusat Unggulan (Center of Excellence) IPTEK (PUI). PUI merupakan suatu organisasi baik berdiri sendiri maupun berkolaborasi dengan organisasi lainnya (konsorsium) yang melaksanakan kegiatan-kegiatan riset spesifik secara multi dan interdisiplin dengan standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan pengguna iptek. Untuk menyiapkan PUI dilingkup Puslitbangtan, dilakukan workshop 15–17 Mei 2014 di Bogor, yang diikuti oleh seluruh UPT lingkup Puslitbangtan. Kepala Balitkabi, Dr. Didik Harnowo, didampingi oleh Ketua Program (Prof. Dr. Arief Harsono) dan pemulia kedelai (Dr. Muchlish Adie, MS) hadir pada pertemuan tersebut. Workshop dibuka dan dipimpin oleh Kepala Bidang Program dan Evaluasi Puslitbangtan (Dr. I N. Widiarta).

Workshop penyiapan PUI di BogorSejak 2008, Balitbangtan telah membentuk Konsorsium Tanaman Pangan dan salah satunya adalah Konsorsium Kedelai Nasional, yang diikuti oleh berbagai lembaga penyelenggara pemuliaan baik dari Balitbangtan, perguruan tinggi dan LPNK (Pair Batan). Konsorsium tersebut dapat dijadikan pegangan untuk membentuk PUI. Kepala Balitkabi mengusulkan PUI Pusat Riset Kedelai, dan topik tersebut setelah mendapatkan pembahasan disepakati untuk disiapkan usulan untuk penetapan Balitkabi sebagai salah satu PUI, disamping Pusat Riset Padi dan Pusat Riset Serealia. Kelayakan penetapan sebagai PUI akan dievaluasi internal Balitbangtan dan secara khusus akan dinilai oleh Kemenristek. Kesiapan dan kerja keras jajaran Balitkabi diperlukan untuk memenuhi persyaratan PUI.Semoga berhasil!

MMA/AW