Berita ยป Menyiapkan Kebutuhan Benih Kedelai

menyiapkan-kebutuhan-benih-

Swasembada kedelai sudah berada diambang pintu. Upaya peningkatan produksi, perluasan areal tanam, dan yang tidak kalah penting adalah penyediaan benih kedelai secara nasional, terus dipacu dan diperkuat. Untuk mendapatkan gambaran kesiapan penyediaan benih sumber kedelai dari Badan Litbang Pertanian; Ir. Heni Rayhani Jusuf, MM dari Badan Benih Nasional (BBN); berdiskusi dengan Kepala Balitkabi, Prof. Dr. Marwoto, Ruly Krisdiana, MS, M. Anwari MS serta Dr. Titik Sundari, di Balitkabi, 6 Desember 2012.

Menggelitik yang disampaikan oleh Ibu Heni, kita sering koordinasi perbenihan, sudah banyak menandatangani nota kesepahaman tentang perbenihan, tetapi mana action nyata di lapang. Apalagi Permentan 55 akan berakhir dalam beberapa hari lagi. Apa yang harus kita siapkan ke depan untuk memperkuat swasembada kedelai, untuk mendorong stake holder kedelai. Polanya seperti apa dan yang penting bagaimana penyediaan benihnya. Berbagai isyarat itulah yang ingin diperoleh oleh beliau sehingga perlu mengunjungi Balitkabi.


Ir. Heni Rayhani Jusuf, MM dari BBN, berkunjung ke Balitkabi dandan berdiskusi tentang benih kedelai diUPBS Balitkabi

Kepala Balitkabi menyampaikan bahwa Badan Litbang Pertanian berkomitmen tinggi terhadap penyediaan benih sumber, termasuk kedelai. Keberadaan UPBS diperkuat, tujuannya untuk mencegah atau mengurangi ketidaktersediaan benih sumber di lapang. Bahkan dalam agenda Pencanangan Tanam Kedelai di Aceh Timur, Badan Litbang Pertanian akan membantu benih FS kedelai sebanyak 7,5 ton. M. Anwari MS juga menyampaikan masih belum sinkronnya antara rapat koordinasi perbenihan yang telah menetapkan kebutuhan benih namun pada kenyataannya banyak benih kedelai yang belum diambil oleh BBI. Bahkan, Dr. Titik Sundari, menyarankan masih perlu percepatan keluarnya label benih, sehingga benih tidak keburu mati labelnya. Ruly Krisdiana MS, menyampaikan dari sisi ekonomi kedelai, dua pilihan, meningkatkan produksi atau meningkatkan harga jual. Survei yang dilakukan memang membuktikan misalnya di Jatim, kedelai akan kompetitif dengan jagung jika produksinya mencapai 2,1 t/ha, ditambahkan juga dari hasil pengamatan lapang penangkar benih kedelai di Sulsel cukup mapan dan perlu mendapatkan perhatian. Prof. Marwoto menyampaikan perlunya kuota luas tanam dan produksi pada setiap provinsi, fokuskan pada sentra produksi kedelai di Indonesia.

Rencana Pencanangan Tanam Kedelai di Aceh Timur, justru menarik bagi BBN, karena penguatan benih dari Badan Litbang Pertanian. BBN justru berposisi sebagai mediator antara Balit penghasil benih sumber dengan Direktorat Buakabi. Benih bantuan dari Badan Litbang Pertanian, akan dipantau dan dikawal oleh BBN. Ibu Heni juga memperkuat perlunya dibuat matriks seluruh pemangku kepentingan, sehingga dapat dipetakan siapa melakukan apa dan kapan akan dilakukan. Perlu dukungan kita semua.

MMA/EY/AW